Label

Jumat, 16 Oktober 2015



Kemilau Tokoh Salafiy
Al Muhaddits Muqbil Al Wadi’iy
Dan Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy

Dengan Pengantar:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhliy Al Ba’daniy –semoga Alloh menjaganya-

Penulis dan penerjemah:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Qudsiy Ath Thuriy –semoga Alloh memaafkannya



Judul Asli:
“Tadzkirul ‘Ibad ‘Ala Ahliyyatil ‘Alamain Al Wadi’iy Wal Hajuriy Lil Ijtihad
Wa Baroatuhuma Min Juhaiman Wa Jama’atil Fasad”

Terjemah Bebas:
“Kemilau Tokoh Salafiy: Al Muhaddits Muqbil Al Wadi’iy, dan Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy”

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:
Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy –semoga Alloh menjaganya-

Dengan Pengantar:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam
Al Fadhliy Al Ba’daniy –semoga Alloh menjaganya-

Penulis dan penerjemah:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:
Saya telah melihat kitab saudara kita yang mulia, penyeru ke jalan Alloh –‘Azza Wajalla-: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy yang dinamai dengan: “Tadzkirul ‘Ibad ‘Ala Ahliyyatil ‘Alamain([1]) Al Wadi’iy Wal Hajuriy Lil Ijtihad Wa Baroatuhuma Min Juhaiman Wa Jama’atil Fasad” maka saya melihat bahwasanya kitab ini adalah kitab yang memberikan faidah, di dalamnya ada pembelaan untuk para pembawa kebenaran dan pemikul sunnah, yaitu: Al Imam Al ‘Allamah Syaikhuna Muqbil Al Wadi’iy, dan Al Imam Al ‘Allamah Syaikhuna Yahya Al Hajuriy.
Dan ini adalah kewajiban kita di hadapan para ulama kita untuk kita membela mereka dengan benar, karena sungguh para pelaku kebatilan itu jika ingin menjatuhkan kebenaran, mereka berupaya untuk menjatuhkan para pemikul kebenaran tersebut agar menjadi mudahlah bagi mereka untuk mewujudkan cita-cita mereka tadi. Akan tetapi Alloh tidak mau kecuali menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membenci.
Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abu Fairuz dengan kebaikan, dan memberikan manfaat dengannya Islam dan Muslimin.
Ditulis oleh:
Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy
Pada hari Kamis, tanggal 17 Rojab 1433 H




Pengantar Penulis

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:
               Maka sesungguhnya kedudukan seorang ulama di tengah umat ini adalah seperti kedudukan bintang-bintang di langit yang dengannya mereka mengambil petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Alloh عز وجل mempergunakan para ulama untuk menunjuki para hamba dari kesesatan, menyinari mereka, mengajari mereka dari kebodohan, dan menghidupkan hati-hati mereka setelah kematian hati, dengan seidzin Robb mereka تبارك وتعالى. Dan dengan perantara ulama itulah Alloh menyelamatkan umat dari tipu daya setan dari kalangan manusia dan jin.
            Robb kita  berfirman:
﴿وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُون﴾ [النحل: 16].
Dan dengan bintang-bintang itu mereka mendapatkan petunjuk.
Maka para ulama mengingatkan manusia agar tidak tertipu dengan syubuhat para ahli batil dan syahwat dunia:
﴿وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ الله خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُون﴾ [القصص/80]
“Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata (kepada orang-orang yang terpedaya oleh Qorun): Celaka kalian, pahala Alloh itu lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal sholih, dan tidak ada yang mendapatkannya kecuali orang-orang yang sabar.”
            Al Imam Al Ajurriy رحمه الله berkata tentang keadaan ulama: “Maka mereka adalah pelita para hamba, mercusuar negri, dan mata air hikmah. Mereka adalah penyebab marahnya setan. Dengan sebab mereka hidupnya hati-hati ahlul haq, dan matinya hati-hati para penyeleweng. Permisalan mereka di bumi seperti permisalan bintang di langit, diambil petunjuknya dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika bintang-bintang tadi terhapus, mereka jadi kebingungan, dan jika kegelapan telah pergi darinya, merekapun bisa melihat.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Ajurriy/hal. 10/Darul Atsar).
            Maka dengan sebab inilah para musuh menggencarkan serangan kepada mereka siang dan malam, mencurahkan kerja keras mereka untuk membuat kedustaan atas nama ulama, dan menanamkan kebencian di hati-hati manusia agar mereka lari dari sekeliling ulama. Alloh تعالى berfirman tentang Fir’aun:
﴿إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ﴾  [غافر/26]
“Sungguh aku takut dia (Musa) akan mengganti agama kalian atau menampakkan kerusakan di bumi.”
Juga berfirman tentang para pembesar Fir’aun:
﴿قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى﴾ [طه/63]
“Mereka berkata: sungguh dua orang ini (Musa dan Harun) benar-benar dua tukang sihir yang ingin mengeluarkan kalian dari tanah kalian dengan sihir keduanya, dan menghilangkan jalan agama kalian yang bagus.”
Dan Alloh berfirman pada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم :
﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِين﴾ [النحل: 103].
“Dan sungguh Kami mengetahui bahwasanya mereka itu berkata: “Yang mengajarinya itu hanyalah seorang manusia.” Padahal lidah orang yang mereka itu menyeleweng kepadanya itu adalah a’jamiy (bukan lidah arob), sementara Muhammad (atau Al Qur’an) ini adalah lidah arob yang jelas.”
            Dan ini adalah termasuk metode para mubtadi’ah untuk menghantam para Salafiyyin dan imam-imam mereka. Sholih bin Imam Ahmad telah menyebutkan sebagian perkara yang berlangsung di zaman Al Mutawakkil ‘Alalloh: “… kemudian ada seseorang yang menyampaikan berita para Al Mutawakkil: “Bahwasanya Ahmad sedang menyimpan seorang keturunan Ali di rumahnya, dia ingin mengeluarkannya dan membai’atnya.”
            Sholih berkata: “Dan kami tidak tahu apa-apa. Pada suatu malam ketika kami sedang tidur di musim panas, kami mendengar kegaduhan, kami melihat banyak api di rumah Abu Abdillah, maka kami bergegas datang. Ternyata beliau sedang duduk dengan memakai sarung, dengan si Muzhoffar ibnul Kalbiy –sang reserse- dan sekelompok orang bersama mereka. Maka sang reserse membaca surat Al Mutawakkil: “Telah datang pada Amirul Mukminin berita bahwasanya di sisi kalian ada seorang keturunan Ali yang engkau sembunyikan untuk engkau bai’at dan engkau munculkan –dalam pembicaraan yang panjang-.“
Lalu Muzhoffar berkata pada beliau: “Apa jawabmu?” Al Imam Ahmad menjawab: “Saya tidak tahu sedikitpun tentang hal ini. Dan sungguh saya benar-benar berpendapat untuk mendengar dan taat pada Amirul Mukminin, dalam suasana sulit dan mudah, juga dalam keadaan semangat ataupun tidak suka, dan dalam kondisi dizholimi. Dan sungguh saya itu benar-benar berdoa di siang dan malam pada Alloh agar memberikan kelurusan dan taufiq pada beliau.” Beliau berbicara panjang.
Maka Muzhoffar berkata: “Amirul Mukminin memerintahkan padaku untuk menyumpahmu.” Maka Al Imam Ahmad bersumpah dengan talaq tiga, bahwasanya tidak ada di sisi beliau buronan Amirul Mukminin. Kemudian mereka memeriksa tempat tinggal Abu Abdillah, gang-gang, kamar-kamar, atap-atap, dan memeriksa peti-peti kitab, juga memeriksa para wanita dan tempat tinggal, tapi mereka tidak melihat sesuatu apapun, dan tidak merasakan keganjilan sedikitpun. –sampai pada ucapan beliau:- dan berita itu disampaikan pada Al Mutawakkil, sehingga Abu Abdillah mendapatkan posisi bagus di hati Al Mutawakkil dan tahulah dia bahwasanya ada yang berdusta terhadap Abu Abdillah. Yang menyusupkan berita terhadap beliau adalah seseorang dari ahli bida’. Dan tidaklah orang itu mati sampai Alloh menjelaskan urusannya kepada muslimin, dan dia itu adalah Ibnuts Tsaljiy.” (“Siyar A’lamin Nubala”/11/hal. 266-267/Ar Risalah).
Di dalam kitab “Mihnatul Imam Ahmad” karya Al Imam Al Maqdasiy رحمه الله (hal. 107/Maktabatul Hadyil Muhammadiy): “Setelah dua hari berlalu, datanglah surat dari Ali ibnul Jahm: Sesungguhnya Amirul Mukminin telah shohih di sisi beliau bersihnya dirimu dari tuduhan dusta. Selama ini ahlul bida’ telah menjulurkan leher-leher mereka. Maka alhamdulillah yang tidak membuat mereka senang dengan musibah dirimu…”
            Demikian pula para ahli batil merendahkan kedudukan ulama sunnah agar manusia tidak mengambil faidah dari ilmu-ilmu dan mereka dan nasihat-nasihat mereka. Alloh تعالى berfirman tentang kisah kaum ‘Ad:
﴿قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ﴾ [الأعراف: 66]
“Para pembesar yang kafir dari kaumnya: sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam ketololan, dan sungguh kami benar-benar menyangka dirimu termasuk dari para pendusta.”
Alloh  berfirman menukilkan ucapan Fir’aun:
﴿أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِين﴾ [الزخرف: 52].
“Ataukah diriku lebih baik daripada orang yang hina dan hampir-hampir tak bisa memberikan penjelasan ini?”
            Dan di antara tuduhan sebagian ahli batil terhadap Al Imam Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله adalah bahwasanya beliau punya pemikiran khowarij, dan beliau punya hubungan dengan gerakan Juhaiman Al Khorijiy([2]). Sebagian ikhwah telah menanyai saya tentang hubungan Al Imam As Salafiy رحمه الله ini dengan gerakan Juhaiman Al Khorijiy.
Sebagian orang juga merendahkan kedudukan beliau bahwasanya beliau belum mencapai derajat fuqoha mujtahidin.
Kemudian pengganti beliau: syaikh kami Al ‘Allamah Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله juga tidak selamat dari tuduhan memiliki pemikiran khowarij.
Beliau juga diremehkan dan dianggap belum mencapai tingkatan fuqoha mujtahidin. Dan sebagian mereka berusaha membuat orang merasa tidak perlu pada beliau dengan berdalilkan hadits:
«البركة مع أكابركم».
 “Keberkahan itu bersama orang-orang besar kalian.”
            Untuk orang yang belum mengenal nilai kedua imam ini, dia perlu diajari dan diperlakukan dengan sabar([3]), karena kebodohan terhadap suatu perkara itu terkadang menjadi sebab dibencinya perkara tadi, sebagaimana ilmu tentang kebagusan suatu perkara menjadi sebab dicintainya perkara tadi. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan rasa cinta itu mengikuti kadar pengetahuan.” (“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 56).
            Adapun orang dari kalangan pengekor hawa nafsu, maka sifat mereka adalah sifat mu’anidin (para pembangkang), maka kita berpaling saja dari mereka. Alloh تعالى berfirman:
﴿فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى﴾ [النجم: 29، 30].
“Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Demikian itu adalah puncak dari ilmu mereka. Sesingguhnya Robbmu itulah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia juga lebih mengetahui tentang orang yang mengikuti petunjuk.”
            Tidaklah perkataan yang batil terhadap kedua imam tadi itu membahayakan keduanya, akan tetapi sudah menjadi kewajiban bagi orang yang tahu kebenaran untuk membela kebenaran dan membela para pembawanya, sesanggupnya. Dan saya ingin untuk menjelaskan buat umat Islam dengan penjelasan ringkas tentang keimaman kedua syaikh tadi Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله, dalam bidang ilmu dan sunnah, kedudukan keduanya di sisi ulama Salafiyyin, bagusnya jejak keduanya di umat ini, dan berlepasdirinya keduanya dari gerakan Juhaiman secara khusus, dan seluruh khowarij secara umum.
Dan akan saya akan menyebutkan penjelasan yang memuaskan –dengan seidzin Alloh- tentang hadits: “Keberkahan ini bersama orang-orang besar kalian.”.
Dan saya bersyukur kepada Fadhilatusy Syaikhina Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله ورعاه atas pemeriksaan beliau terhadap risalah ini dan pelurusan ungkapan-ungkapannya.
Dan saya juga bersyukur kepada Fadhilatusy Syaikhina Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhliy Al Ba’daniy حفظه الله ورعاه atas perhatian beliau dan bantuan beliau untuk memperbagus risalah ini.
Sekarang kita masuk ke pembahasan:




Bab Satu: Biografi Singkat Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله

            Sesungguhnya penelusuran jalan hidup seseorang itu penting sekali dalam menyingkap hakikat keadaan dan aqidah dirinya. Maka berikut ini biografi ringkas yang indah dari Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang menunjukkan keimaman beliau dalam kebaikan.

Nasab beliau:

Beliau adalah Al Imam Al ‘Allamah Al Muhaddits Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi bin Qoyidah Al Hamdaniy Al Wadi’iy Al Yamaniy.

Tahapan beliau dalam menuntut ilmu:

Al Imam رحمه الله memulai menuntut ilmu di Al Maktab hingga menyelesaikan masa belajar di situ, kemudian beliau pergi ke masjid Al Hadi, tapi beliau tidak terbantu untuk menuntut ilmu. Sekian lama setelah itu beliau pergi ke Tanah Suci dan Najd, lalu minta nasihat pada sebagian pemberi nasihat tentang apa sajakah kitab-kitab yang berfaidah untuk beliau beli? Maka sang penasihat membimbing beliau untuk membeli “Shohihul Bukhori”, “Bulughul Marom”, “Riyadhush Sholihih” dan “Fathul Majid”. Ketika itu beliau رحمه الله bekerja sebagai penjaga gedung di Hajun. Lalu beliau tekun membaca kitab-kitab tadi. Dan kitab-kitab tadi menempel di benak beliau karena praktek amalan di negrinya berlainan dengan apa yang ada di dalam kitab itu, terutama “Fathul Majid”.
Selang waktu kemudian beliau pulang ke negrinya, dan mulai mengingkari perkara-perkara yang beliau dapati ada di masyarakat seperti penyembelihan untuk selain Alloh, pembangunan kubah di atas kuburan, seruan kepada orang mati, dan minta bantuan pada orang mati. Maka berita itu sampai kepada orang syi’ah sehingga membuat mereka marah. Di antara mereka ada yang berkata: “Barangsiapa menukar agamanya, maka bunuhlah dia.” Dan di antara mereka ada yang mengirim utusan pada kerabatnya dan berkata: “Jika kalian tidak menghalanginya maka kami akan memenjarakannya.” Setelah terjadi berbagai tekanan, mereka membuat ketetapan yang tidak bisa dielakkan oleh beliau yaitu: mereka menetapkan untuk memasukkannya ke “Jami’ul Hadi.”
Manakala beliau mendapati bahwasanya kitab-kitab yang diajarkan itu tidak berfaidah selain “Nahwu”, dan beliau melihat bahwasanya kitab-kitab yang ditetapkan itu beraliran syi’ah mu’tazilah, beliau رحمه الله berkonsentrasi pada ilmu “Nahwu”. Beliau sering menasihati seorang pengajar mereka yang bernama Muhammad bin Hauriyyah untuk meninggalkan ramalan bintang, tapi orang ini menolak dan bahkan dia menasihati para pengelola universitas ini untuk mengusir Asy Syaikh Muqbil رحمه الله, tapi orang-orang memberikan syafa’at untuk beliau.
Ketika terjadi pemberontakan kaum republik, beliau رحمه الله dan keluarganya meninggalkan negrinya dan tinggal di Najron. Beliau tekun menyertai syaikh beliau Abul Husain Majduddin Al Muayyad hingga beliau mengambil faidah darinya terutama ilmu bahasa Arob. Beliau tinggal di situ sekitar dua tahun, kemudian pergi ke Tanah Suci dan Najd. Beliau tinggal di Najd sekitar satu setengah bulan di Madrosah Tahfizhil Qur’an dibawah pengelolaan Asy Syaikh Muhammad bin Sinan Al Hadaiy رحمه الله. Syaikh ini sangat memuliakan beliau dikarenakan melihat beliau sangat bisa mengambil faidah ilmu.
Kemudian beliau berangkat ke Mekkah. Jika mendapatkan pekerjaan, beliau bekerja, dan menuntut ilmu di malam hari, hadir di majelis ta’lim Asy Syaikh Yahya bin Utsman Al Bakistaniy pada pelajaran “Tafsir Ibnu Katsir”, “Shohihul Bukhoriy” dan “Shohih Muslim”. Beliau juga belajar syaikh yang mulia dan tinggi ilmunya: Hakim Yahya Al Asywal Al Yamaniy di pelajaran “Subulussalam” dan yang lainnya. Beliau juga belajar syaikh yang mulia dan tinggi ilmunya: Abdurrozzaq Asy Syahidziy Al Mahwitiy, di sebagian kitab-kitab yang beliau minta untuk diajarkan.
Ketika Ma’hadul Haromil Makkiy dibuka, beliau masuk ke situ dan belajar di sebagian masyayikh yang terkemuka seperti: Asy Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Humaid, dan demikian pula Asy Syaikh Muhammad As Subayyil.
Setelah beliau menetap di ma’had itu, berangkatlah beliau ke Najron untuk mengambil keluarganya, kemudian beliau tinggal di Makkah sepanjang masa belajar di Ma’had itu selama enam tahun. Beliau belajar di antara waktu maghrib dan ‘Isya kepada Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Rosyid An Najdiy. Dan belajar ke Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ash Shoumaliy sekitar enam bulan, syaikh ini merupakan ayat Alloh dalam mengenal para rowi “Shohihain”. Beliau mengambil faidah yang banyak dari syaikh tadi dalam ilmu hadits.
Kemudian beliau pindah ke Madinah ke Al Jami’atul Islamiyyah di kuliah Da’wah Wal Ushuluddin. Dan termasuk syaikh beliau yang paling menonjol adalah Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Al Hakim Al Mishriy, Asy Syaikh Mahmud Abdul Wahhab Faid Al Mishriy. Dan pada musim liburan beliau masuk ke kuliah syari’ah, sehingga beliau رحمه الله menyelesaikan dua kuliah dan diberi dua ijazah. Beliau رحمه الله berkata: “Dan aku dengan pujian kepada Alloh tidaklah diriku peduli dengan dua ijazah itu. Yang terpandang di sisiku adalah ilmu.”
Dan pada tahun itu dibukalah di universitas itu pendidikan tinggi yang dinamakan dengan Majister. Maka beliau masuk ke pendidikan itu, yang mengkhususkan pada bagian ilmu hadits. Dan Asy Syaikh Muhammad Al Amin Al Mishriy, Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Al Hakim Al Mishriy, Asy Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshoriy. Dan di sebagian malam beliau menghadiri pelajaran Al Imam Abdul ‘Aziz ibnu Baz di Al Haromul Madaniy dalam “Shohih Muslim”, juga pelajaran Al Imam Al Albaniy dalam majelis-majelis beliau yang khusus untuk para pelajar untuk mengambil faidah.

Dakwah Beliau di Saudi:

Sejak beliau tinggal di Al Haromil Makkiy beliau senantiasa mengajari sebagian penuntut ilmu kitab “Qothrun Nada”, dan “At Tuhfatus Saniyyah”. Di Madinah beliau mengajari para penuntut ilmu kitab “At Tuhfatus Saniyyah”, dan di rumahnya beliau mengajarkan “Jami’ut Tirmidziy”, “Qothrun Nada” dan “Ba’itsul Hatsits”. Maka tersebarlah dakwah yang besar di Madinah sepanjang enam tahun itu, yang dilaksanakan oleh beliau dan sebagian rekan beliau. Dan berlangsunglah safari dakwah di seluruh penjuru kerajaan Saudi, sehingga masyarakat bisa mengambil faidah dan mencintai dakwah.
Ketika fitnah Juhaiman dan gerombolannya menyala, pemerintah Saudi memerintahkan untuk memulangkan seluruh orang asing.
Ketika tiba di Yaman, pulanglah Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله ke desa beliau dan tinggal di sana sambil mengajarkan Al Qur’an pada anak-anak, dan menegakkan dakwah. Maka syi’ah dan para musuh Islam mulai menyerang beliau.
Pada suatu hari salah seorang pejabat memanggil beliau, maka masuklah beliau menemuinya disertai dengan Husain bin Qoid Majalli, lalu mulailah beliau bicara tentang syi’ah, dan menerangkan bahwasanya syaikh dan orang-orang yang bersama beliau itu mengajak orang kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan bahwasanya Syi’ah merasa dengki pada mereka dengan dakwah tadi, syi’ah takut akan munculnya kebenaran. Maka sang pejabat berkata: “Sesungguhnya syi’ah telah membuat hitam sejarah Yaman. Selama dakwah Anda adalah demikian tadi, maka teruslah berdakwah, kami bersama Anda.”
Setelah itu beliau رحمه الله tinggal di perpustakaan beliau. Dalam waktu sebentar tiba-tiba saja datang beberapa orang Mesir, maka beliau رحمه الله membuka pelajaran dari kitab-kitab hadits dan bahasa untuk mereka. Dan terus-menerus para pelajar berkunjung dari Mesir, Kuwait, Tanah Suci dan Najd, Aljazair, Libia, Somalia, Belgia, dan dari banyak negri Islam dan yang selainnya.

Semangat beliau untuk mengajari para muridnya dan keluarganya sendiri:

            Al Imam رحمه الله terus bersemangat dalam ilmu. Beliau sangat memperhatikan pendidikan. Beliau punya sejumlah pelajaran. Dulu beliau mengajarkan satu jam sebelum zhuhur kitab beliau “Ash Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain.” Seusai itu beliau mulai mengajarkan “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain.” Setelah sholat zhuhur beliau mengajarkan sehari “Tafsir Ibnu Katsir”, sehari kitab beliau “Ash Shohihul Musnad Min Asbabin Nuzul.” Seusai itu beliau menjadikan posisi kitab tadi dengan kitab “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain,” maka jadilah sehari “Tafsir Ibnu Katsir”, sehari “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain.”
            Setelah ashr beliau mengajarkan “Shohihul Bukhoriy”, setelah maghrib mengajarkan “Shohih Muslim” dan kitab beliau “Ahadits Mu’allah Zhohiruhash Shihhah”. Setelah selesai dari kitab itu, beliau mengajarkan kitab beliau “Ghorotul Fishol ‘Alal Mu’tadina ‘Ala Kutubil ‘Ilal”. Setelah selesai dari kitab itu, beliau mengajarkan kitab beliau “Dzammul Mas’alah” hanya saja beliau sering tidak hadir manakala penyakit beliau mulai parah. Kitab beliau semuanya beliau ajarkan bersama dengan “Shohih Muslim”. Setelah selesai dari kitab “Dzammil Mas’alah”, beliau mengajarkan kitab beliau “Ash Shohihul Musnad Min Dalailun Nubuwwah”, beliau jadikan sehari kitab itu dan sehari “Shohih Muslim”. Bersamaan dengan dua kitab ini beliau juga mengajarkan kitab “Al Mustadrok” dan kitab beliau “Ash Shohihul Musnad Fil Qodar”. Inilah dars Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang khusus di Darul Hadits.
            Jika beliau pindah ke rumah, beliau mengajari putri beliau Ummu Abdillah kitab “Qothrun Nada”, kemudian para istrinya membaca di hadapan beliau satu hadits dari kitab beliau “Dalailun Nubuwwah”. Beliau juga mengajari mereka imla (dikte). Beliau juga mengajari istri beliau Ummu Syu’aib “Al Mutammimah” sebelum tidur.

Tingginya kecerdasan, luasnya ilmu, dan kuatnya pemahaman:

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله jika berbicara dalam ilmu rowi seakan-akan beliau adalah pakarnya, sering mendatangkan faidah yang mengagumkan, dan terkadang ada di sebagian rantai sanad tercantum nama fulan bin fulan, maka beliau berkata: “Aku khawatir terjadi salah penulisan,” lalu dilakukan penelitian dan memang terjadi salah penulisan sebagaimana yang beliau katakan. Jika beliau diskusi dengan para murid tentang nahwu seakan-akan tidak ada orang lain yang ahli dalam bidang ini selain beliau dikarenakan banyaknya faidah yang beliau lontarkan dalam darsnya. Jika beliau berbicara tentang ‘ilal hadits, orang-orang yang di sekelilingnya tergoncang dengan kedalaman ilmunya. Jika datang pertanyaan, beliau menjawabnya, dan beliau itu cepat dalam mendatangkan dalil-dalil hingga orang-orang tergoncang akan kekuatan hapalan beliau. Beliau mendatangkan dalil-dalil dari Kitabulloh, dan dari Sunnah Rosul-Nya, menyusunnya dengan rapi, dan mengambil darinya faidah dan pelajaran yang mengagumkan padahal beliau itu tidak hapal Al Qur’an secara sempurna. Dan barangsiapa membaca buku beliau “Al Jami’ush Shohih” dia akan mengetahui fiqh beliau dari sela-sela judul bab yang dicantumkan, dan sebagaimana dikatakan: “Fiqh Al Bukhoriy ada pada judul bab-bab yang dicantumkan.”

Semangat berdakwah:

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله sangat bersemangat untuk berdakwah ke jalan Alloh, bersamaan dengan banyaknya kesibukan beliau untuk menulis dan mengajar. Beliau dulu mengarahkan para murid dan berkata pada mereka: “Janganlah kalian berkonsentrasi total pada ilmu sambil meninggalkan dakwah. Kalian harus berdakwah ke jalan Alloh dengan apa yang telah kalian pelajari.”
            Beliau beberapa kali keluar dakwah berkali-kali. Di sebagian tahun beliau keluar dan berpindah-pindah di banyak kota dan desa di Yaman, naik gunung-gunung dan turun ke lembah-lembah dan dataran rendah. Beliau sering disakiti oleh para musuh beliau dari jama’ah-jama’ah seperti Ikhwanul Muslimin, Jam’iyyatul Hikmah dan Jam’iyyatul Ihsan, ‘Ilmaniyyun (sekuler), shufiyyah dan yang lain. Tapi beliau tidak terputus dari dakwah beliau kepada Al Kitab dan As Sunnah. Seringkali sekumpulan besar orang menghadiri ceramah beliau hingga di sebagian acara ceramah masjid-masjid tidak mencukupi hadirin sehingga mereka menjadikan ceramah itu di lapangan sholat ‘Id.
            Beliau memperingatkan umat dari seluruh kemungkaran, baik itu syirik, kebid’ahan, hizbiyyah yang memecah-belah umat, dan yang lainnya. Beliau juga memberikan nasihat kepada para petani, pengajar, pejabat, para orang tua, anak-anak, para dokter, para pedagang, para wartawan dan pekerja.  Be’iau sangat bersemangat agar orang-orang itu mendapatkan hidayah, baik perorangan ataupun kelompok. Datang kepada beliau koresponden dari kantor berita London dan meminta beliau untuk berbincang-bincang dengannya, maka beliau berkata: “Bagaimana pendapatmu jika engkau masuk Islam dan aku akan berbincang-bincang denganmu?” beliau menasihatinya dan memintanya untuk masuk Islam, tapi orang itu tak mau. Maka beliaupun menolak berbincang-bincang dengannya. Orang itu tinggal beberapa hari menghadiri dars-dars dan ingin bisa berbincang-bincang dengan syaikh, sementara syaikh memintanya untuk masuk Islam. Beliau ingin sekali orang itu mendapatkan hidayah. Orang itu tinggal beberapa hari lalu pergi.
Beliau jika selesai dari ceramahnya berpindah ke rumah salah seorang ikhwah, maka orang-orang berkumpul di situ dan menyampaikan soal-soal pada beliau, lalu beliau menjawab soal mereka. Jika mereka telah pergi meninggalkan beliau, beliau membaca Al Qur’an jika masih ada semangat dan giat, tapi jika tidak (karena capek dengan rangkaian acara tadi) beliaupun tidur.

Semangat beliau pada para pelajar

            Beliau sangat bersemangat akan tercurahnya kebaikan pada para pelajar, dan bersedih dan merasa sakit jika beliau mengetahui bahwasanya para muridnya memperlukan sesuatu tapi mereka tak sanggup mendapatkannya. Beliau رحمه الله pernah berkata di sebagian darsnya: “Kesulitan terbesar yang menimpa diriku, lebih besar daripada menghadapi mubtadi’ah, dan lebih besar daripada karya tulis, adalah keperluan-keperluan para pelajar.”
            Beliau رحمه الله tak pernah bersikap pelit terhadap para murid dengan sesuatu apapun. Pernah beliau seusai dars zhuhur keluar dari rumah dengan membawa sepiring nasi dan bejana berisi susu, lalu beliau memberikannya kepada sebagian murid. Jika beliau telah keluar dari dars setelah zhuhur dan didatangi seorang murid untuk menanyakan sesuatu, beliau menjawab: “Masuklah, kita makan siang bersama lalu kita akan berbicara.”
            Pernah pada suatu hari ada seorang murid yang mengajukan sepucuk kertas di tengah jam dars, tertulis di dalamnya: “Saya adalah seorang pelajar, dan saya cinta pada ilmu. Tapi saya terlilit utang dan saya takut utang itu akan memalingkan saya dari belajar.” Setelah membaca itu, syaikh mulai masuk ke pelajaran, dan sebelum pelajaran usai beliau berkata dengan pengeras suara: “Saudara kita yang mengajukan kertas ini hendaknya pergi ke akh Fulan dan berkata padanya berapa utangnya, dan kita akan lihat apakah kita bisa membantunya.”

Kedermawanan jiwa beliau:

            Asy Syaikh Muqbil رحمه الله adalah orang yang dermawan. Beliau biasa menjemput para delegasi. Jika para pengunjung datang, beliau mengundang mereka kerumah beliau untuk makan siang. Jika ada tamu yang datang di akhir waktu, para muridlah yang menyambutnya ke kamar tamu, lalu dirinya berjumpa dengan syaikh. Beliau seringkali turun tangan langsung menyediakan makan siang. Sering kali para pengunjung duduk bersama beliau seusai sholat shubuh, lalu beliau menyediakan untuk mereka zabib (kismis/anggur kering) dan memuliakan mereka dengan amat sangat. Beliau sangat dermawan dengan apa yang beliau miliki.
            Beliau tak pernah menyembunyikan dari para murid suatu harta sedikitpun. Beliau menganggap mereka adalah anak-anaknya. Beliau رحمه الله sangat menjaga perasaan para murid. Karena itulah termasuk dari penghalang beliau membeli baju untuk ‘id adalah agar tiada sesuatu di hati para murid yang tak punya baju baru untuk ‘id, dan beliau berkata: “Bawalah sini apa yang ada.”
Ketika beliau keluar dari Yaman di tahun terakhir, beliau merasa sangat rindu pada markiz dan para murid. Terkadang beliau mengingat mereka dan menangis seraya berkata: “Mereka adalah anak-anakku.”

Tawadhu’ beliau:

            Beliau رحمه الله memiliki akhlaq yang tinggi, tidak menghina orang miskin dan lemah, menyayangi anak kecil, menolong orang tua, mengasihani perempuan yang sholihat, dan menolong mereka dengan semua kemampuan beliau.
            Termasuk dari tawadhu beliau adalah: jika beliau dipanggil oleh anak kecil dalam keadaan beliau berjalan, beliau berhenti untuknya, mengajaknya bicara dan melihat apa yang diinginkannya. Ada pula anak kecil yang mendatangi beliau dalam keadaan beliau di kursi sedang mengajar, maka beliau berhenti mengajar. Anak itu berkata: “Saya ingin membaca satu hadits dengan pengeras suara.” Maka Al Imam Al Wadi’iy mengangkatnya atau memerintahkan seorang murid untuk mengangkatnya, mendudukkannya di hadapan beliau, lalu si kecil itu membaca hadits, dan beliau tersenyum, tidak merasa jengkel. Beliau bersikap lunak dan mudah bersama para murid.
            Dan termasuk sikap tawadhu’ beliau adalah: jika ada orang awam mendatangi beliau, beliau mau duduk bersama mereka dalam waktu yang panjang, padahal beliau itu sangat memperhatikan waktu, hingga beliau berkata di sebagian dars beliau: “Ada orang-orang awam yang mendatangiku, lalu aku duduk bersama mereka, dan aku mengharapkan pahala pada Alloh atas waktu yang termakan tadi, karena mereka tidak mengetahui besarnya nilai waktu, dan mereka akan berkata bahwasanya aku itu orang yang sombong. Adapun para penuntut ilmu, aku menyikapi mereka berbeda dengan orang awam, karena mereka itu mengetahui besarnya nilai waktu. Ibnul Jauziy رحمه الله dulu sering mengumpulkan pena. Jika para pengunjung mendatanginya, beliau duduk bersama mereka sambil meraut pena-pena tadi.”

Penjagaan kehormatan beliau dan ketinggian harga dirinya

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله itu seorang yang menjaga kehormatan. Beliau punya ketinggian harga diri, sampai-sampai beliau merasa keberatan untuk menulis surat ke para dermawan dengan permintaan yang dikhususkan demi para murid beliau. Lalu hal itu diketahui oleh Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله maka beliau menulis surat kepada Asy Syaikh Muqbil: “Wahai Abu Abdirrohman, tulislah, dan Anda akan mendapatkan pahala.” Jika datang pada beliau dana untuk para pelajar, beliau bersegera untuk mengalihkannya kepada pengelola urusan para murid. Demikianlah beliau رحمه الله berada di atas karakter yang bagus tadi sejak awal dakwah beliau.
Beliau mengajarkan kitab beliau “Dzammul Mas’alah” kepada para murid. Beliau selalu mencela orang yang pergi mengemis dengan nama dakwah, dan beliau memperingatkan muridnya dari perbuatan tadi. Beliau berkata di pengantar kitab beliau tersebut: “Kemudian daripada itu, maka sesungguhnya aku melihat sekelompok orang yang menyatakan bahwasanya diri mereka itu adalah para dai ke jalan Alloh, tapi mereka mengkhususkan diri untuk mengemis dan meninggalkan kerja. Bisa jadi seorang petani itu memakan makanan yang halal dari hasil kerja tangannya, dan justru amalannya itu termasuk pendekatan diri pada Alloh yang paling utama. Al Bukhoriy dan Muslim telah meriwayatkan dari Anas dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:
ما من مسلم يغرس غرساً أو يزرع زرعاً فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقة
“Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman atau tumbuhan, lalu dimakan oleh burung atau manusia atau binatang yang lain, kecuali dia itu mendapatkan pahala sodaqoh dengan itu.
Dan bisa jadi seseorang itu bekerja di suatu perdagangan, dan itu juga termasuk pendekatan diri pada Alloh yang paling utama. Telah tetap dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasnya beliau ditanya: “Pekerjaan apa yang paling baik?” beliau menjawab:
عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور.
Pekerjaan seseorang dengan tangannya, dan setiap jual beli yang mabrur([4]).
Bahkan bisa jadi seseorang itu adalah badui, dia memakan dari apa yang dihasilkan oleh kambing dan ontanya, lalu dia melihat para pengemis tadi membuka ruang-ruang pameran dan membangun gedung-gedung, maka orang badui ini mulai memelihara jenggotnya dan menyerupakan diri dengan para dai ke jalan Alloh, lalu bekerja sebagai pengemis. Alangkah memuakkan pekerjaan yang jelek dan buruk ini.

Sikap zuhud beliau:

            Beliau menyebutkan bahwasanya manakala beliau belajar di universitas Al Hadi, pernah beliau punya sisa sedikit roti, lalu beliau meletakkannya di suatu lobang di dinding yang dinamakan sebagai Khizanah. Kemudian pada suatu hari beliau tidak mendapatkan makanan, lalu beliau mendatangi khizanah tadi. Beliau berkata: “Aku masukkan tanganku dan kepalaku untuk mencari roti tadi, lalu aku mengeluarkannya. Ternyata laba-laba telah menganyam sarang di atasnya. Maka kubuang debu darinya. Kudapati roti itu telah kering, maka kubasahi dengan air. Jika kudapatkan sebutir tomat, maka itu bagus, tapi jika tidak, kumakan begitu saja roti tadi.”
            Pada suatu hari beberapa orang dermawan datang mengunjungi Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله , mereka ingin membangun rumah untuk beliau. Maka beliau berkata pada mereka: “Kemarikan dana itu.” Beliau mengambil dana tadi dari mereka, dan membangun masjid serta sebuah kamar yang kecil di atas masjid. Ketika mereka datang mereka bertanya pada beliau: “Di manakah rumah itu?” beliau menjawab: “Inilah rumahku,” beliau memperlihatkan masjid itu dan mengisyaratkan ke kamar yang di atas masjid tadi.
Dan termasuk zuhud([5]) beliau terhadap dunia adalah beliau mewaqofkan sebidang tanah yang luas yang menjadi milik beliau untuk para pelajar, agar mereka membangun tempat tinggal untuk mereka di situ.
Beliau berkata: “Dan terakhir, sungguh aku nasihatkan pada Ahlussunnah untuk bersabar terhadap kemiskinan. Inilah keadaan yang dipilihkan Alloh untuk Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم.

Waro’ beliau:

Beliau adalah seorang yang waro’([6]), sehingga di sisi beliau harta dakwah, bahkan beliau mengalihkannya pada pengurus kas dakwah. Bahkan terkadang beliau diberi suatu hadiah dari orang yang tidak beliau kenal, maka beliau tidak mau mempergunakannya, dan beliau memberikannya pada istrinya yang berhak mendapatkannya.

Upaya musuh untuk membunuh beliau:

Sesungguhnya ahli batil berusaha untuk membunuh sang imam yang mulia serta mujahid yang cerdas ini. Ketika beliau bersama beberapa masyayikh sunnah ada di kota ‘Aden, di masjid Ar Rohman, datanglah dua orang yang hendak meletakkan bom di jalan yang syaikh akan keluar dari situ. Tapi sebagaimana firman Alloh:
﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِه﴾ [فاطر: 43]
“Dan tidaklah menimpa makar yang buruk itu kecuali kepada pelakunya.”
Bom tadi meledak duluan dan mengoyak-koyak badan kedua pelaku dosa tadi.
Demikian pula mereka berusaha membunuh beliau dan salafiyyun di masjid Jami’ul Khoir di Son’a. beberapa orang yang tak bersalah terbunuh, sebagian yang lain luka-luka, dan syaikh selamat. Semoga Alloh merohmati beliau dan mereka semua.

Kesabaran beliau terhadap sakit:

Pada suatu hari salah seorang yang mulia masuk menemui Al Imam رحمه الله dalam keadaan beliau sedang sakit keras. Ternyata beliau ingin keluar untuk melangsungkan dars-dars beliau. Maka orang tadi berkata pada beliau: “Wahai Syaikh, Anda sedang sakit, biarlah yang lain yang menggantikan Anda untuk mengajar.” Beliau menjawab: “Enggak, demi Alloh aku tak mau meninggalkan wajah-wajah yang baik itu.”
Pernah pada suatu hari beliau keluar untuk untuk melangsungkan dars-dars beliau dalam keadaan tangan beliau diperban dan diikatkan ke leher beliau. Maka seorang murid bertanya pada temannya tentang apa yang terjadi pada beliau? Mereka menjawab: “Beliau jatuh ke tanah di dalam rumahnya.” Dan beliau tidak meninggalkan dars-dars sampai sembuh.
Istri beliau –Ummu Syu’aib حفظها الله- bercerita: “Beliau itu selalu sabar terhadap penyakit, tak mau mengeluh pada seorangpun tentang sakitnya, sampai pada sakit beliau yang terakhir, aku merasa sedih dengan keadaan beliau, tapi beliau tertawa dan menanyai kami. Aku berkata: “Wahai Syaikh, kasihanilah diri Anda.” Beliau menjawab: “Aku merasa tentram.”

Wafat beliau:

Dikarenakan kerasnya sakit beliau, berangkatlah beliau رحمه الله pada tanggal 16 Robi’uts Tsani 1421 H ke Riyadh, lalu disambut oleh pemerintah Saudi bagaikan penyambutan mereka terhadap para penguasa, dan memuliakan beliau dengan puncak pemuliaan (terhadap seorang tamu). Dan di Makkah, Amir yang salafiy: Nayif bin Abdil ‘Aziz رحمه الله telah menyiapkan untuk beliau tempat tinggal yang berjarak sekitar 50 meter dari Masjidil Harom.
Lalu pada akhir-akhir Jumadats Tsaniyah 1431 H beliau رحمه الله berangkat berobat ke Amerika dengan biaya dari pemerintah Saudi. Ketika beliau sampai di sana, para pecinta dakwah salafiyyah menyambutnya dengan penyambutan agung, dan mereka mencurahkan harta dan jiwa dalam melayani beliau, dan memuliakan beliau dengan puncak pemuliaan (terhadap seorang tamu).
Pada akhir-akhir bulan Syawwal 1431 H beliau sampai lagi ke Jeddah dalam keadaan muhrim dengan umroh tamattu’ sampai haji, di bawah pemuliaan dan pelayanan pemerintah Saudi, hingga beliau menyempurnakan amalan haji pada tanggal 13 Dzil Hijjah 1421 H.
Lalu pada tanggal 7 Robi’uts Tsani 1422 H beliau berangkat berobat ke Jerman dengan biaya dari pemerintah Saudi. Lalu pada hari Sabtu tanggal 30 Robi’uts Tsani 1422 H beliau pulang ke Shon’a. pada malam Ahad antara maghrib dan ‘Isya wafatlah beliau رحمه الله dengan senyum yang memenuhi wajahnya. Beliau telah berwasiat untuk dikuburkan di pekuburan Al ‘Adl di Jeddah. Maka kementrian dalam negri Saudi mengirimkan tiga orang jendral untuk mengiringi jenazah Al Imam رحمه الله sampai tiba di Makkah. Jenazah beliau رحمه الله dimandikan di Jeddah dalam keadaan senyum beliau tidak berpisah dari wajah saat dimandikan ataupun setelah itu. Kemudian beliau disholatkan di Masjidil Harom seusai sholat shubuh, lalu dikuburkan di pekuburan Al ‘Adl di Jeddah setelah kerasnya usaha mengeluarkan jenazah beliau dari masjid karena banyaknya orang yang sholat dan hadirin.
Literatur biografi:
-        “Tarjumah Abi Abdirrohman Muqbil Bin Hadi Al Wadi’iy” ditulis sendiri oleh Al Imam Muqbil Bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله.
-        “Ar Rihlatul Akhiroh Li Imamil Jaziroh” ditulis oleh Ummu Salamah As Salafiyyah.
-         “Nubdzatun Yasiroh Min Hayati Ahad A’lamil Jaziroh Al ‘Allamah Al Wadi’iy” ditulis oleh Muhammad bin Ali Ash shouma’iy
-        “Al Ba’its ‘Ala Syarhil Hawadits” ditulis sendiri oleh Al Imam Muqbil Bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله.


Pasal satu: Karya tulis Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله

Imam yang agung ini telah meninggalkan warisan yang besar di medan-medan ilmu syar’iyyah yang menunjukkan pada luasnya ilmu beliau, kekokohan beliau di atas kebenaran, dan banyaknya nasihat beliau untuk umat ini. Yahya bin Kholid -rohimahullohu- berkata: “Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah  menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170/karya Ibnu Abdi Robbihi Al Andalusiy).
Di antara karya tulis beliau adalah:
1-      Ash Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain
2-      Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain
3-      Tarojim Rijalil Hakim Fil Mustadrok
4-      Tatabbu’ Auhamil Hakim Allati Sakata ‘Alaihadz Dzahabiy (telah dicetak bersama “Al Mustadrok”)
5-      Tarojim Rijalid Daroquthniy Fi Sunanih
6-      Ash Shohihul Musnad Min Dalailin Nubuwwah
7-      Ash Shohihul Musnad Fi Asbabin Nuzul
8-      Ghorotul Fishol ‘Alal Mu’tadin ‘Ala Kutubil ‘Ilal
9-      Al Jami’ush Shohih Fil Qodar
10-  Sho’qotuz Zilzal Li Nasfi Abathilir Rofdh Wal I‘tizal
11-  Ijabatus Sail ‘An Ahammil Masail
12-  Asy Syafa’ah
13-  Riyadhul jannah Fir Rodd ‘Ala A’dais Sunnah
14-  Ath Tholi’ah Fir Rodd ‘Ala Ghulatish Shufiyyah, Wa Hukmul Qubbatil Mabniyyah ‘Ala Qobrir Rosul صلى الله عليه وسلم.
15-  Tuhfatul Mujib ‘Ala Asilatil Hadhir Wal ghorib
16-  Al Makhroj Minal Fitnah
17-  Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘Alath Tho’inin Fi Haditsis Sihr
18-  Al Mushoro’ah
19-  Ilhadul Khumainiy Fi Ardhil Haromain
20-  Al Ba’its ‘Ala Syarhil Hawadits
21-  Irsyadu Dzawil Fithon Li Ib’adi Ghulatir Rowafidh Minal Yaman
22-  Ghorotul Asyrithoh ‘Ala Ahlil Jahl Was Safsathoh
23-  Al Fawakihul Janiyyah Fil Khuthob Wal Muhadhorotis Saniyyah
24-  Qom’ul Mu’anid Wa Zajrul Hasid
25-  Syar’iyyatush Sholah Fin Ni’al
26-  Tahrimul Khidhob Bis Sawad
27-  Al Jam’u Bainash Sholatain Fis Safar
28-  Idhohul Maqol Fi Asbabiz Zilzal War Rodd ‘Alal Malahidatil Dhullal
29-  Dzammul Mas’alah
30-  Tuhfatusy Syabbir Robbaniy Fir Rodd ‘Alal imam Muhammad Bin Alisy Syaukaniy
31-  Fatwa Fi Wihdatil Muslimin Ma’al Kuffar
32-  Iqomatul Burhan ‘Ala Dholal Abdirrohim Ath Thohhan
33-  Ad Dibaj Fi Marotsi Syaikhil Islam Asy Syaikh Abdil Aziz ibni Baz
34-  Hukmi Tashwir Dzawatil Arwah
35-  Al Muqtaroh Fi Ajwibati As’ilatil Mushtholah
36-  Fadhoih Wa Nashoih
37-  Maqtalusy Syaikh Jamilir Rohman Al Afghoniy Wa Ma’ahu Bahtsun Haula Kalimah Wahhabiy
38-  Iskatul Kalbil ‘Awi
39-  Tahqiq Tafsir Ibni Katsir (mentahqiq satu jilid, adapun sisanya dilanjutkan oleh sebagian murid)
40-  Ash Shohihul Musnad Minat Tafsir Bil Ma’tsur (belum diselesaikan, dan masih disempurnakan oleh salah seorang istrinya)
41-  Tahqiq Wa Dirosah Kitab Al Ilzamat Wat Tatabbu’ Lil Imam Ad Daroquthniy
42-  Al Burkan Li Nasfi Jami’atil Iman
43-  As Sairul Hatsits Fi Syarhi ‘Ulumil Hadits.
44-  Majlisusy Syaikhot Fil Yaman

Pasal Dua: Pembaharuan Agama Oleh Al Imam Muqbil رحمه الله di Yaman

            Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها». (أخرجه أبو داود (4291) وغيره).
“Sesungguhnya Alloh membangkitkan untuk umat ini di setiap ujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk mereka agama mereka. ([7])(HR. Abu Dawud (4291) dan yang lainnya).
Bukanlah makna dari hadits ini bahwasanya para mujaddidun (pembaharu) itu mendatangkan agama baru yang menyelisihi agama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Tapi mereka itu memperbarui untuk umat ini syari’ah dan sunnah beliau yang telah luntur.
Al Munawiy رحمه الله berkata: “Yaitu: memperbarui hukum-hukum syari’ah yang telah luntur, dan menara-menara sunnah yang telah hilang dan yang ilmu-ilmu agama yang zhohir dan bathin tersembunyi, sebagaimana yang disebutkan oleh berita yang akan datang, yaitu: “Sesungguhnya Alloh membangkitkan” hingga akhir hadits. Yang demikian itu adalah bahwasanya Alloh Yang Mahasuci manakala menjadikan Al Mushthofa sebagai penutup para Nabi dan Rosul, dan kejadian-kejadian setiap hari itu tidak terhitung, sementara pengetahuan terhadap hukum-hukum agama itu wajib sampai hari Tanad (hari Kiamat di mana orang saling memanggil), sementara lahiriyyah dari nash-nash itu tidaklah cukup menjelaskannya([8]), bahkan harus ada jalan yang mencukupi perkara tadi, maka hikmah Al Malik (Sang Raja) Al ‘Allam (Yang Maha Mengetahui) mengharuskan munculnya suatu kaum dari para tokoh di awal setiap seratus tahun untuk memikul beban kejadian-kejadian, untuk melangsungkan pada umat ini bersama ulama mereka sebagaimana yang terjadi antara Bani Isroil dengan para Nabi mereka.” (“Faidhul Qodir”/1/hal. 10).
       Dan bukanlah suatu keharusan bahwasanya mujaddid di setiap zaman itu cuma satu tak boleh lebih. Bahkan bisa saja lebih dari itu. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “… tidak lazim bahwasanya di setiap penghujung seratus tahun itu hanya ada satu mujaddid saja. Bahkan masalah ini adalah sebagaimana yang disebutkan dalam masalah thoifah manshuroh. Dan ini adalah pendapat yang kuat, karena terkumpulnya sifat-sifat yang perlu untuk diperbaharui itu tidak terbatas pada satu jenis kebaikan saja. Dan tidaklah diharuskan seluruh karakter kebaikan itu ada pada satu individu, kecuali jika hal itu dikatakan ada pada Umar bin Abdil Aziz, karena beliau dulu menjadi penegak urusan umat ini di ujung seratus tahun yang pertama, dengan terkumpulnya pada diri beliau seluruh sifat-sifat kebaikan, dan beliau maju dengan sifat-sifat tadi. Dari situlah Ahmad menyatakan bahwasanya mereka membawa penunjukan hadits tadi kepada beliau (Umar bin Abdil Aziz). Adapun yang datang setelah beliau, maka orangnya adalah Asy Syafi’iy, sekalipun beliau memiliki sifat-sifat yang indah, akan tetapi beliau bukanlah pemegang urusan jihad dan hukum dengan keadilan. Maka berdasarkan ini, setiap orang yang memiliki suatu sifat kebaikan di ujung seratus tahun, maka dia itulah yang diinginkan, sama saja satu orang atau lebih.” (“Fathul Bari”/13/hal. 295).
Dan barangsiapa memperhatikan sejarah Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dengan adil, dia akan mendapati beliau termasuk dari mujaddid sejati, terutama di negri Yaman yang penuh dengan aliran Tasyayyu’ dan bid’ah-bid’ah yang gelap yang lain sepanjang seribu tahun.
Di antara sunnah-sunnah Muhammadiyyah yang beliau رحمه الله perbarui adalah sebagai berikut:
& Dalam ibadah wudhu:
1-      mengusap sorban
2-      mengusap khuff (sepatu yang sampai menutupi mata kaki).
3-      Tata cara mengusap kepala saat wudhu
4-      Wudhu setelah makan daging onta
5-      Dan beberapa perkara yang lain
& Dalam ibadah sholat:
1-      sholat pada waktunya
2-      meluruskan barisan
3-      mendekatkan jarak antara shoff
4-      tidak sholat di antara dua tiang, dalam sholat jama’ah
5-      tidak melafazhkan niat
6-      sholat di belakang sutroh (tabir)
7-      sholat dengan memakai sandal
8-      membaca basmalah dengan pelan-pelan
9-      membaca amin seusai bacaan Al Fatihah
10-  meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat.
11-  Membaca surat “As Sajdah” dan “Al Insan” di sholat subuh pada hari Jum’ah
& Dalam ibadah adzan:
1-      Adzan pertama sebelum fajar
2-      Pada hari Jum’ah cukup satu adzan di waktu zhuhur saat khothib duduk di atas mimbar
3-      Ucapan muadzdzin saat hujan: Shollu fi buyutikum! (sholatlah di rumah-rumah kalian!)
& Dalam masalah kuburan:
1-      Haromnya membuat kubah ataupun bangunan yang lain di atas kuburan
2-      Haromnya berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal
& Dalam ibadah puasa:
1-      Menyegerakan berbuka puasa saat matahari terbenam, dan mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu subuh
& Dalam masalah masjid:
1-      Mimbar punya tiga tingkatan saja
2-      I’tikaf di masjid di dalam kemah
& Dalam hubungan sehari-hari:
1-      Haromnya jabat tangan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahrom
2-      Anjuran untuk menebarkan salam di antara muslimin
Yang tersebut ini tadi hanyalah sedikit contoh dari pembaharuan yang dilakukan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله di negri Yaman. Barangsiapa ingin melengkapi pembacaan masalah ini silakan rujuk ke kitab: “Al Bayanul Hasan Bitarjumatil Imam Al Wadi’iy Wama Ahyahu Minas Sunan” karya Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله.

Pasal Tiga: Pujian Para Ulama Terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan Kedudukan Beliau Di Sisi Mereka

            Al Imam Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمه الله ketika ditanya tentang orang-orang yang mencerca Asy Syaikh Robi’ حفظه الله dan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله beliau berkata: “Kita tanpa keraguan memuji Alloh عز وجل Yang menundukkan untuk dakwah yang baik dan tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah di atas manhaj As Salafush Sholih ini para dai yang banyak di berbagai negri Islam. Mereka menjalankan fardhu kifaiy yang pada hari ini sedikit sekali orang yang menegakkannya di dunia Islam. Maka upaya untuk menjatuhkan dua syaikh ini: Asy Syaikh Robi’ dan Asy Syaikh Muqbil, dua penyeru ke jalan Al Kitab dan As Sunnah dan perkara yang dulu As Salafush Sholih ada di atasnya dan memerangi orang-orang yang menyelisihi manhaj yang shohih ini, hal ini sebagaimana tidak tersamarkan bagi kita semua hanyalah berasal dari salah satu dari dua jenis orang: bisa jadi dia itu adalah orang bodoh, atau pengekor hawa nafsu.
Orang bodoh mungkin untuk mendapatkan bimbingan, karena dia mengira berada di atas sedikit ilmu, maka jika menjadi jelaslah ilmu yang benar baginya, dia akan mengikuti petunjuk. Adapun pengekor hawa nafsu, maka kita tak punya jalan kepadanya, kecuali jika Alloh تبارك وتعالى memberinya petunjuk. Maka orang-orang yang mengkritik kedua syaikh tadi –sebagaimana telah kami sebutkan- mungkin saja dia itu orang bodoh sehingga perlu diajari, dan bisa jadi dia adalah pengekor hawa nafsu, maka kita mohon pada Alloh dari kejelekannya. Dan kita mohon pada Alloh عز وجل untuk memberinya petunjuk, atau mematahkan belakangnya.” (diambil dari pembukaan “An Nashrul ‘Aziz ‘Alar Roddil Wajiz” karya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy hal 6-7 yang menukil dari kaset “Silsilatul Huda Wan Nur” no. 1/851).
Al Imam Al Albaniy رحمه الله juga berkata: “Adapun orang-orang yang mengetahui bidang ini mereka tidak ragu akan lemahnya semisal hadits ini. Ini dia Asy Syaikh yang mulia Muqbil bin Hadi Al Yamaniy berkata dalam takhrijnya terhadap “Tafsir Ibnu Katsir“ (1/hal. 513) setelah berbicara tentang para rowi sanadnya satu persatu dengan ringkas dan berfaidah: “Dan hadits ini lemah karena adanya inqitho’ (putusnya sanad), dan lemahnya Ubaidulloh ibnul Walid Al Wushofiy.” (“As Silsilatudh Dho’ifah”/5/hal. 75).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Adapun tentang Asy Syaikh Muqbil, maka “penduduk Mekkah lebih tahu tentang anggota masyarakatnya” ([9]) dan berdasarkan berita-berita yang datang kepada kami dari kalian, merupakan persaksian yang terbesar bahwasanya Alloh عز وجل telah memberikan taufiq pada beliau dengan taufiq yang bisa jadi kami tak mendapatkan yang semisal dengan itu jika dibandingkan dengan sebagian dai yang nampak di muka bumi pada hari ini.” (“Silsilatul Huda Wan Nur” (no. 851), dinukil oleh Ma’mar Al Qodasiy هداه الله dalam kitabnya “Asy Syaikh Muqbil” (hal. 80/cet. Darul Atsar)).
Disebutkan kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله tentang tersebarnya dakwah Asy Syaikh Muqbil di Yaman dan lainnya, maka beliau berkata: “Ini adalah buah dari keikhlasan, ini adalah buah dari keikhlasan.” (disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy هداه الله, sebagaimana dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).
Dan di antara data yang menunjukkan ketinggian posisi Al Imam Al Wadi’iy di sisi Al Imam Ibnu Baz, apa yang diceritakan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمهما الله sendiri: “Pada suatu ketika ada di Shon’a ada orang yang lari menyusup ke Riyadh dan berkata pada beliau –yaitu Al Imam Ibnu Baz رحمه الله -: “Wahai Syaikh, saya itu dari ahlussunnah, tapi saya tak punya surat apapun.” Maka beliau berkata padanya: “Berikanlah ketetapan padaku bahwasanya engkau uadalah dari ahlussunnah.” Maka dia mengeluarkan selembar kertas dariku yang berisi pengenalanku tentang orang ini. Maka Asy Syaikh Ibnu Baz menuliskan untuknya selembar kertas tentang bolehnya berjalan ke manapun yang diinginkannya.” (“Rotsausy Syaikh Muqbil Lil Imam Ibni Baz” hal. 16, sebagaimana dalam kitab “I’lamul Ajyal” karya Salil Al Khoukhiy وفقه الله hal. 26-27, cet. Darul Atsar).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Asy Syaikh Muqbil Imam” maka beberapa orang membantah beliau dengan perkataan yang berisi cercaan pada Asy Syaikh Muqbil, maka Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Asy Syaikh Muqbil Imam, Asy Syaikh Muqbil Imam.” (diceritakan oleh Asy Syaikh Abdulloh bin ‘Utsman Adz Dzammariy وفقه الله sebagaimana dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).
Abul Hasan Al Mishriy al hizbiy pernah bertanya pada Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله tentang Asy Syaikh Muqbil, maka beliau menjawab: “Beliaulah yang perlu ditanya tentang diriku.” (kitab “I’lamul Ajyal” karya Salil Al Khoukhiy وفقه الله hal. 27, cet. Darul Atsar).
Abul Hasan Al Mishriy al hizbiy pernah bertanya pada Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله saat di Mina tentang Asy Syaikh Muqbil: “Di sana ada orang yang mengabari Asy Syaikh bahwasanya Anda berbicara tentang beliau. Apakah ini benar?” maka beliau menjawab: “Ini tidak benar. Demi Alloh! Sungguh aku berkeyakinan bahwasanya Asy Syaikh Muqbil itu adalah imam dari kalangan para imam Muslimin.” (“Al Qoulul Amin Fi Rotsai Ibni ‘Utsaimin”/ “I’lamul Ajyal” hal. 27, cet. Darul Atsar).
Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله تعالى berkata: “Segala puji bagi Alloh. Kemudian setelah itu: saya telah melihat ceramah yang disampaikan oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, yang beliau sampai di akhir hayat beliau رحمه الله di dalamnya ada penjelasan terhadap kebenaran, dan bantahan terhadap kebatilan, serta pengakuan atas kebaikan pemerintah Saudi atas pelayanan mereka untuk Islam dan Muslimin. Dan ini adalah persaksian yang benar dari seorang alim yang agung. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan balasan terbaik atas dakwah ke jalan Alloh yang beliau tegakkan di Yaman dan lainnya, penyebaran ilmu yang bermanfaat, perbaikan aqidah, dan anjuran untuk berpegang teguh dengan sunnah. Semoga Alloh memberikan manfaat dengan kerja keras beliau dan kitab-kitab beliau dengan pahala dan ganjaran yang agung…” (selebaran Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله تعالى ).
Kholid bin Dhohwi وفقه الله berkata: “Dan di antara bentuk pemuliaan Asy Syaikh Robi’ kepada Asy Syaikh Muqbil adalah: bahwasanya saya dulu pernah menyertai Asy Syaikh Robi’ untuk mengunjungi Asy Syaikh Muqbil di rumah sakit khusus yang ada di Jedah setelah Asy Syaikh Muqbil tiba dari Jerman, dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika kami tiba di kamar beliau, beliau ada di atas tempat tidurnya, majulah Asy Syaikh Robi’ dan mencium kepalanya kemudian menangis dengan keras. Semoga Alloh merohmatinya dengan rohmat yang luas, dan mengumpulkan kita dengan beliau dan para masyayikh kita di Jannah-jannah yang penuh kenikmatan.” (“Ats Tsanaul Badi’ ‘Alasy Syaikh Robi’”/hal. 38-39/karya kholid bin Dhohwi Azh Dhufairiy/cet. Darul Minhaj).
Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata: “… Ini adalah ucapan bela sungkawa kami untuk kalian atas meninggalnya pembawa bendera sunnah dan tauhid, sang penyeru ke jalan Alloh, sang pembaharu dengan benar di negri Yaman, yang pengaruh dakwah beliau memanjang di berbagai penjuru dunia. Dan kukatakan pada kalian dari yang kuyakini: sesungguhnya negri kalian setelah tiga kurun yang utama itu telah mengenal sunnah dan manhaj As Salafush Sholih, walau dengan perbedaan kenampakan dan kekuatan. Sekalipun demikian saya tidak mengetahui adanya tandingan untuk ma’had ini, yang Alloh karuniakan kepada kalian dan kepada masyarakat Yaman, melalui tangan orang sholih ini: muhaddits, zahid, wari’, yang menginjak dunia dan perhiasannya di bawah kedua kakinya.” (tanggal 1Jumadal Ula 1422 H, sebagaimana dalam “I’lamul Ajyal” karya Salil Al Khoukhiy وفقه الله hal. 27, cet. Darul Atsar. Sebagiannya disebutkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).
Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله juga berkata: “Pria yang zuhud dan waro’ ini, yang kuanggap –dengan sekehendak Alloh- termasuk dari para pembaharu untuk Islam di masa ini, maka semoga Alloh merohmati beliau, …” (“I’lamul Ajyal” karya Salil Al Khoukhiy وفقه الله hal. 28).
Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله dalam kunjungan beliau ke Darul Hadits di Dammaj tanggal 3 Jumadal Akhiroh 1423 H setelah wafatnya Al Imam Al Wadi’iy berkata: “Segala puji bagi Alloh atas ketetapan dan keputusannya, dan harus ada kesabaran. Manusia itu semuanya menuju kepada kematian, akan tetapi orang yang meninggalkan seperti markiz ini tidaklah teranggap sebagai orang yang wafat, karena beliau telah membuat pondasi, memperbaikinya, juga telah berdakwah dan mencurahkan kerja keras yang membuat kami iri dengan itu, dan kami menganggap beliau itu di sisi Alloh termasuk dalam tokoh utama dari orang-orang yang bertaqwa, dan termasuk dari para wali yang tinggi. Kami menyangka beliau demikian dan Allohlah yang menghisab kita semua. Akan tetapi kita melihat dengan mata kepala kami, dan menyentuh dengan indra kami, dan kami tahu –segala pujian bagi Alloh- bahwasanya beliau telah beramal kebaikan yang banyak, yang jarang ada orang yang bisa mencapai ke situ, -sampai pada ucapan beliau:- dan tidaklah kumpulan besar yang kami lihat ini kecuali bagian dari kebaikan syaikh yang agung itu, yang telah berdakwah ke Alloh, bersabar dan mushobaroh([10]), dan mencurahkan segala benda yang mahal dan berharga untuk mengumpulkan jama’ah besar ini, mendorongnya untuk menuntut ilmu, dan meletakkannya di atas jalur yang benar,…” (“I’lamul Ajyal” karya Salil Al Khoukhiy وفقه الله hal. 28-28).
Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Hammad Al Anshoriy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya Muqbil Al Wadi’iy adalah muridku, dan akulah yang memilihkan untuknya judul pembahasan untuk gelar Majister, dan dulu dia selalu membacakan untukku pada hari-hari hurroh syarqiyyah. Dan dulu kukatakan padanya: “Aku berharap engkau di Yaman di masa ini seperti Asy Syaukaniy di masa beliau.” Dan Muqbil itu, belum pernah aku melihat ada seorang murid yang sepertinya dalam kerajinannya dalam menuntut ilmu.” (“Al Majmu’ Fi Tarjumatil ‘Allamatil Muhadditsisy Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshoriy”/2/hal. 606-607/karya anak beliau Abdul Awwal bin Hammad).
Fadhilatusy Syaikhina Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Adapun syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله , maka beliau itu adalah seorang alim salafiy yang disaksikan untuknya dengan kebaikan, sunnah, manhaj salafiy yang benar, sangat berhati-hati dan memperingatkan dari kesyirikan, kebid’ahan, khurofat dan seluruh jenis fitnah. Kaset-kaset beliau, manhaj beliau, jejak-jejak beliau, dakwah beliau, para murid beliau yang sholih dan jujur, serta lisan-lisan ahlul ‘ilmi wal khoir menjadi saksi untuk yang demikian itu.” (“Al Hijaj Li Abdil Karim Al Iryaniy”/karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله/hal. 6-7/cet. Maktabatul Falah).

Pasal Keempat: Keahlian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله Untuk Berijtihad dan Berfatwa

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله menyebutkan jenis pertama dari ahli fatwa: “Seorang yang alim dengan Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya, dan ucapan-ucapan shohabat. Maka dia itu adalah seorang mujtahid dalam hukum-hukum kasus yang terjadi, menginginkan di dalamnya kesesuaian dengan dalil-dalil syar’iyyah di manapun berada.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/4/hal. 454/cet. Darul Hadits).
            Dan termasuk dari syarat seorang mufti adalah apa yang disebutkan oleh Al Imam Abu Ishaq Asy Syairoziy رحمه الله: “Seorang mufti wajib untuk mengetahui jalan-jalan hukum yaitu: Al Kitab. Dan yang wajib untuk diketahui darinya adalah apa yang terkait dengan penyebutan hukum-hukum, halal, harom, bukan yang selain itu yang berupa kisah-kisah, permisalan-permisalan, nasihat-nasihat, dan berita-berita.
            Dia juga harus mengetahui sunnah-sunnah yang diriwayatkan dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم tentang penjelasan hukum. Dia juga harus mengetahi jalan-jalan yang dengannya bisa diketahui perkara yang diperlukan di dalam Al Kitab dan sunnah, yang berupa hukum-hukum pembicaraan, tempat-tempat kedatangan ucapan dan sumber-sumbernya yang berupa hakikat dan majaz([11]), umum dan khusus, global dan terperinci, mutlak dan terikat, manthuq dan mafhum. Dan dia harus mengetahui dari bahasa Arob dan nahwu yang dengannya bisa diketahui kehendak Alloh ta’ala, dan kehendak Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم dalam ucapannya. Dan dia harus mengetahui hukum-hukum perbuatan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan apa yang dituntut dari itu. Dia juga harus mengetahui nasikh dan mansukh dari Al Kitab dan As Sunnah, hukum-hukum naskh dan apa yang terkait dengan itu. Di juga harus tahu ijma’ salaf dan perselisihan mereka, tahu tentang perkara yang teranggap dan yang tidak teranggap dalam kasus-kasus ijma’. Tahu qiyas, ijtihad dan objek-objek yang yang telah ada hukumnya yang boleh untuk ditetapkan illah dengannya dan apa yang tidak boleh, dan tahu sifat-sifat yang boleh dijadikan sebagai ‘illah dan yang tidak boleh, juga harus tahu bagaimana mengambil suatu ‘illah. Harus tahu urutan dalil-dalil, mendahulukan yang memang haknya harus didahulukan, tahu segi-segi tarjih. Dan dia wajib untuk menjadi orang yang terpercaya dan tidak bermudah-mudah dalam urusan agama.” (“Al Luma’ Fi ushulill Fiqh”/hal. 252-253/Al Maktabatut Taufiqiyyah).
            Yang disebutkan oleh Al Imam Abu Ishaq Asy Syairoziy رحمه الله ini merupakan syarat ijtihad. Maka tidaklah seorang mufti kecuali dia itu adalah seorang alim. Dan tidaklah seorang alim kecuali dia itu adalah seorang mujtahid. Dan tidaklah seorang mujtahid kecuali dia itu adalah seorang faqih. Yang demikian itu adalah dikarenakan bahwasanya fiqh itu adalah apa yang dikatakan oleh Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله: “Fiqh itu adalah: mengetahui hukum-hukum syar’iyyah yang jalannya adalah ijtihad([12]).” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/1/hal. 191/cet. Maktabatut Tau’iyatil Islamiyyah).
            Maka seorang faqih adalah orang yang mapan kemampuannya untuk mengetahui hukum-hukum syar’iyyah yang jalannya adalah ijtihadiyyah. Dan ijtihad itu adalah: mencurahkan kerja keras untuk mengeluarkan hukum-hukum dari dalil pendukungnya yang menunjukkan kepada hukum tadi dengan penelitian yang membuahkan hukum tadi. (“Qowathi’ul Adillah Fil Ushul”/karya As Sam’aniy/2/hal. 302).
            Maka jika kita merenungkan penjelasan ini dan kita perhatikan biografi Al Imam Al Wadi’iy tahulah kita bahwasanya beliau itu berhak untuk menjadi seorang alim faqih mufti mujtahid, berbeda dengan orang yang meniadakan hal itu.
            Kemudian ketahuilah bahwasanya ulama yang hakiki adalah orang-orang yang mengenal Alloh dengan ilmu mereka, lalu mereka merasa takut kepada-Nya sekalipun mereka tidak melihat-Nya([13]), maka merekapun menaati perintah-Nya dan tidak mengerjakan keharomannya, dengan tuntutan dari ilmu mereka. Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya ulama yang jelek mereka itulah yang tidak beramal dengan apa yang mereka ketahui. Dan jika mereka tidak demikian (tidak beramal dengan ilmu mereka), maka mereka itu secara hakiki bukanlah termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka itu hanyalah para periwayat –sementara fiqh terhadap apa yang mereka riwayatkan itu adalah perkara yang lain-. Atau mereka itu adalah orang-orang yang dikalahkan oleh hawa nafsu yang telah menutupi hati. Kita berlindung pada Alloh.” (“Al Muwafaqot”/1/hal. 46/Al Maktabatul ‘Ashriyyah).
            Maka barangsiapa merenungkan kehidupan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan bagaimana beliau mengumpulkan antara luasnya ilmu dan kuatnya amal, tidaklah dia ragu bahwasanya beliau adalah seorang alim dan faqih sejati.

Bab Tiga: Peringatan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله Terhadap Taqlid

            Seagung apapun kedudukan seseorang, dan sedalam apapun ilmunya, maka dia itu masih manusia yang tidak selamat dari kesalahan, sebagaimana dirinya tak selamat dari lupa. Maka tidaklah ditaati dengan ketaatan yang mutlak kecuali Alloh ta’ala dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم. Al Imam Abu syamah رحمه الله berkata: “Bahkan seorang pelajar itu harus selamanya mencari pertambahan ilmu yang tidak diketahuinya dari siapapun juga. Hikmah itu adalah barang seorang mukmin yang hilang, di manapun dia mendapatkannya dia mengambilnya. Dan dia harus adil, meninggalkan taqlid([14]), dan mengikuti dalil. Setiap orang itu bisa salah dan benar, kecuali orang yang disaksikan oleh syari’ah sebagai orang yang terjaga, yaitu Nabi صلى الله عليه وسلم.” (ringkasan kitab “Al Muammal Fir Rodd Ilal Amril Awwal”/ Abu Syamah/hal. 34/Al Maktabatul Islamiyyah).
            Maka dari itu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله melarang dari taqlid di dalam agama ini, dan mendorong manusia untuk beribadah pada Alloh dengan dalil, dan tunduk patuh pada kebenaran dari manapun datangnya.
            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله telah menulis dalam kitab beliau “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” dalam Kitabul ‘Ilm bab: “Dzammut Taqlid” (tercelanya taqlid), kemudian beliau menuliskan riwayat Al Imam Abu Dawud (13/hal. 89) dari hadits Al Baro bin ‘Azib رضي الله عنهما tentang dicabutnya nyawa, lalu riwayat Al Imam Ahmad (6/hal. 139) dari hadits ‘Aisyah رضي الله عنها tentang fitnah kubur, di dalamnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«... فيقال له: من هذا الرجل الذي كان فيكم؟ فيقول: سمعت الناس يقولون قولا فقلته كما قالوا. فتفرج له فرجة قبل الجنة، فينظر إلى زهرتها وما فيها، فيقال له: انظر إلى ما صرف الله عز وجل عنك. ثم يفرج له فرجة قبل النار، فينظر إليها يحطم بعضها بعضا، ويقال له: هذا مقعدك منها. كنت على الشك، وعليه متّ، وعليه تبعث إن شاء الله. ثم يعذب».
“… lalu dikatakan kepadanya: siapakah orang yang ada di antara kalian ini? Dia menjawab: saya mendengar orang-orang mengucapkan suatu ucapan lalu saya mengucapkannya. Maka dibukakanlah satu lubang dari arah Jannah, lalu dia melihat bunganya dan apa yang ada di dalamnya. Lalu dikatakan padanya: lihatlah apa yang Alloh عز وجل palingkan darimu. Lalu dibukakanlah untuknya satu lubang dari arah neraka, maka dia melihat neraka itu sebagian apinya menghantam sebagian yang lain. Dikatakan padanya: inilah tempat dudukmu dari neraka. Dulu engkau ada di atas keraguan, dan engkau mati di atasnya, dan di atas itu pula engkau akan dibangkitkan insya Alloh. Lalu dia disiksa.”
Lalu beliau menyebutkan sebagian hadits.
            Dan di antara ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله adalah: "Dengarkanlah, dengarkanlah! Fatwa orang yang paling besar di sisiku tapi menyelisihi dalil tak ada harganya. Dan fatwa orang yang paling kecil dari kalian dan ada dalil bersamanya maka dia itu terhormat dan ditaati, sampai kalian tidak menakuti-takuti aku dengan fatwa fulan ataupun fulan. Bahkan aku adalah lawan debat si fulan. Selama yang keluar adalah fatwa-fatwa yang menyimpang, maka aku adalah lawan debatnya." ("Ghorotul Asyrithoh"/Imam Al Wadi'i /hal. 46/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang kisah adzan Jum’at di Az Zauro: “Bahkan Utsman itu berijtihad. Dan orang setelah Utsman jika telah nampak baginya dalil-dalil tapi dia taqlid (membebek) pada Utsman atas perbuatan tadi, maka dia itu termasuk mubtadi’ karena taqlid itu sendiri adalah bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
            Beliau رحمه الله juga berkata: “Kita mengambil faidah dari kitab-kitab ulama kita dari kalangan muhadditsin, mufassirin, dan fuqoha tanpa melakukan taqlid. Dan jarang sekali ada masalah menghadang kecuali aku merujuk kepada “Al Mughni” dan “Al Majmu’” untuk aku melihat apa ucapan para ulama رحمهم الله. Akan tetapi jika aku melihat dalam masalah itu ada ayat Qur’an atau hadits Nabi, aku merasa cukup dengan keduanya tanpa ucapan fulan dan fulan. Dan jika aku tidak mendapatkannya, maka aku tidak diharuskan untuk menukil ucapan fuqoha رحمهم الله. Akan tetapi kita memohon pertolongan pada Alloh, kemudian meminta bantuan dengan pemahaman mereka untuk memahami sebagian dalil, tanpa taqlid pada mereka, karena kami meyakini bahwasanya taqlid itu harom. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ﴾ [الأعراف: 3].
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti para wali selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengingat.”
(selesai dari “Majmu’ah Rosail ‘Ilmiyyah”/hal. 78).
            Saya hanyalah mencantumkan bab ini agar jangan ada orang yang menyangka bahwasanya bab terdahulu itu mengisyaratkan anjuran untuk taqlid pada imam ini dan bersikap berlebihan pada beliau رحمه الله.

Bab Empat: Peringatan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله Terhadap Pemberontakan Kepada Pemerintah

            Tidak boleh memberontak kepada pemerintah muslimin. 'Ubadah Ibnush Shomit rodhiyallohu 'anhu berkata:
دَعَانَا رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ: « إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ الله فِيهِ بُرْهَانٌ ».
Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- menyeru kami maka kami membai'at beliau. Maka di antara perkara yang beliau ambil terhadap kami adalah: Kami membai'at beliau untuk mendengar dan taat dalam keadaan kami rajin dan malas, dalam keadaan kami merasa sulit dan mudah, dan dalam keadaan kami tertimpa kezholiman, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya. Lalu beliau bersabda,"Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian punya bukti dari Alloh tentangnya." (HSR. Al Bukhory (7056) dan Muslim (4877)).
            Sa’id bin Jumhan berkata:
أتيت عبد الله بن أبي أوفى وهو محجوب البصر، فسلمت عليه، قال لي: من أنت؟ فقلت: أنا سعيد بن جمهان، قال: فما فعل والدك؟ قال: قلت: قتلته الأزارقة، قال: لعن الله الأزارقة، لعن الله الأزارقة، حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم «أنهم كلاب النار»، قال: قلت: الأزارقة وحدهم أم الخوارج كلها؟ قال: بل الخوارج كلها. قال: قلت: فإن السلطان يظلم الناس، ويفعل بهم. قال: فتناول يدي فغمزها بيده غمزة شديدة ، ثم قال: ويحك يا ابن جمهان عليك بالسواد الأعظم، عليك بالسواد الأعظم. إن كان السلطان يسمع منك، فأته في بيته، فأخبره بما تعلم، فإن قبل منك، وإلا فدعه، فإنك لست بأعلم منه.
Aku mendatangi Abdulloh bin Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta. Lalu kuucapkan salam pada beliau, maka beliau bertanya: “Siapakah engkau?” kujawab: “Saya Sa’id bin Jumhan.” Beliau berkata: “Apa yang dikerjakan oleh ayahmu?” kujawab: “Beliau dibunuh oleh Azariqoh.” Maka beliau menjawab: “Semoga Alloh melaknat Azariqoh, semoga Alloh melaknat Azariqoh.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم menceritakan pada kami: “Bahwasanya mereka adalah anjing-anjing neraka.” Aku bertanya: “Azariqoh saja ataukah seluruh khowarij?” beliau menjawab: “Bahkan seluruh khowarij.” Aku berkata: “Sesungguhnya sang penguasa telah menzholimi manusia dan bersikap keras pada mereka.” Maka beliau mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan keras, lalu berkata: “Kasihan kamu wahai Ibnu Jumhan, engkau harus setia dengan As Sawadul A’zhom([15]), engkau harus setia dengan As Sawadul A’zhom. Jika sang penguasa mendengar ucapanmu, maka datangilah di rumahnya, lalu kabarilah dia dengan apa yang engkau ketahui. Jika dia menerima darimu, maka itu yang diharapkan, jika tidak, maka biarkan dia, karena engkau tidaklah lebih tahu daripada dirinya.” (HR. Ahmad (19415) dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (545)/Darul Atsar).
            Dan sesungguhnya aqidah Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله adalah aqidah salafiyyah, di antaranya adalah: beliau berpendapat haromnya pemberontakan terhadap pemerintah muslimin. Telah banyak ucapan beliau tentang hal itu, di antaranya adalah: “Kita berada di bangsa muslimin, dan di negri muslimin. Maka tidak boleh bagi kita untuk menumpahkan darah kaum muslimin.” (“Al Ba’its ‘Ala Syarhil Hawadits”/hal. 38/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
            Beliau رحمه الله juga berkata di hal. 53-54: “Kita berlindung pada Alloh dari fitnah-fitnah. Kita bukanlah dai fitnah, ataupun pemberontakan, ataupun revolusi. Ahlussunnah telah mengetahui, dan saudara-saudara kita para pejabat telah mengetahui bahwasanya dakwah Ahlussunnah bukanlah dakwah pemberontakan ataupun revolusi. Sesungguhnya ini adalah aqidah Ahlissunnah, bukan aqidah para ahli bid’ah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من أتاكم وأمركم جامع يريد أن يفرق بينكم فاضربوا عنقه كائنا من كان»
Barangsiapa datang pada kalian dalam keadaan urusan kalian itu satu, dia ingin memecah-belah di antara kalian, maka penggallah lehernya siapapun dia.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
«إذا بويع لخليفتين فاضربوا عنق الآخر منهما».
“Jika ada dua kholifah dibai’at, maka penggallah leher orang yang terakhir dari keduanya.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Maka kita memuji Alloh bisa bersenang-senang di Yaman dengan dakwah. Dan siapakah yang bisa berkata: “sesungguhnya di negri manapun engkau bisa bersenang-senang dengan dakwah sebagaimana engkau bersenang-senang dengan dakwah di negri Yaman”? Maka semoga Alloh membalas saudara kita para pejabat dengan balasan yang baik. Kita berkata: “Sungguh mereka itu bukanlah orang-orang ma’shum.” Mereka bisa benar dan bisa salah. Dan kita mengingkari kesalahan mereka, seperti bank-bank riba, campur baur laki-perempuan di sekolah dan kampus, dan kepartaian, dan seperti parlemen. Kita mengingkari segala sesuatu yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, akan tetapi kita melihat bahwasanya wajib bagi kita untuk saling membantu dengan mereka untuk memelihara negri ini.” Selesai.
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan dakwah Ahlussunnah dengan karunia Alloh, Alloh memberikan berkah padanya. Dakwah mereka ada di kitab-kitab mereka dan kaset-kaset mereka. Pemerintah mau bersabar terhadap mereka karena pemerintah tahu bahwasanya mereka itu tidak menyaingi mereka untuk merebut kursi mereka. Kursi-kursi itu di sisi Ahlussunnah tidak menyamai kotoran onta. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
﴿يَرْفَعِ الله الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾ [المجادلة/11].
“Alloh akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11).
(“Fathul Mujib”/hal. 95-96/Darul Atsar).


            Sesungguhnya di antara yang disebarluaskan oleh ahli batil adalah bahwasanya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله itu mendukung gerakan pemberontakan Juhaiman, dan bahwasanya beliau adalah bapak spiritual mereka. Ini adalah berita dusta atas nama beliau.
            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata dalam tarjumah beliau: “Dulu pernah terjadi ketergelinciran dari sebagian saudara kita yang pemula, karena kebanyakan karakter pemula adalah sikap keras yang berlebihan. Saya saat itu sedang menghadirkan risalah Majister. Pada suatu malam tidak kami tahu kecuali adanya penangkapan terhadap kami. Mereka menangkap sekitar seratus limapuluh orang. Ada juga yang lari. Dunia goncang antara orang yang mengingkari dan orang yang mendukung. Kami tinggal di penjara selama sebulan atau sebulan setengah. Dan setelah itu Alhamdulillah kami keluar dengan bersih.
            Kemudian setelah itu keluarlah beberapa risalah Juhaiman. Maka sekelompok orang dari kami ditangkap. Di waktu penyidikan, mereka berkata pada kami: “Engkaulah yang menulisnya, Juhaiman tak bisa menulis.” Maka aku menyangkalnya, dan Alloh tahu bahwasanya diriku tidak menulisnya dan tidak itu bersekutu dalam penulisan itu. Setelah tiga bulan datanglah perintah untuk mendeportasi orang-orang asing.” (“Tarjumah Abi Abdirrohman Muqbil Bin Hadi Al Wadi’iy”/ditulis oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله/hal. 26-27/Darul Atsar).
            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله pernah ditanya: “Di sana ada orang yang menyebarluaskan bahwasanya Anda dulu adalah bapak spiritual bagi Juhaiman, dan bahwasanya dulu Anda termasuk orang yang mendorongnya untuk membuat fitnah di Tanah Suci. Bersediakah Anda menjelaskan kekeliruan ucapan ini?
            Maka beliau رحمه الله menjawab: “Wahai saudara-saudaraku, apakah kita ingin beramal untuk Islam dan dakwah memenuhi negri dan tersebar di seluruh ufuk, lalu orang-orang yang dengki tidak berbicara? Ini tak mungkin terjadi. Masalah ini (fitnah Juhaiman) tilah kami bicarakan di kitab “Al Makhroj Minal Fitnah”, dan kami juga membicarakannya –semoga Alloh memberkahi kalian- di kaset-kaset yang lain bahwasanya kami dalam kasus Tanah Suci tersebut, saya telah keluar setahun sebelumnya, barangkali belum genap setahun. Jika tidak demikian, sekalipun saya tidak bersama mereka. Iya, mereka itu dulu belajar di tempatku, dan aku berteman dengan mereka. Mereka menganggapku sebagai mufti mereka. Kami keluar untuk safari dakwah. Alhamdulillah, di antara mereka ada mustafidun. Akan tetapi tidaklah datang kejadian tanah suci itu kecuali aku telah pergi. Walhamdulillah.
            Kemudian setelah itu mereka iya, para pendengki. Juhaiman itu aku telah mengingkarinya dan mengingkari teman-temannya sejak aku mengetahui arah tujuannya. Aku telah memutuskan hubungan dengannya sejak keluarnya risalah-risalahnya. Sejak keluarnya risalah-risalahnya aku telah memutuskan hubungan dengannya, walhamdulillah. Dan aku telah menyebutkan di “Al Makhroj” bahwasanya mereka itu adalah bughoh (pemberontak) karena mereka memberontak terhadap pemerintah muslim, wallohul musta’an.” (rekaman ini ditulis oleh Abur Robi’ Sa’id bin Kholifah Wahhabiy di selebarannya “I’lamul Insi Wal Jann”).
            Syaikh kami Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Dulu syaikh رحمه الله ketika belajar di sana, karena kecintaan beliau untuk menyebarkan ilmu, beliau mengajari orang yang senang mengambil faidah dari beliau, sementara seorang pengajar itu terkadang yang hadir di majelisnya adalah orang-orang yang telah beliau kenal dan yang belum beliau kenal. Tidaklah majelis-majelis di sana dilarang hadir di dalamnya kecuali orang-orang khusus. Beliau memiliki nasihat-nasihat seperti mutiara, sama saja dakwah beliau di sana ataupun dakwah beliau di sini. Beliau adalah seorang penasihat yang telah diketahui –insyaAlloh- nasihat beliau di sisi setiap penasihat dan orang yang jujur, serta para dai kepada Alloh dan kepada kebenaran.
            Juhaiman itu adalah seorang pemberontak dan revolusioner, yang fitnahnya tidak diridhoi oleh oleh setiap penasihat. Dia menulis risalah-risalah dan menyebarkannya di hadapan orang-orang yang sholat. Risalah-risalahnya itu diingkari oleh para ulama. Dan syaikh رحمه الله termasuk orang yang mengingkari risalah-risalah tadi, sebagaimana hal itu kami dengar dari syaikh رحمه الله. Dan ini telah disebutkan di sebagian kaset beliau. Dan manakala dalam majelis beliau hadir orang-orang yang tercampuri dengan orang-orang tadi, beliau itu memberikan nasihat sebagaimana nasihat-nasihat beliau yang berharga. Bisa jadi terjadi kesamaran di sisi sebagian pejabat, atau dengan laporan sebagian orang yang dengki dengan beliau di sana, mereka mengira bahwasanya beliau menyetujui mereka, sehingga beliau termasuk dalam orang-orang yang keadaannya tersamarkan. Seandainya beliau termasuk orang yang keadaannya cocok dengan keadaan para pelaku pergerakan dan pemberontakan itu, atau beliau punya andil dalam menggerakkan mereka untuk bergolak dan memberontak, mungkin beliau dihukum dengan hukum orang-orang tipe tadi.
            Akan tetapi sifat pemerintah itu jika tersamarkan bagi mereka keadaan seseorang, atau ada laporan dusta ke mereka, terkadang mereka menangkap orang tadi dan melakukan penyidikan terhadapnya di waktu singkat jika dia punya pengikut, atau selama waktu yang panjang jika dia tak punya pengikut, kemudian setelah itu diapun keluar dari kantor penyidikan insya Alloh. Itu tadi cuma sekedar tuduhan yang tidak pasti. Dan yang semisal ini adalah orang yang terzholimi. Saat mau keluar, dikatakan padanya: “Kami menyesal telah keliru terhadap Anda.”
            Tidak boleh yang seperti ini, sekedar dia itu disidik atau dizholimi dengan keliru, dipakai sebagai dalil bahwasanya beliau melakukan kejahatan tadi. Bahkan beliau itu berarti mendapatkan pahala atas kesabaran beliau menghadapi gangguan yang terjadi yang tidak ada sebab yang mengharuskan untuk disakiti seperti itu.” (“Al Hijaj Li Abdil Karim Al Iryaniy”/karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله/hal. 10-12/cet. Maktabatul Falah).
            Asy Syaikh Al ‘Allamah Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله تعالى berkata: “Di antara berita tentang gerombolan ini adalah: bahwasanya mereka masuk ke Baitil Harom pada hari Selasa di awal hari dari bulan Alloh Muharrom tahun 1400 H. Mereka disertai oleh imam mahdi versi mereka yang dipanggil dengan Muhammad bin Abdillah Al Qohthoniy. Dia disertai dan disemangati oleh juru bicaranya yaitu Juhaiman bin Saif Al ‘Utaibiy. Mereka masuk dengan membawa persenjataan dan amunisi, lalu mereka menuntut dari Muslimin untuk membai’at Mahdi tersebut di bawah pijakan tekanan, pembunuhan dan teror terhadap muslimin secara umum, dan terhadap penduduk tanah suci secara khusus. Ya Alloh, berapa banyaknya darah yang mereka tumpahkan secara zholim dan permusuhan. Dan para ulama telah menyeru mereka untuk turun berdasarkan hukum syari’ah Alloh yang berlaku terhadap mereka, tapi mereka menolak dan memilih melanjutkan jalur kejahatan, kerusakan, kefasiqan, kedurhakaan dan pembangkangan. Maka para tentara Alloh yang pemberani, ahli tauhid dan keberanian dari tentara Saudi bangkit melawan mereka hingga memaksa mereka untuk menyerah. Seratus tujuh puluh dari pemberontak tadi ditangkap hidup-hidup karena mau memenuhi seruan untuk menyerah. Kemudian dilangsungkanlah syari’at Alloh terhadap mereka. Enam puluh tiga orang dihukum mati, dan sisanya berhak untuk diberi hukuman dengan penjara dan cambuk. Dan Alloh mensucikan Tanah Suci yang mulia dari gerombolan pemberontak dan teroris tadi. Tapi yang sangat disayangkan adalah bahwasanya mereka menamakan diri mereka sebagai Jama’atul Hadits. Aku katakan: Sekalipun mereka menghapalkan beberapa lafazh-lafazh hadits, hanya saja mereka diharomkan dari mengetahui makna-maknanya. Dan terhadap orang yang zholimlah beredarnya kecelakaan.” (“Al Irhab”/karya Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy/cet. Darus Salafiyyah).
            Maka jama’ah Juhaiman tidaklah di atas kebenaran, dan tidaklah Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله termasuk dari mereka, dan tidaklah beliau itu menyetujui kebatilan mereka. Beliau رحمه الله berkata: “Mereka berkata pada kita: Juhaimaniyyun, sementara Juhaiman belajar kepadaku dalam jangka waktu yang tidak seberapa.” (“Nubdzatun Yasiroh”/karya Muhammad bin Ali Ash Shouma’iy/hal. 81).
            Beliau رحمه الله juga berkata: “Aku dikabari tentang Ahmad Al Mu’allim di Hadromaut bahwasanya dirinya berkata: “Sesungguhnya saudara kita Salafiyyun tidak sholat di antara tiang-tiang.” Dia berkata: “Ini merupakan penampilan seperti penampilan Juhaiman, diawali dengan sholat memakai sandal, lalu tidak sholat di antara tiang-tiang, lalu mengkafirkan pemerintah.” Padahal si Mu’allim ini dulu adalah salah satu pembantu Juhaiman, sampai aku pergi dari Mekkah ke Madinah, lalu kudapati Ahmad Al Mu’allim, lalu dia berkata: “Marilah kita pergi mengunjungi Juhaiman, dia ada di rumah salah seorang ikhwah.” Maka kujawab: “Aku tidak akan pergi mengunjunginya.” Dia berkata: “Juhaiman telah membaik.” (“Nubdzatun Yasiroh”/karya Muhammad bin Ali Ash Shouma’iy/hal. 81).
            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله ditanya tentang jama’ah ashabil harom (Juhaiman), maka beliau menjawab: “Jama’ah ashabil harom adalah para pelajar yang ingin kebenaran, akan tetapi mereka tidak mendapatkan taufiq untuk itu –sampai pada ucapan beliau:- mereka tidak kokoh di atas kesabaran sehingga tergelincirlah kaki-kaki mereka, dan jadilah mereka sebab tertumpahnya darah di Tanah Suci Mekkah, padahal Robbul ‘Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
﴿وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم﴾ [الحج/25].
“Dan barangsiapa ingin ilhad di situ([16]) dengan kezholiman, Kami akan menjadikannya merasakan sebagian dari siksaan yang pedih.”
            Dan di dalam “Ash Shohih” dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«أبغض الناس إلى الله ثلاثة: ملحد في الحرم، ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية، ومطلب دم امرئ بغير حق ليريق دمه».
"Tiga jenis manusia yang paling dibenci oleh Alloh: mulhid (pembuat penyelewengan syariat) di tanah harom, orang yang mencari sunnah jahiliyyah dalam berislam, orang yang menuntut darah seseorang untuk ditumpahkan tanpa haq." (HR. Bukhori (no. 6882, bab Man Tholaba Dam Imriin, cet. Darul Kitab Al-Arobi) Dari Ibnu 'Abbas –rodhiyallohu 'anhuma-).
            Maka Jama’atul Harom itu termasuk pemberontak yang memberontak terhadap pemerintah muslim…” (“Ijabatus sail”/hal. 481/Darul Atsar).
            Penjelasan ini cukup dalam memusnahkan tuduhan orang-orang yang zholim terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله bahwasanya beliau punya pemikiran khowarij dan Juhaimaniyyah.


            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله sang pembaharu agama di Yaman telah wafat, dan beliau meninggalkan warisan yang agung, yaitu dakwah yang besar, maka peninggalan ini harus dipelihara, karena tangan-tangan setan terjulur kepadanya untuk merusaknya, sampai-sampai sebagian dari mereka berkata: “Masa ketakutan telah berlalu,” dan dia melihat bahwasanya jalan terbuka baginya untuk mengambil kepemimpinan dakwah yang bersih, menuju ke arah bibir jurang.
Akan tetapi Alloh menjaga agama-Nya, maka Dia memberikan taufiq kepada sang Imam sebelum wafatnya untuk memilih penggantinya yang berbakti dan terpercaya, yaitu syaikhuna Al ‘Allamah Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله untuk melanjutkan dakwah salafiyyah yang telah memenuhi ufuk-ufuk dunia dan menghantam benteng-benteng ahli batil dengan berbagai jenisnya. Maka Alloh menjaga dengan beliau dan orang-orang yang bersama beliau agama umat ini, dan Alloh menguji sang Kholifah ini dengan ujian yang datang silih berganti demi hikmah yang diinginkan oleh Sang Pelindung.
Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة، فما يبلغها بعمل فما يزال الله يبتليه بما يكره، حتى يبلغه إياها».
“Sesungguhnya ada seseorang yang dia itu punya kedudukan di sisi Alloh tapi dia tidak mencapainya dengan amalannya, maka Alloh terus-menerus mengujinya dengan apa yang dibencinya hingga Dia menyampaikannya ke kedudukan tadi.” (HR. Abu Ya’la (no. 6095)/Darul Ma’mun Lit turots dan yang lainnya. Sanadnya hasan. Dan dihasankan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله di “Ash Shohihah” (no. 1599)/Maktabatul Ma’arif).
            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan jika ujian itu membesar, maka yang demikian itu bagi seorang mukmin yang sholih merupakan sebab untuk mencapai ketinggian derajat dan agungnya pahala,…” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 152-153/cet. Maktabah Ibni Taimiyyah).
            Dan berikut ini adalah sekelumit dari biografi beliau رعاه الله: Syaikhuna Yahya setelah dibujuk-bujuk dan dituntut oleh orang banyak untuk menyebutkan sedikit dari perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, dan menceritakan kenikmatan yang Alloh berikan pada beliau, sementara menceritakan nikmat adalah bagian dari syukur, maka beliau berkata:
الحمد لله حمداّ كثيراً طيباً مباركاً فيه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد:
            Saya telah diminta untuk menulis sekelumit dari kelahiranku, namaku, negriku, pertumbuhanku, dan sebagian perkara yang terkait dengannya. Dan setelah permintaan yang berulang-ulang dari orang-orang yang saya cintai –semoga Alloh memuliakan mereka-, saya berpandangan untuk memenuhi tuntutan mereka dengan menulis baris-baris berikut ini. Maka saya katakan dengan taufiq dari Alloh:
Adapun nama saya: saya adalah Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy, dan kabilah bani Wahan, dari desa Hanjaroh di kaki gunung Ku’aidanah –saya mohon pada Alloh agar memuliakan mereka dengan mencari limu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya-.
Kemudian kakekku Ahmad bin Ali bin Ya’qub pindah ke suatu desa yang agak jauh yang dinamakan sebagai desa Jabar kabilah Zaghobiyyah. Beliau menikah dengan wanita mereka. Maka mereka adalah paman-paman ayahku. Ayahku tumbuh di antara mereka di sebagian kerabatnya, dan menikah dengan wanita mereka juga, dengan ibuku, dari keluarga ‘Iqol, desa Zaghobiyyah –semoga Alloh merohmati orang yang meninggal dari mereka, dan memperbaiki orang-orang yang masih hidup dari mereka-. Di sanalah kelahiranku sebelum sekitar empat puluh tahun yang lalu, di hari-hari yang dinamakan dengan “Pemberontakan Republik Yaman.”
            Ayahku –semoga Alloh menjaganya dan memanjangkan umurnya dalam ketaatan pada-Nya- sangat senang bercocok tanam. Beliau biasa menanam di area pertanian yang luas yang darinya beliau mendapatkan harta yang banyak berupa dzurroh (sejenis jagung), simsim (sejenis wijen) dan yang lainnya, hingga sebagian orang sering mengutang pada beliau dzurroh dan qoshob (bambu) ketika terjadi kemarau. Beliau juga dikaruniai Alloh binatang-binatang ternak seperti kambing dan sapi. Maka sebagai puji hanya milik Alloh, dari sisi penghidupan beliau pada keadaan terbaik.
            Beliau juga mendidikku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang baik, jauh dari qot (sejenis ganja), rokok, syammah (semacam narkotika yang lebih keras daripada kot) yang berbagai penyebab bencana yang lain. Dan termasuk perkara yang paling berat bagi beliau adalah jika beliau melihat salah seorang dari kami kurang dalam menunaikan ibadah sholat jama’ah atau rowatib. Dan perkara yang paling beliau sukai adalah jika sebagian dari kami menjadi seorang alim, sementara di sana tidak ada kecuali ta’lim di para penulis. Maka beliau menaruhku di suatu tempat yang namanya: Mi’lamatusy Syaikh, orang kepercayaan desa itu, orang faqih dan khothib mereka yang bernama Yahya Al ‘Utabiy رحمه الله . Dan pengajaran di Mi’lamah tersebut adalah sebagaimana system pendidikan zaman dulu, pengajaran bacaan Al Qur’an dengan melihat ke mushhaf, pengajaran khothth (menulis bentuk huruf dan susunan kata). Dan orang yang lulus darinya biasanya menjadi orang faqih bagi desa tersebut sebagai imam dan khothib dengan membaca buku-buku khothbah, juga menjadi pencatat transaksi dan yang lainnya. Dulu Al Faqih Al ‘Utabiy رحمه الله lebih menyukaiku daripada mayoritas murid-muridnya.
Ketika saya telah lulus dari Mi’lamah tersebut dengan membaca Al Qur’an sambil melihat ke mushhaf, pengetahuan tentang khothth, ayahku bertekad untuk membawaku pergi ke kota Zaidiyyah karena tersebar di kalangan masyarakat di sana bahwasanya Zaidiyyah tersebut adalah kota ilmu, dan bahwasanya mereka itulah ahli fatwa tentang tholaq, warisan dan sebagainya.
            Ayahku حفظه الله itu senang pada ilmu dan agama, banyak berpuasa dan sholat. Dan saya tidak mengetahui bahwasanya beliau pernah memakan makanan yang harom senilai satu dirhampun. Akan tetapi beliau ketika itu tidak mengetahui tentang Shufiyyah, Syi’ah ataupun sekte-sekte sesat yang lain sedikitpun. Beliau memuliakan mereka, dan mereka sering mengunjungi beliau. Barangsiapa dari mereka mengunjungi beliau, beliaupun memuliakannya dengan pemuliaan yang besar. Maka Alloh عز وجل menyelamatkan diriku dari belajar di kalangan para Shufiyyah itu dengan ibuku -semoga Alloh menjaganya dan memperbagus penutup hayatnya- yang mana ibuku mulai menangisiku agar saya tidak pergi dan tinggal di selain negriku sendirian tanpa pengiring dari negriku padahal saya masih kecil. Maka ayahku membiarkan saya menggembala kambing. Beliau حفظه الله adalah orang yang pertama membangun masjid dari kayu dan jerami di desa kami yang mana mereka ada di sana sekarang ini. Itu adalah masjid kecil yang bisa menampung sekitar empat puluh orang yang sholat saat itu, menjadi masjid jami’ untuk sejumlah desa di sekitarnya. Ketika masjid itu runtuh, beliau membangunnya dari batu dan memperluasnya, dan saya sebagai imamnya. Pada hari Jum’at ayah mencarikan orang untuk menggantikanku menggembala kambing, sementara saya berkhothbah untuk mereka dengan buku khothbah. Yang sering kali saya pakai sebagai pegangan saat itu adalah “Al Futuhatur Robbaniyyah” karya Al Baihaniy رحمه الله hingga saya hampir-hampir menghapalnya karena seringnya saya mengulangnya.
            Kemudian setelah itu saya berangkat ke Saudi. Saya hadir di majelis pembacaan Al Qur’an usai sholat Fajr di hadapan Fadhilatusy Syaikh Al Muqri yang terkenal Ubaidulloh Al Afghoniy حفظه الله di kota Abha, dan kami mendengarkan dari beliau sedikit pelajaran Shohih Muslim yang beliau mulai sebelum membacakan Al Qur’an untuk kami. Kemudian beliau safar, saya pindah ke Asy Syaikh Al Muqri Muhammad A’zhom yang mengajarkan Al Qur’an di masjid Alu Yahya. Saya membaca Al Qur’an kepada keduanya sampai ke surat Al A’rof. Lalu syaikh tersebut berangkat safar juga. Dan saya menyempurnakan bacaan dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim di hadapan Al Muqri Muhammad Basyir. Segala pujian hanya bagi Alloh.
            Dan bersamaan dengan kecintaanku yang besar terhadap ilmu di sana, saya tidak mendapatkan orang yang membimbingku untuk bergabung dengan majelis Asy Syaikh Al Imam ibnu Baz dan yang lainnya dari kalangan ulama kerajaan Saudi, yang menyelenggarakan ta’lim رحمهم الله. kemudian saya mendengar tentang Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan bahwasanya beliau itu adalah seorang alim salafiy, yang mengajarkan ilmu-ilmu Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم di Dammaj –semoga Alloh menjaganya dan memberikan taufiq pada penduduknya untuk segala kebaikan- salah satu desa di wilayah So’dah. Maka saya bergabung dengan beliau di markiz beliau yang diberkahi pada tahun 1405 Hijriyyah Nabawiyyah, semoga sholawat dan salam tercurah pada Nabi yang hijroh tersebut.
            Ayahku datang bersamaku dan mewasiatkan diriku pada syaikh رحمه الله dengan kebaikan. Lalu beliau pulang. Syaikh terus-menerus membantuku untuk menuntut ilmu dengan bantuan harta dari waktu ke waktu. Saya terus-menerus tinggal di markiz sejak tanggal tersebut untuk belajar, saya tidak senang memperbanyak bepergian, dan tidak senang hilangnya sedikit saja dari waktu yang ada, sampai Alloh عز وجل dengan karunia-Nya melalui tangan syaikh kami Al Allamah Al Muhaddits As Salafiy yang diberkahi Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله memudahkan diriku dengan kebaikan yang banyak, yang berupa pengambilan faidah pada beraneka ragam ilmu.
            Dan sebagaimana yang terjadi di markiz yang diberkahi ini, saya menggabungkan kepada ilmu yang kami terima dari syaikh kami –syaikh bagi masyayikh dakwah salafiyyah di Yaman, Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله- sebagian dars tentang nahwu, aqidah dan fiqh,…yang kami terima dari sebagian masyayikh yang mulia yang termasuk dari murid syaikh kami Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang senior di markiz ini. Semoga Alloh mensyukuri mereka semua.
Dan setelah itu, syaikh kami Muqbil –semoga Alloh menempatkan beliau di Firdaus yang tertinggi- memerintahkan diriku untuk menggantikan beliau dalam mengajar jika beliau sakit atau bepergian. Dan manakala ajal beliau رحمه الله telah dekat beliau mewasiatkan untuk menggantikan beliau sepeninggal beliau nanti.
Saat itu para musuh markiz ini mengira dengan dugaan yang buruk bahwasanya dakwah ini akan hilang dengan wafatnya syaikh رحمه الله , dan bangunan markiz ini akan menjadi kandang dan majelis menghisap kot, sebagaimana kami dengar dan didengar oleh yang lain, pada masa sakitnya syaikh dan sebelum itu.
Manakala Alloh menghadapkan hati para hamba kepada kebaikan ini setelah wafatnya syaikh رحمه الله  , dan dakwah meluas lebih banyak lagi, dan jadilah jumlah para penuntut ilmu berlipat-lipat lebih banyak daripada yang di masa hidup pendiri markiz ini syaikhunal Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Hal itu menyebabkan jengkelnya sebagian orang yang tertimpa penyakit dengki dari kalangan orang yang dulunya adalah murid syaikh رحمه الله dan yang lainnya dari kalangan pemilik hasrat-hasrat keduniaan dan fitnah hizbiyyah. Maka Alloh menolak kejelekan mereka dan menghancurkan makar mereka.
Dakwah ini senantiasa maju ke depan di seluruh kebaikan, dan karunia itu adalah milik Alloh sebelumnya dan sesudahnya. Dialah yang berfirman:
﴿وما بكم من نعمة فمن الله﴾
“Nikmat apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”
Maka kita mohon pada Alloh عز وجل untuk menjaga agama kita dan dakwah kita, dan menolak dari kita dan dari negri kita serta seluruh negri muslimin fitnah yang nampak ataupun yang tersembunyi. Dan segala puji bagi Alloh Robbul ‘Alamin.
Ditulis oleh: Abu Abdirrohman Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy
Pada tanggal 19 bulan Jumadil Awwal 1428 H.
(selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy” yang disusun oleh Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Pendidikan Yang Diselenggarakan Syaikh Yahya حفظه الله di Darul Hadits

            Saudara kita yang mulia Abu Basyir Muhammad Al Hajuriy([17]) رحمه الله berkata: Maka sesungguhnya Alloh telah memberikan kita kenikmatan dengan nikmat yang banyak yang tak bisa dihitung. Alloh ta'ala berfirman:
﴿وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴾ [إبراهيم:34].
"Dan jika kalian menghitung nikmat Alloh niscaya kalian tak bisa menghinggakannya Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS Ibrohim 34)
Maka bagi-Nya sajalah pujian atas setiap kenikmatan yang dikaruniakannya, setiap karunia yang diberikannya pada kita. Dan di antara kenikmatan yang paling agung adalah nikmat Islam, nikmat Sunnah. Nikmat menuntut ilmu syar'y, ilmu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam dengan pemahaman salafush sholih, pada zaman di mana kebodohan, kebid'ahan dan aqidah yang menyimpang telah merajalela.
Maka milik Alloh sajalah pujian dan karunia atas petunjuk-Nya untuk menuntut ilmu syar'y di markiz yang penuh berkah ini, di hadapan Syaikh kami Al Imam Al Mujaddid Muqbil bin Hadi Al Wadi'y –semoga Alloh merahmati beliau dan menempatkan beliau di Jannah-jannah-Nya yang luas rohimahulloh.
Kemudian, segala pujian bagi Alloh yang mengokohkan kami untuk melanjutkan menuntut ilmu di hadapan pengganti beliau dalam dakwah Al Allamah An Nashihul Amin Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- yang menjadi sebab kokohnya kebaikan ini di markiz yang mubarok ini (Darul Hadits di Dammaj) sepeninggal pendirinya Syaikh kami Imam Al Wadi'y rohimahulloh. Para penuntut ilmu masih terus-menerus mengambil manfaat dari salah satu sumber kebaikan ini, dan mengambil faidah dari syaikh ini –semoga Alloh memberi beliau taufiq-, dan mereka berdatangan dari berbagai negri ke tempat beliau ini.
Pelajaran-pelajaran beliau terus berlangsung. Beliau pada saat awal shubuh mengimami kami sholat shubuh di Darul Hadits Dammaj. Alloh telah mengaruniai beliau suara yang baik saat membaca Al Qur'an. Lalu seusai sholat dan berdzikir, pelajar atau para tamu dan pengunjung yang ingin berangkat safar berdiri meminta idzin kepada beliau.
Ada juga sebagian pelajar atau pengunjung yang punya pertanyaan yang mesti disegerakan mengajukannya kepada beliau. Setelah itu beliau membacakan Al Qur'an -ke salah seorang pengawal- sesuai dengan yang dimudahkan oleh Alloh, beberapa juz, atau lebih atau kurang. Beliau telah hapal Al Qur'an dan punya perhatian yang baik dalam muroja'ah Al Qur'an dan mengambil pendalilan darinya dan hukum-hukumnya. Karena itulah beliau tidak keluar dari masjid untuk pulang ke rumah pada jam ini, kecuali jika sakit, atau karena urusan yang tak bisa tidak, lalu beliau sholat dhuha setelah terbitnya matahari.
Setelah itu beliau berangkat untuk mengisi beberapa pelajaran. Pada tahun ini 1430 H beliau mengajarkan "Subulus Salam" karya Imam Ash Shon'any rohimahulloh, dan "I'lamul Muwaqqi'in" karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh. Sebelumnya pada jam seperti ini beberapa kitab telah selesai dibaca, diberi catatan kaki dengan penjelasan yang baik, dihadiri oleh sejumlah besar para pelajar. Kitab bermanfaat yang terpenting yang telah dibaca pada jam ini adalah "Zadul Ma'ad" karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, "Al Iman Al Ausath" karya Syaikhul Islam rohimahulloh, "Muqoddimah Ushulut Tafsir" karya Syaikhul Islam rohimahulloh juga, dan telah dicetak dengan syaroh beliau. Juga "Ar Risalah" karya Imam Asy Syafi'y rohimahulloh, "Syarhu 'Ilalit Tirmidzy" karya Imam Ibnu Rojab rohimahumalloh, sekarang sedang dirapikan untuk dicetak dengan catatan kaki beliau, "Al Adzkar" karya Imam An Nawawy rohimahulloh, "Hadil Arwah" karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, "Tathhirul 'I'tiqod" karya Imam Ash Shon'any rohimahulloh, dan "Al Mauqizhoh" karya Imam Adz Dzahaby rohimahulloh.
Setelah pelajaran tadi, beliau masuk rumah untuk melanjutkan pembahasan yang sampai sekarang telah mendekati seratus pembahasan. Sebagiannya telah dicetak, sebagiannya dalam proses, sebagian masih berupa makhthuthoh (tulisan tangan). Beliau melakukan pembahasan semampunya, lalu istirahat siang. Terkadang datanglah para tamu yang perlu dilayani segera, sehingga  para pengawal mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkannya, lalu beliau duduk-duduk dengan tamu tadi. Di antara yang datang pada jam-jam tadi adalah para masyayikh kabilah, atau para pejabat yang datang berkunjung, atau sebagian mereka punya kesulitan dan kasus-kasus yang harus segera dipecahkan.
Lalu beliau keluar untuk sholat zhuhur. Setelah sholat dan dzikirnya, beliau mendirikan sholat ba'diyyah zhuhur, lalu mengajar "Tafsir Ibnu Katsir" atau "Al Jami'ush Shohih" karya syaikh kami Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi'y rohimahulloh, secara berselang seling tiap harinya, kecuali hari Jum'at, tiada pelajaran sebelum sholat Jum'at (juga setelah sholat Jum'at).
Dalam setahun jarang sekali hari-hari berlalu tanpa adanya tamu-tamu. Dan yang demikian itu karena banyaknya pelajar dan pengunjung. Terkadang tempat tinggal beliau tidak cukup menampung tamu, sehingga mereka ditempatkan di ruang "Dewan Tamu" yang menempel berdampingan dengan rumah beliau.
Terus-menerus beliau menyemangati para ikhwan untuk memuliakan para tamu, atau beliau sendiri memuliakan para tamu dan mendekatkan makanan kepada mereka dengan tangan beliau sendiri. Setelah itu beliau kembali melanjutkan pembahasan beliau dan menjawab soal-soal dengan tulisan tangan dan lain-lain hingga waktu 'Ashr. Lalu beliau keluar untuk sholat 'Ashr, dan selanjutnya mengajarkan "Shohih Imam Al Bukhory".
Setelah para pelajar membacakan hadits hari kemarin secara berkelompok-kelompok –karena mereka banyak-, beliau mengeluarkan faidah-faidah dari hadits-hadits dengan istimbath yang bagus dan mengagumkan, serta mendapat taufiq. Mereka menghapalkan "Shohih Al Bukhory" bersamaan dengan kebanyakan dari mereka itu menghapal Al Qur'an, kecuali sebagian orang yang bersikap kurang. Padahal Syaikh telah menyemangati mereka untuk menghapal Kitabulloh dan menghapal sebagian dari sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Sebagiannya menghapal "Bulughul Marom", yang lain menghapal "Shohih Muslim", yang lain menghapal "Riyadhush Sholihin", "Alfiyah Ibnu Malik", "Kitabut Tauhid" karya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdy rohimahulloh, "Lum'atul I'tiqod", "Al Washithiyyah", "Ath Thohawiyyah", "Al Waroqot", "Mulhatul I'rob", "Al Baiquniyyah", "Qoshobus Sukkar", "As Saffariniyyah", "Al Muqizhoh", dan hapalan yang lainnya banyak sekali, sama saja dalam bidang tauhid, aqidah, nahwu, mushtholah dan yang lain.
Dan setelah itu beliau pergi menemui para tamu beliau di "Majelis tamu", menyampaikan nasihat, menjawab soal-soal mereka, jika ada kesulitan yang perlu diuraikan di antara pelajar, beliau menghukumi dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahan Salaf.
Sebagian pelajar –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengan mereka- tidak pernah berselisih dengan yang lainnya sama sekali, selama bertahun-tahun di markiz ini. Ada sebagian mereka yang punya faidah ilmu yang dengannya bisa mendirikan markiz di negri manapun. Jika ada seseorang yang ingin mendirikan dakwah di negrinya, Syaikh memberinya pengarahan untuk itu. Jika beliau melihat mereka itu di atas As Sunnah, dan masyarakatnya menerima As Sunnah, sama saja di Yaman ataupun di luar Yaman.
Lalu beliau memberikan nasihat singkat pada para tamu, terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. terkadang menjadikan jawaban itu terbuka dalam pelajaran umum antara maghrib dan 'Isya. Seringkali para tamu tadi berasal dari berbagai wilayah Yaman dan luar Yaman.
Lalu beliau masuk rumah, makan ifthor jika hari itu berpuasa Senin Kamis, atau Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15), lalu keluar sholat Maghrib. Seusai sholat Maghrib dan dzikirnya serta sholat ba'diyyah beliau mengajar "Shohih Muslim", lalu "Sunan Shughro lil Baihaqy", setelah itu "Iqtidho'ush Shirothil Mustaqim", karya Syaikhul Islam.
Pada awal jam pelajaran –antara maghrib dan Isya- ada banyak pelajaran singkat disampaikan, dibacakan secara hapalan oleh sebagian pelajar yang mayoritasnya anak-anak yang disemangati untuk berani menghapal, lalu Syaikh menjelaskannya secara bagus. Telah terbit syaroh dari pelajaran ringkas sebelum jam "Shohih Muslim" tadi: "Syarhu Lamiyah Ibnul Wardy", "Syarhul Wasithiyyah", "Syarhus Saffariniyyah", "Syarhul Baiquniyyah", "Syarhu Qoshidah Ghoromi Shohih", "Syarhu Manzhumatu Ibni Taimiyyah fi Rodd 'alal Qodariyyah" yang berbentuk argumentasi Yahudi dan jawaban Syaikhul Islam terhadapnya, "Syarhu Lamiyyatu Syaikhil Islam" sedang dicek dan dirapikan, dan yang lainnya.
Setelah beliau memberikan catatan terhadap pelajaran singkat tadi, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengunjung. Jika tiada pengunjung, beliau menjawab problematika para pelajar, memberikan nasihat, dan pengarahan. Dengan jawaban dari soal-soal tadi telah keluar lima jilid kitab yang berjudul: "Al Kanzuts Tsamin fil Ijabah 'an Asilati Tholabatil 'Ilmi waz Zairin". Dan satu jilid lain yang berjudul "Ithafil Kirom Bil Ijabati 'an Asilatiz Zakah wal Hajj Wash Shiyam", serta satu jilid lain yang berjudul "Al Ifta 'alal Asilatil Waridah Min Duwalin Syatta" dan yang lain masih banyak yang belum tercetak. Dan karunia hanyalah milik Alloh semata.
Di sebagian malam beliau mengadakan ceramah lewat telpon yang disalurkan ke berbagai masjid di dalam Yaman dan luar Yaman. Jika para pelajar tahu bahwasanya beliau akan mengadakan ceramah lewat telpon pada malam itu banyak dari mereka meletakkan telpon-telpon genggam, semuanya menyalurkan ceramah telpon tadi ke kampung masing-masing, dan dihasilkan dengannya manfaat yang besar.
Telah dicetak dua jilid dari khuthbah dan ceramah tadi, dan masih ada yang tersisa dan dipersiapkan untuk dicetak dalam jilid berseri dengan judul "Ishlahul Ummah Bil Khuthob Wal Mawa'izh Minal Qur'an Was Sunnah."
Seusai sholat 'Isya terkadang beberapa pelajar masuk bersama beliau untuk menguraikan sebagian problematika, dan musyawaroh yang memang harus diselesaikan.
Kemudian setelah itu beliau terkadang menjawab soal-soal lewat telpon dari berbagai negara atau dari dalam Yaman. Terkadang mereka meminta nasihat pada beliau, lalu beliau memberikannya pada mereka dan menjawab soal-soal mereka sekitar satu jam. Lalu beliau kembali mengurusi pembahasan sebagian ikhwan para pelajar, memberikan muqoddimah, lalu tidur.
Beliau memiliki bagian untuk sholat malam. Bersamaan dengan semua kesibukan itu beliau juga memiliki keluarga yang besar, beliau mengurusinya sesuai dengan yang diwajibkan oleh Alloh sesuai dengan kadar kemampuan. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan, dan semoga Alloh memberikan dengannya manfaat buat Islam dan muslimin.
Karena perkara ini semua, dan juga kecemburuannya terhadap sunnah, pembelaannya terhadap sunnah dan ahlussunnah, dan kekokohan beliau di depan kebatilan dengan menggenggam kebenaran dan menyampaikan nasihat, dan keteguhan beliau di atas Al Kitab dan As Sunnah, para pelajar dan saudara yang sholih dan para penasihat mencintai beliau, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh kami Imam Al Wadi'y rohimahulloh, dalam muqoddimah "Dhiya'us Salikin", dan banyaklah musuh-musuh beliau yang hasad dan dendam. Tapi mereka tak bisa memperoleh kemenangan apapun selain sekedar gangguan. Hal ini dikarenakan beliau itu –sebagaimana diketahui dari sifat beliau- sangat membenci fitnah, membenci kezholiman dan permusuhan. Jika ada orang yang berbuat jahat padanya atau pada dakwah yang mubarokah ini, berdirilah beliau dengan kesungguhan untuk menolak kejahatan tadi, dengan saling bantu bersama ikhwan yang baik dari kalangan pelajar, masyarakat, yang banyak yang lain. Lalu Alloh menolak kejahatan tadi terhadap beliau dan terhadap dakwah ini, dan Alloh 'Azza Wajalla menolongnya.
Inilah petikan singkat tentang Darul hadits di Dammaj dan jadwal acara Syaikhnya sepeninggal Syaikh kami Imam Al Wadi'y rohimahulloh, dan inilah kegiatan harian beliau yang telah diketahui bersama oleh para pelajar Darul Hadits ini. Kutulis perkara ini sebagai penjelasan atas kezholiman orang yang menghinakan kerja keras yang bermanfaat untuk Islam dan muslimin tadi, baik kezholiman itu berasal dari orang yang hidup di markiz ini dan dibimbing di hadapan Syaikh Yahya hafizhohulloh, lalu menguraikan kembali benang yang telah dipintal dan bergabung dalam rombongan hizbiyyin yang dendam kepada beliau dan berbalik arah bersikap buruk terhadap kerja keras yang bermanfaat ini.
فقطع دابر القوم الذين ظلموا والحمد لله رب العالمين.
"Maka dimusnahkanlah kaum yang zholim tadi hingga ke akar-akarnya, dan segala pujian kesempurnaan hanyalah bagi Alloh Robb semesta alam."
Ditulis Oleh:
Abu Basyir Muhammad bin Ali Az Za'kary Al Hajuriy

Kesabaran beliau menghadapi penyakit

Berkali-kali syaikhuna Yahya حفظه الله didera oleh penyakit badan, terkadang sampai diinfus, terkadang sampai melipatgandakan kadar obat yang harus dikonsumsi. Sekalipun demikian belum pernah saya melihat beliau membolos dari jam mengajar karena sakit. Terkadang sakit tersebut bisa beliau sembunyikan selama jam pelajaran berlangsung, terkadang tampak dari roman wajahnya. Tapi tidak pernah beliau mengeluh di hadapan kami. Bahkan pada bulan-bulan ini, saat risalah ini saya susun, beliau berkali-kali diserang sakit kepala, tipus dan lain-lain, sementara di luar markiz ancaman serangan Rofidhoh belumlah sirna. Semoga Alloh menjaganya, menyembuhkannya, dan menolongnya.

Ujian yang menimpa Syaikhuna Yahya dan para murid beliau

            Terus-menerus ujian demi ujian turun menimpa syaikh kami yang mulia dan para murid beliau حفظهم الله sejak wafatnya sang pendiri markiz Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله sampai hari ini (bulan Rojab 1433 H). Dan tidaklah turun satu ujianpun kecuali Alloh menyusulinya dengan solusi, pertolongan dan ketinggian kedudukan. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ * وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُون﴾ [الصافات/171-173].
“Dan sungguh telah lewat kalimat Kami untuk para hamba Kami dari kalangan para Rosul, sesungguhnya mereka itulah yang tertolong, dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang akan menang.”
            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: "Dan barangsiapa diketahui oleh Alloh kejujurannya,Alloh ta'ala akan menolongnya." ("Majmu'ul Fatawa"/1/hal. 373).
            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkanya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membuat tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi keperluannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 430/cet. Darul Hadits).
            Abul Hasan Mushthofa bin Isma’il Al Mishriy Al Ma’ribiy bangkit dengan fitnah yang besar sepeninggal Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله (tahun 1433 H). maka terjadilah kegoncangan di Darul Hadits di Dammaj, dan meluaslah fitnahnya di banyak negri. Dulu Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengetahui sebagian kebatilannya itu, lalu beliau membantahnya dan menyingkapkannya untuk manusia. Tapi justru banyak masyayikh dan pelajar yang mengingkari Asy Syaikh Yahya حفظه الله . Maka beliau bersabar, beliau dan para muridnya yang berbakti bersabar sambil menyodorkan penjelasan dan penerangan, hingga Alloh ta’ala menerangi mata hati manusia, lalu mereka mengakui kebenaran nasihat beliau tentang Abul Hasan.
            Kemudian datanglah fitnah Sholih Al Bakriy, dia membuat kegoncangan di dakwah Salafiyyah, dan mengadu domba antar ulama, serta memperingatkan manusia dari markiz Dammaj. Maka Asy Syaikh Yahya حفظه الله bersabar menghadapi mereka dan menjelaskan keadaan Al Bakriy hingga Alloh ta’ala membuka mata-mata manusia, sehingga mereka kemudian mengingkari Sholih Al Bakriy dengan sekeras-keras pengingkaran. Dan saat ini –akhir dari bulan Jumadats Tsaniyah 1433 H- Sholih Al Bakriy meminta maaf pada Asy Syaikh Yahya dan pada para salafiyyin atas apa yang telah lalu dari perbuatannya. Maka Asy Syaikh حفظه الله memaafkannya.
            Kemudian datanglah kegoncangan yang dibuat oleh Abu Malik Ahmad bin Ali Ar Riyasyi, dan tampak jelas pengkhianatannya, dan keinginannya agar syaikh turun dari kursi beliau. Maka diapun diusir dari markiz, lalu pupuslah dengan cepat.
Kemudian datanglah fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy Al Mar’iy pada tahun 1427 H, membuat kegoncangan besar dan mencerai-beraikan dengannya salafiyyun di kebanyakan negri. Telah nampak dari ucapan-ucapan dia dan kawanannya dan upaya mereka bahwasanya mereka ingin seluruh pelajar Dammaj pindah ke Fuyusy. Dan mereka giat untuk mengadu domba antar ulama. Maka fitnah mereka lebih besar daripada fitnah-fitnah yang sebelumnya. Orang ini termasuk perusak terbesar dalam dakwah salafiyyah. Dan fitnahnya belum berakhir sampai hari ini (awal bulan Rojab 1433 H), hanya saja Alloh عز وجل menghinakannya disebabkan oleh kriminalitasnya.
Kemudian datanglah fitnah Rofidhoh Hutsiyyun zanadiqoh, orang-orang kafir. Mereka berusaha untuk memusnahkan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar Darul Hadits di Dammaj حفظهم الله dalam pemberontakan mereka yang keenam pada tanggal 3 Romadhon 1430 H sampai dengan tanggal 28 Shofar 1431 H. serangan mereka itu gagal total.
Kemudian mereka melakukan upaya pada kali berikutnya dengan melakukan pengepungan dan blokade terhadap Dammaj, sebelum bulan Romadhon 1432 H setahap demi setahap hingga mereka mulai melontarkan peluru pada tanggal 7 Dzul Hijjah 1432 H, lalu terus bertambah sengit sampai berakhir pada tanggal 1 Shofar 1433 H. perang yang ketujuh ini lebih dahsyat dan lebih banyak korban daripada perang keenam.
Sungguh Alloh telah menyabarkan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan para muridnya yang berbakti حفظهم الله untuk menjalani ujian-ujian ini semua, dan semoga Alloh menjadikan mereka termasuk dalam rombongan orang-orang yang beruntung:
﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا * لِيَجْزِيَ الله الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾.[الأحزاب/23، 24]
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan beliau itulah yang berkata: “Penjagaan agama kami lebih kami cintai daripada penjagaan jiwa-jiwa kami.” (dicatat tanggal 11 Muharrom 1432 H).
Dan beliau juga yang berkata: "Kami telah menghibahkan jiwa kami untuk dakwah salafiyyah dan kami tidak mencari dengannya pengganti.
﴿فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ﴾ [يونس:32].
 "Maka tidak ada setelah kebenaran selain kesesatan. Maka ke manakah kalian dipalingkan?"" (kitab "Adhrorul Hizbiyyah"/Syaikh Yahya -hafidhahulloh-/hal. 37-38)


Pasal Satu: Karya Tulis Beliau

            Termasuk yang menunjukkan luasnya ilmu Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan kuatnya beliau dalam membahas suatu masalah adalah: banyaknya karya tulis ilmiyyah beliau. Abu Manshur Ats Tsa’alabiy رحمه الله berkata: “Kitab seseorang merupakan alamat dari akalnya. Bahkan dia merupakan timbangan kadar dirinya dan lisan keutamaannya.” (“Yatimatud Dahr”/3/hal. 282).
            Di antara karya tulis Syaikhuna حفظه الله adalah sebagai berikut:
1-      Ahkamul Jum’ah Wa Bida’uha
2-      Dhiyaus Salikin Fi Ahkam Wa Adabil Musafirin
3-      Ahkamut Tayammum
4-      Kasyful Wi’tsa Fi Zajril Khubatsaid Da’ina Ila Musawatin Nisa Bir Rijal Wa Ilgho Fawariqil Untsa
5-      Ar Riyadhul Mustathobah Fi Mafaridish Shohabah
6-      Jami’ul Adillah Wat Tarjihat Fi Ahkamil Amwat
7-      At Tabyyin Fir Rodd ‘Ala Ahmad Nashrillah
8-      Talkhishul ‘Ilal Lid Daruquthniy Ma’al Fahrosah
9-      Ats Tsamrud Dani Bitatabbu’ Ma U’illa Fis Sunanil Kubro Lil Baihaqiy
10-  Ikhtashorul Bidayah Wan Nihayah
11-  Ta’aqqubatun ‘Alas Suyuthiy Fi Kitabihil Hawi
12-  Tahqiq Mushonnaf Abdirrozzaq (bersama beberapa murid beliau)
13-  Tahqiq Fathul Bari (bersama beberapa murid beliau)
14-  Al ‘Urful Wardiy Fi Tahqiq Muqoddimah Sunanid Darimiy
15-  Al Luma’ ‘Ala Ishlahil Mujtama’
16-  Syarh Mulhatil I‘rob
17-  Al Arba’unal Hisan Fi Fadhlil Ijtima’ ‘Alath Tho’am
18-  Syarh Kitabil Muntaqo Libni Jarud
19-  Tahqiq Kitab Akhlaqil ‘Ulama Lil Ajurriy
20-  Syarh Muqoddimah Ushulit Tafsir Libni Taimiyyah
21-  Jalsah Sa’ah Fir Rodd ‘Alal Muftin Fil Idza’ah
22-  As Sailul ‘Aridh Al Jarif Li Ba’dhi Dholalatish Shufiy Umar bin Hafizh
23-  Asilah Abi Rowahatil Haditsiyyah Wasy Syi’riyyah
24-  An Nashihatul Mahtumah Liqudhotis Su’ Wa ‘Ulamail Hukumah
25-  Tadwinil Faidah Fi Tafsir Ayatil Wudhu Min Surotil Maidah
26-  Ath Thobaqot Lima Hashola Ba’da Mauti Syaikhinal Imam Al Wadi’iy رحمه الله Fid Da’watis Salafiyyah Bil Yaman Minal Halat
27-  Tahqiq Wa Ta’liq Wushulil Amani Bi Ushulit Tihani Lis Suyuthiy
28-  At Tabyiin Li Wujub Tarbiyatil Banin
29-  At Tajliyah Li Ahkamil Hadyi Wal Udhhiyah
30-  Ash Shubhusy Syariq ‘Ala Dholalat Abdil Majid Az Zindaniy Fi Kitabihi Tauhidil Kholiq
31-  Syar’iyyatud Du’a ‘Alal Kafirin Wa Dzikru Ahammil Fawariq Bainahum Wa Bainal Muslimin Roddan ‘Alal Qordhowiyz Zaighil Mahin
32-  Al ‘Uzlatusy Syar’iyyah
33-  Ats Tsawabitul Manhajiyyah
34-  Al Adillatuz Zakiyyah Fi Bayan Aqwalil Jafriy Asy Syirkiyyah
35-  Tasliyatu Sholihil Fuqoro Lima Lahum Minal Fadhl ‘Ala Ashhabits Tsaro
36-  Syarh Manzhumatil Ihsaiy ‘Ala Muqoddimati Ibni Abi Zaid Al Qoirowaniy
37-  Al MAfhumush Shohih Lit taisir Fi Hadyil Basyirin Nazhir
38-  Al Ajwibatur Rodhiyyah ‘Alal Asilatith Thibbiyyah
39-  Al Mabadiul Mufidah Fi Tauhid Wal Fiqh Wal ‘Aqidah
40-  Dirosah Wa Tahqiq Risalah Fi Bayani Ma Lam Yatsbut Fihi Hadits Minal Abwab
41-  Al Hatstsu Wat Tahridh ‘Ala Ta’allum Ahkamil Maridh
42-  I’lamun Nakir ‘Ala Ashhabil Inqilabat Wat Tafjir
43-  Al Ba’its ‘Ala Inkari Ummil Khobaits
44-  Taudhihul Isykal Fi Ahkamil Luqothoh Wadh Dhiwal
45-  Syarh Lamiyyah Ibnil Wardiy
46-  Syarhul Wasithiyyah
47-  Al Minnatul Ilahiyyah Bi Syarhis Safariniyyah
48-  Syarhul Baiquniyyah
49-  Syarhu Qoshidah Ghoromiy Shohih Lil Isybiliy Fi ‘Ilmil Mushtholah
50-  Syarh Manzhomah Ibni Taimiyyah Fir Rodd ‘Alal Qodariyyah
51-  Al Khuthobul Minbariyyah (4 jilid)
52-  Syarhuth Thohawiyyah
53-  Syarhul Arba’inun Nawawiyyah
54-  Syarh Kitabit Tauhid
55-  Al Kanzuts Tsamin Fil Ijabah ‘Ala Asilati Tholabatil ‘Ilmi Waz Zairin (5 jilid pertama)
56-  Ithaful Kirom Bil Ijabah ‘An Asilatiz Zakah Wal Hajj Wash Shiyam
57-  Al Ifta ‘Alal Asilatil Waridah Min Duwal Syatta (juz 1)
58-  Al Hijaj Li Abdil Karim Al Iryaniy
59-  At Tabyiin Li Ba’dhil Khoir Fi Jihadil Kafirin Waz Zanadiqotil Mu’tadin
60-  At Tahdzir Min Ahammi Showarifil Khoir
61-  Adhrorul Hizbiyyah ‘Alal Ummatil Islamiyyah
62-  Al Hujajul Qothi’ah ‘Ala Annar Rowafidh Dhiddul Islam ‘Ala Mamarrit Tarikh Bila Mudafa’ah
63-  Syar’iyyun Nushh Waz Zajr
64-  Hasydul Adillah ‘Ala An Ikhtilathin Nisa Bir Rijal Wa Tajnidihinn Minal Fitanil Mudhillah
65-  Al Hullatul Bahiyyah Bil Ijabah ‘An Asilatil Jazairiyyah
66-  Fathul Wahhab Fi Nahyil Musholli An Yabshuqo Ilal Qiblah, Wa Hukmul Bushoq Fi Masjid, Wa Hukmul Mihrob
67-  Rof’u Manarid Din Wa Hadmi Afkar Du’atit Tasamuh Ma’al Kafirin
68-  Tahqiq Wa Ta’liq ‘Ala Kitabil Hiththoh Fi Dzikrish Shihahis Sittah
Dan beliau juga punya syarh terhadap dars-dars umum, sebagiannya telah ditulis, sebagiannya masih dirapikan. Beliau juga punya rekaman-rekaman khuthbah, ceramah, dan nasihat-nasihat lebih dari seribu kaset. Dan masih banyak kerja keras ilmiyyah milik beliau yang lain, kita mohon pada Alloh untuk memberinya taufiq dan barokah.

Pasal Dua: Pujian Ulama Terhadap Beliau, dan Kedudukan Beliau Di Sisi Orang-Orang Yang Adil

            Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله punya kedudukan yang tinggi di sisi ulama sunnah.
Al Imam Al Wadi'i -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab " Ahkamul Jum'ah": "Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara', dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela." (muqoddimah kitab "Al Jum'ah wa Bida'uha"/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).
Al Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh- berkata: ".. Saudara kita fillah Asy Syaikh Al Faadhil At Taqy (yang bertakwa) az zaahid (yang zuhud) al Muhaddits, al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin 'Ali Al Hajury -hafidhahulloh-  beliau adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang merusak.” (muqoddimah "Dhiyaus Saalikiin." karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).
Beliau rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:
﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”
Maka syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)
Akhuna Abdulloh Mathir -waffaqohulloh- berkata: "Aku telah bertanya kepada Syaikh –yaitu Imam Al Wadi'i- dan demi Alloh, saat itu tiada antara aku dan beliau kecuali Alloh –azza wajalla-. Ketika aku berada di kamarnya di atas ranjang beliau (ketika beliau sakit). Kukatakan,"Wahai Syaikh, kepada siapa para Ikhwah akan merujuk (kembali) di Yaman ini ?, dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?" beliau diam sejenak, lalu berkata,"Asy Syaikh Yahya." Inilah yang kudengar dari Syaikh Muqbil, dan ini tidaklah maknanya kita merendahkan ulama Yaman yang lain. Sungguh kita benar-benar memuliakan dan mencintai mereka karena Alloh.. dst." ("Muammarotul Kubro"/hal. 24)
Al Akh Samir Al Hudaidy -hafidhahulloh- berkata pada Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-,”Sesungguhnya para pengikut Abul Hasan berkata,”Tiada ulama di Yaman.” Maka Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata,”Syaikh Muhammad itu apa? Dan Syaikh Yahya itu apa? Juga saudara-saudara mereka yang lain.” (“Inba’ul Fudhala” hal. 22 karya Akhuna Sa’id Da’ash -hafidhahulloh-)
Dan Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata: "Dan keyakinan yang dengannya aku menghambakan diri kepada Alloh bahwasanya Syaikh Al Hajuri itu adalah orang yang bertaqwa, waro', zuhud, -  kemudian beliau mulai memuji Syaikh Yahya- dan beliau telah memegang dakwah Salafiyyah dengan tangan dari besi. Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya" ("Tsana' Imamil Jarh Wat Ta'dil ala Syaikh Yahya Al Hajuri"/Abu Hammam Al Baidhoni/1426 H).
            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Asy Syaikh yang agung, saudara kita di jalan Alloh Yahya bin Ali Al Hajuriy telah mengirimkan kepadaku kitabnya yang bersemangat tinggi untuk membantah Abdul Majid Az Zindaniy, yang dengannya beliau bermaksud untuk membantah igauan-igauannya yang ditulisnya –sampai pada ucapan beliau:- Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan telah membantahnya di baris-baris ini dan yang lainnya dengan bantahan yang membungkam, dengan dalil-dalil yang bercahaya dari Al Kitab dan sunnah yang shohih. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan memberkahinya, dan semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisalnya para pembela kebenaran, para penolong tauhid, para penjaga wilayahnya,… dan Allohlah yang memberikan taufiq.”  (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-/hal. 7-10/Darul Atsar).
            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,"Tidak pantas untuk jarh wat ta'dil pada zaman ini selain Syaikh Robi' dan Syaikh Yahya." ("Al Barohinul Jaliyyah"/Mu'afa bin Ali Al Mighlafi/hal. 6).
            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,"Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu." ("Al Muamarotul Kubro"/Abdul Ghoni Al Qo’syamiy/hal. 23).
            Abdulloh Al Duba'i -hafidhahulloh- pernah mendengar Syaikh Muhammad Al Imam berbicara tentang keluar untuk dakwah. Maka salah seorang hadirin berkata,"Wahai Syaikh, Syaikh Yahya nggak keluar dakwah?". Maka Syaikh Muhammad Al Imam berkata: "Tunggu dulu, Al Hajuri imam." ("Muammarotul Kubro"/Abdul Ghoni Al qo'syami/hal. 24).
Asy Syaikh Abdul 'Aziz Al Buro'i هداه الله berkata: "Kami mengetahui bahwa Syaikh Yahya itu ada di atas ketaqwaan dan muroqobah (senantiasa merasa diawasi Alloh ta’ala), dan beliau adalah saudara kami di dalam  agama Alloh, dan kami mencintainya karena Alloh. Dan beliau adalah seorang alim dari kalangan ulama sunnah. Alloh memberikan manfaat dengannya. Beliau adalah seorang singa dari singa-singa sunnah, serta mahkota di atas kepala-kepala Ahlussunnah.  kami mencintainya karena Alloh." (dari kaset "Asilah Ashabi Qushoi'ar" tanggal 28/7/1428)
Beliau juga berkata,"Maka Syaikh Yahya adalah  ciri khas  di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka." ("Muammarotul Kubro"/Abdul Ghoni Al qosy'ami/hal. 24).
Asy Syaikh Jamil Ash Shilwi -hafidhahulloh- berkata: "Orang yang mencerca Syaikh Yahya dia itulah yang pantas untuk dicerca. Hal itu dikarenakan Syaikh Yahya itu berbicara karena Alloh dan  Agama Alloh. Sementara salah seorang dari kita terkadang tidak berani untuk berbicara tentang sebagian perkara. Dan beliau itu telah Alloh persiapkan untuk mengurusi perkara ini, mengajar, menulis dan menyelesaikan problem-problem ummat yang sangat banyak." ("Muammarotul Kubro"/hal. 24).
Asy Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Raimi -hafidhahulloh- ketika berbicara tentang makar Ibnai Mar'i dan pengikutnya terhadap Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, beliau berkata: ".. maka mereka menggunakan seluruh yang mereka miliki yang berupa perlengkapan, kekuatan, pengkaburan, penipuan  dan, pemutarbalikan fakta. Mereka dengan  itu semua menginginkan untuk menjatuhkan “Al Jabalul Asyam” (gunung yang menjadi simbol) tersebut, dan baju besi yang aman –dengan seidzin Alloh- bagi dakwah ini yang ada di Dammaj Al Khoir, beliau dan para masyayikh utama yang bersamanya.” ("Al Haqo’iq Waqi’iyyah" hal. 20)
            Fadhilatu Syaikhina Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani' Al 'Ansi -hafidhahulloh- (Salah satu pendiri dakwah di Ibukota Son'a) berkata,"Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ulama sunnah dan ke Darul Hadits di Dammaj harosahalloh, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz ("pemisahan diri dari ahlul bathil") dan penetapan aqidah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid'ah, orang yang sesat dan menyimpang. Tempat tersebut yang membangunnya adalah syaikh kami Al Mujaddid (pembaharu), penolong sunnah, dan penumpas bid'ah Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi'i –semoga Alloh merohmatinya dan memuliakan tempat tinggalnya-.
Dan tidak asing lagi bahwa tempat tersebut Alloh telah memberikan manfaat hidayah dengannya kebanyakan manusia, dan mengeluarkan darinya para masyayikh dan penuntut ilmu yang bertebaran di penjuru seluruh dunia sebagai da'i yang menyeru kepada tauhid dan sunnah dan manhaj salaf. Dan terus-menerus –dengan segala pujian untuk Alloh- tempat tersebut hidup dengan ilmu dan sunnah.
Dan setelah Asy Syaikh Muqbil digantikan dengan wasiatnya oleh Asy Syaikh Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuri –semoga Alloh menjaganya- beliau mengurusi dakwah ini dengan sebaik-baik pengurusan. Sangat lantang dalam mengemukakan kebenaran, menolong sunnah, memberantas kebid'ahan dan ahlul bid'ah. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan." ("Nashihatun Mukhtashoroh Lil Indonesiyyiin" /hal. 1).

Pasal Tiga: Hakikat Ilmu dan Ulama, Fiqh dan Fuqoha

Definisi ilmu:
Al Munawiy رحمه الله berkata: “Ilmu adalah keyakinan yang pasti dan kokoh, yang mencocoki kenyataan.” (“At Ta’arif”/hal. 523-524).
Dan tidaklah ilmu itu kecuali dibangun di atas dalil. kata Al Imam Abdul Lathif bin Abdirrohman Alusy Syaikh رحمه الله : “Dan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan dalilnya, dan mengetahui hukum sesuai dengan kenyataannya pada hakikatnya. Tiada yang lain.” (“’Uyunur Rosail”/karya beliau/2/hal. 525-526/Maktabatur Rusyd).
            Dan ilmu syar’iy itu tidak ada kecuali dengan dalil dari Al Kitab dan As Sunnah. Al Imam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan ilmu itu adalah apa yang dengannya Alloh mengutus Rosul-Nya yaitu sulthon (hujjah) sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿إن الذين يجادلون فى آيات الله بغير سلطان أتاهم﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang berdebat tentang ayat-ayat Alloh tanpa hujjah yang datang pada mereka.”
Maka barangsiapa berbicara tentang agama tanpa apa yang dengannya Alloh mengutus Rosul-Nya, berarti dia telah berbicara tanpa ilmu.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 39).
Definisi Fiqh:
Makna “Fiqh” yang benar secara bahasa adalah seperti kata Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan fiqh itu lebih khusus daripada fahm, dan fiqh itu adalah: pemahaman terhadap keinginan dari sang pembicara dari perkataannya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 176/Darul Hadits).
Dan definisi “Fiqh” yang benar secara istilah adalah apa yang dikatakan Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله : “Ma’rifah (pengetahuan) terhadap hukum-hukum syar’iyyah yang bersifat amaliyyah dengan dalil-dalilnya yang terperinci. Maka yang kami inginkan dengan perkataan kami: “ma’rifah” adalah ilmu dan zhonn (dugaan), karena pengetahuan hukum-hukum fiqhiyyah itu bisa bersifat yaqiniy (mencapai derajat yakin), dan bias berupa dugaan, sebagaimana dalam kebanyakan masalah fiqh.” (“Syarhul Ushul Min ‘Ilmil Ushul”/hal. 17/Dar ibnil Haitsam).
Dan sebelum beliau, Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله telah berkata tentang fiqh: “Dan secara istilah adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’iyyah, berdasarkan dalil-dalilnya yang terperinci dengan pendalilan –kemudian beliau menyebutkan sebagian perkataan, sampai pada ucapan beliau:- masing-masing definisi ini telah dibantah dengan beberapa bantahan. Maka definisi yang pertama adalah yang paling utama, jika ilmu tadi dibawa ke makna yang mencakup zhonn (dugaan), karena kebanyakan ilmu fiqh adalah dugaan.” (“Irsyadul Fuhul”/1/hal. 58/cet. Ar Royyan).
Antara Ulama, Fuqoha dan Mujtahidin:
            Sesungguhnya ulama itulah fuqoha. Ibnul Anbariy رحمه الله berkata: “Ucapan mereka: pria yang faqih, maknanya adalah alim. Dan setiap orang alim terhadap suatu perkara maka dia itu faqih dalam perkara tadi.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/Al Khothib Al Baghdadiy/1/hal. Hal. 209/Maktabatut Tau’iyatil Islamiyyah).
            Dan seorang mujtahid dia itulah faqih yang mencurahkan kemampuannya untuk mengetahui suatu hukum dari hukum-hukum syar’iyyah. Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Maka mujtahid itu adalah faqih yang mencurahkan kemampuannya untuk menghasilkan suatu dugaan terhadap suatu hukum syar’iy. Dan dia itu haruslah seorang yang baligh dan berakal, dan telah menetap untuknya kemampuan yang dengannya dia mampu untuk mengeluarkan hukum-hukum dari tempat-tempat pengambilannya.” (“Irsyadul Fuhul”/2/hal. 1027/cet. Ar Royyan).
            Dan amal yang agung ini tidaklah mampu dilakukan kecuali oleh para ulama. Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan hanyalah dirinya mampu untuk melakukan yang demikian itu dengan syarat-syarat: Yang pertama: Dia haruslah alim terhadap Al Kitab dan As Sunnah. Jika kurang pada salah satunya maka dia itu bukanlah seorang mujtahid, dan tak boleh untuk berijtihad. Tapi tidaklah disyaratkan dirinya itu mengetahui seluruh Al Kitab dan As Sunnah. Hanya saja dia disyaratkan tahu ayat-ayat dan sunnah yang terkait dengan hukum-hukum. –sampai pada ucapan beliau:-
            Syarat yang kedua: dia harus mengetahui perkara-perkara ijma’ sehingga tidak berfatwa dengan sesuatu yang menyelisihi perkara yang telah disepakati, jika termasuk orang yang berpendapat bahwasanya ijma’ itu hujjah, dan berpandangan bahwasanya itu adalah dalil syar’iy. Dan jarang sekali perkara yang telah disepakati itu tersamarkan bagi orang yang telah mencapai derajat ijtihad.
            Syarat yang ketiga: dia harus alim terhadap lidah Arob, yang mana memungkinkan dirinya untuk menafsirkan kata-kata asing dan sebagainya yang datang dalam Al Kitab dan As Sunnah. –sampai pada ucapan beliau:-
            Kesimpulannya adalah: bahwasanya kemampuan yang kuat dalam ilmu-ilmu ini harus mantap di dalam dirinya. Dan kemampuan ini hanya bisa menetap dengan mantap dengan lamanya latihan([18]), dan seringnya menyertai dengan para ulama dalam bidang ini. Al Imam Asy Syafi’iy berkata: Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari sebagian dari lidah Arob yang bisa dicapai oleh kerja kerasnya dalam menunaikan kewajibannya. Al Mawardiy berkata: Dan mengetahui lidah Arob itu wajib bagi setiap muslim, baik dia itu mujtahid ataupun yang lainnya.
            Syarat keempat: dia harus alim dengan ilmu ushul fiqh karena ilmu itu mencakup perkara yang diperlukan. Dan dia harus memiliki kemampuan yang luas, dan mengetahui kitab-kitab yang ringkas dan panjang dalam bidang ini, yang bisa dicapai oleh kemampuannya, karena sesungguhnya ilmu ini dia itulah pondasi tiang utama ijtihad, dan sebagai asas yang tiang-tiang utama bangunannya berdiri di atasnya. –sampai pada ucapan beliau:-
            Syarat yang kelima: dia harus mengetahui nasikh dan mansukh, yang mana tidak tersamarkan untuknya sedikitpun dari perkara tersebut, karena dikhawatirkan dirinya memberikan suatu hukum dengan dalil yang telah mansukh. (“Irsyadul Fuhul”/2/hal. 1027-1032/cet. Ar Royyan).
            Al Imam Abul Muzhoffar As Sam’aniy رحمه الله berkata: “Kemudian ketahuilah bahwasanya yang diajak bicara dengan ijtihad adalah ahli ijtihad itu sendiri, dan mereka itu adalah ulama, bukan orang awam.” (“Qowathi’ul Adillah Fil Ushul”/2/hal. 302).
            Al Imam Abul Walid Al Bajiy رحمه الله berkata: “Seorang alim adalah orang yang sempurna alat-alat ijtihadnya.” (“Ihkamul Fushul Fi Ahkamil Fushul”/sebagaimana dinukilkan oleh Rofiq Al ‘Ajam dalam “Silsilah Mausu’ah Mushtholahat Ushul Fiqh ‘Indal Muslimin”/1/hal. 892/Maktabah Libnan Nasyirun).
            Dan barangsiapa melihat dengan adil terhadap karya tulis-karya tulis syaikhuna Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله, jawaban-jawaban beliau terhadap soal-soal, dars-dars beliau tiap hari, tahulah dia bahwasanya beliau itu adalah seorang alim dari ulama sunnah, dan mujtahid dari kalangan mujtahidin umat.
Hakikat ulama dan Fuqoha:
Kemudian ketahuilah bahwasanya hakikat ilmu dan fiqh itu bukanlah sekedar hapalan ilmu, mengetahui dalil-dalil, dan memahami nash-nash semata. Bahkan seorang yang alim dan faqih itu harus menggabungkan perkara-perkara itu tadi dengan pengamalan tuntutannya. Inilah dia orang alim dan faiqh yang sejati. Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء﴾ [فاطر/28]
“Yang takut kepada Alloh dari kalangan hamba-Nya hanyalah para ulama.”
            Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman: Hanyalah yang takut kepada Alloh sehingga berusaha melindungi diri dari hukuman-Nya dengan taat kepada-Nya adalah orang-orang yang tahu akan kemampuan Alloh terhadap apapun yang dikehendakinya, dan bahwasanya Alloh itu mengerjakan apapun yang diinginkannya, karena orang yang tahu perkara yang demikian itu dia akan merasa yakin akan hukuman-Nya atas kedurhakaannya, maka dirinya merasa takut dan gentar kepada-Nya bahwasanya Dia akan menghukumnya.” (“Jami’ul Bayan”/20/hal. 462).
            Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, yang berharap besar terhadap akhirat, yang berpandangan tajam dalam urusan agamanya, yang terus-menerus untuk beribadah pada Alloh عز وجل.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Imam Al Ajurriy/no. (47)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله/cet. Darul Atsar).
            Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata: “Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu’ pada Alloh.” (Diriwayatkan oleh Ad Darimiy/no. (343)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam “Al ‘Urful Wardiy”/hal. 159/cet. Darul Atsar).
            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu yang hakiki yang merasuk ke dalam hati itu menghalangi untuk muncul darinya perkara yang menyelisihinya, baik berupa ucapan ataupun perbuatan. Maka kapan saja muncul darinya perkara yang menyelisihi ilmu itu tadi, pastilah dia itu dikarenakan kelalaian hati tadi darinya, atau karena kelemahan ilmu itu di dalam hati untuk menghadapi perkara yang menentangnya. Dan itu merupakan kondisi-kondisi yang bertentangan dengan hakkikat ilmu, maka jadilah itu sebagai kebodohan dengan sudut pandang ini.” (“Iqtdhoush Shirotil Mustaqim”/1/hal. 257).
            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Tidaklah salaf dulunya memberikan nama fiqh kecuali terhadap ilmu yang disertai oleh amalan.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 115/Al Maktabatul Mishriyyah).
            Dan barangsiapa menelusuri dengan adil keadaan syaikhuna Al Hajuriy حفظه الله dalam masalah ilmu dan amal, dia akan mendapati bahwasanya beliau telah mengumpulkan antara keduanya dengan taufiq dari Alloh, maka beliau berhak untuk disebut sebagai alim faqih.

Pasal Empat: Imamah Dalam Agama

            Sesungguhnya imamah (menjadi imam) dalam suatu perkara adalah keteladanan dalam perkara itu, orangnya diteladani dalam perkara tadi. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين﴾ [البقرة/124].
“Dan ingatlah ketika Ibrohim diuji oleh Robbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia menunaikannya dengan sempurna. Alloh berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia. Dia menjawab: Dan juga dari keturunan saya. Alloh berfirman: perjanjian-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang zholim.”
            Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini: “Maka Alloh berfirman: Wahai Ibrohim, sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia, diikuti dan diteladani.” (“Jami’ul Bayan”/2/hal. 18).
            Al Imam Al Baghowiy  berkata: Alloh ta’ala berfirman: “Alloh berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia” yaitu engkau diteladani dalam kebaikan.” (“Ma’alimut Tanzil”/1/hal. 162).
            Kemudian ketahuilah bahwasanya imamah dalam agama itu dicapai dengan perkara berikut ini –hanya Alloh yang paling tahu-:
Pertama: keadilan dan tidak berlaku zholim, yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Alloh ta’ala telah berfirman dalam ayat di atas: “Alloh berfirman: perjanjian-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang zholim.
Al Imam Al Baghowiy رحمه الله berkata: “Makna dari ayat ini adalah: kenabian dan keimaman yang Ku-janjikan padamu itu tidak akan didapatkan oleh orang yang zholim dari kalangan keturunanmu.” (“Ma’alimut Tanzil”/1/hal. 162).
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Adapun ahli kefasiqan, kecurangan dan kezholiman, maka mereka itu tidaklah pantas mendapatkan janji tadi, berdasarkan firman Alloh ta’ala: “Alloh berfirman: perjanjian-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang zholim”. (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/2/hal. 108-109).
Kedua: taqwa, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Alloh telah menguji Ibrohim dengan beberapa syari’ah, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Lalu Ibrohim melaksanakannya, maka Alloh membalasnya dengan keimaman dalam agama. Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Alloh berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia” yaitu: sebagai balasan terhadap apa yang telah dikerjakannya. Sebagaimana beliau telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, Alloh menjadikannya sebagai teladan dan imam yang diteladani bagi manusia, diikuti jejaknya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 405).
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Firman Alloh ta’ala:
﴿وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾ [الفرقان: 74]
“Dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Yaitu sebagai teladan yang orang-orang mengikuti kami dalam kebaikan. Dan ini tidak terjadi kecuali orang yang berdoa tadi adalah orang yang bertaqwa dan menjadi teladan, dan ini adalah maksud orang yang berdoa tadi.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/13/hal. 83).
            Ketiga: kekuatan dalam menegakkan agama. Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Sekelompok ulama berdalilkan dengan ayat ini –suroh Al Baqoroh: 124- bahwasanya seorang imam itu adalah dari orang yang adil, ihsan, dan pemilik keutamaan, disertai dengan kekuatan untuk menegakkan perkara yang demikian itu.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/2/hal. 108).
Keempat: dengan berdoa pada Alloh. Alloh subhanahu berfirman:
﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾ [الفرقان/74].
“Dan orang-orang yang berkata: Wahai Robb kami, berilah kami dari istri-istri kami dan keturunan kami penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”
            Al Imam Makhul Asy Syamiy رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini: “Para imam dalam ketaqwaan, yang mana orang-orang yang bertaqwa itu meneladani kami.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 564/Dar Ibnil Jauziy/sanadnya shohih).
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “yaitu: dengan taufiq dari Alloh dan pemudahan dari-Nya serta karunia-Nya, bukan dengan pengaku-akuan setiap orang untuk dirinya sendiri.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/13/hal. 83).
Kelima: dengan kekuatan keyakinan akan pertolongan Alloh saat datangnya ujian. Definisi dari keyakinan secara bahasa adalah: ilmu yang tiada keraguan di dalamnya. Dan secara istilah adalah: aqidah (keyakinan) terhadap suatu perkara bahwasanya dia itu demikian dan demikian, disertai dengan aqidah bahwasanya hal itu tidaklah mungkin kecuali demikian tadi, sesuai dengan kenyataan, tidak mungkin untuk hilang([19]). (“At Tauqif ‘Ala Muhimmatit Ta’arif”/karya Al Munawiy/hal. 750).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka Ahlul yaqin itu jika diuji, mereka akan kokoh, berbeda dengan yang selain mereka, karena sungguh ujian itu terkadang bisa menghilangkan keimanannya atau menguranginya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾ [السجدة/24].
“Dan Kami jadikan dari mereka para imam yang membimbing dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka senantiasa yakin dengan ayat-ayat Kami.”
(“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 330).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Adapun bagaimana keyakinan itu dihasilkan? Maka dengan tiga perkara: Yang pertama: dengan memperdalam perenungan terhadap Al Qur’an. Yang kedua: dengan memperdalam perenungan terhadap ayat-ayat yang adakan dalam jiwa dan ufuk yang menjelaskan bahwasanya Al Qur’an itu benar. Yang ketiga: dengan mengamalkan tuntutan dari ilmu.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 330-331).
Yang keenam: bersabar menghadapi ujian. Dan dalilnya apa yang telah lewat. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kesabaran dan keyakinan itu, dengan dua perkara itu keimaman dalam agama bisa dicapai.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 358).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang tafsir ayat itu: “Maka Alloh ta’ala mengabarkan bahwasanya Dia menjadikan mereka sebagai imam yang diikuti sepeninggal mereka disebabkan oleh kesabaran dan keyakinan mereka, karena dengan kesabaran dan keyakinan didapatkanlah keimaman dalam agama. Karena sesungguhnya seorang dai ke jalan Alloh ta’ala itu tidak sempurna untuknya urusannya kecuali dengan keyakinannya terhadap kebenaran yang dia menyeru kepadanya, dan dengan ilmunya akan kebenaran tadi, serta dengan kesabarannya untuk melancarkan dakwah ke jalan Alloh dengan memikul beratnya dakwah, dan menahan diri dari perkara yang bisa melemahkan tekadnya dan melembekkan keinginannya. Maka barangsiapa berada pada posisi ini, maka dia itu termasuk dari para imam yang membimbing (manusia) dengan dengan perintah Alloh ta’ala.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/4/hal. 103).
Ketujuh: dengan kedalaman ilmu. Yang demikian itu dikarenakan jalan-jalan keimaman yang yang terdahulu adalah termasuk amalan sholih. Dan amalan itu tidak menjadi baik kecuali dengan ilmu. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… bahwasanya ilmu adalah pemimpin amalan dan pembimbingnya. Sementara amalan adalah pengikut bagi ilmu dan makmum baginya. Maka setiap amalan yang tidak ada di belakang ilmu dan tidak meneladani ilmu, maka amalan itu tidak bermanfaat bagi pelakunya bahkan menjadi bahaya baginya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 82).
Dan demikian pula keyakinan tidaklah terwujud tanpa ilmu. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… bahwasanya ilmu itu adalah awal dari keyakinan.” (“Badai’ul Fawaid”/4/hal. 879/Darul Hadits).
Maka orang yang paling beruntung dengan keimaman dalam agama adalah para ulama. Al Imam Al Ajurriy رحمه الله berkata: “Dan sifat ini dan semisalnya di dalam Al Qur’an menunjukkan kepada keutamaan para ulama, dan bahwasanya Alloh عز وجل menjadikan mereka sebagai imam bagi para makhluk yang mana mereka itu meneladani para ulama tadi.” (“Akhlaqul Ulama”/karya Al Ajurriy/hal. 11/cet. Darul Atsar).
Dan barangsiapa melihat –dengan jujur dan adil- kepada kehidupan ilmiyyah dan amaliyyah syaikhuna Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله , juga kesabaran beliau dalam jihad fi sabilillah, serta besarnya keyakinan beliau kepada Robbnya عز وجل ketika beliau ditelantarkan oleh banyak manusia di awal fitnah, dia tidak ragu bahwasanya Alloh telah menjadikan beliau sebagai imam bagi manusia, sebagaimana dulu syaikh beliau Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.
Demikian pula kenyataan di lapangan menampilkan pada kita bahwasanya para salafiyyin mengikuti bimbingan beliau setelah taufiq dari Alloh, mereka bersabar bersama beliau pada hari-hari fitnah, sehingga jadilah beliau pada yang demikian itu kebaikan dan keberkahan yang agung untuk mereka. Dan yang demikian itu adalah karunia Alloh yang diberikannya kepada orang yang Dia kehendaki, dan Alloh itu Maha memiliki karunia yang agung.


            Sebagian ahli batil meremehkan nilai syaikhuna Al ‘Allamah YAhya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله karena beliau belum mencapai umur enam puluh tahun atau tujuh puluh tahun. Sebagian dari mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«البركة مع أكابركم».
“Keberkahan itu bersama orang-orang besar kalian.” ([20])
Maka kami menjawab –dengan taufiq dari Alloh-:
            Jawaban pertama: Telah lewat bahwasanya seorang mufti yang teranggap adalah seorang muslim yang baligh dan berakal, yang memenuhi syarat-syarat ijtihad dan fatwa. Dan tuanya umur bukanlah syarat untuk sohihnya fatwa.
Jawaban kedua: tidak disyaratkan bahwasanya tidak ada yang berbicara dalam bidang ini kecuali mujtahid yang mutlak. Bahkan barangsiapa punya ilmu yang mendalam dalam suatu masalah tertentu, maka dia itu adalah mujtahid di dalam bidang itu, dan dia boleh berbicara dalam bidang itu. Dan penyelisihan dirinya di dalamnya itu terpandang sebagaimana persetujuannya di dalamnya juga terpandang.
As Sarkhosiy rohimahulloh berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya terkumpulnya ilmu-ilmu ini pada seseorang itu hanyalah syarat untuk seorang mujtahid mutlak yang berfatwa di seluruh hukum-hukum syariat. Dan bukan ijtihad menurut kebanyakan ulama itu suatu posisi yang tidak terbagi-bagi. Bahkan seorang alim itu boleh mendapatkan posisi ijtihad di sebagian hukum saja. Maka barangsiapa mengetahui ujung penelitian dalam qiyas, dia boleh untuk berfatwa dalam masalah qiyas, sekalipun dia tidak mahir dalam ilmu hadits.” (“Ushul Fakhril Islam”/11/hal. 440).
Dan Az Zarkasyiy rohimahulloh berkata: “Yang benar adalah: bolehnya ijtihad itu terbagi-bagi, dengan arti: seseorang menjadi mujtahid dalam suatu bab tanpa bab yang lain. Dan ini dinisbatkan oleh Al Hindiy kepada pendapat kebanyakan ulama.” (“Al Bahrul Muhith”/8/hal. 96).
Dan Ibnun Najjar Al Futuhiy rohimahulloh berkata: “Ijtihad itu terbagi-bagi menurut para sahabat kami (Hanabillah) dan kebanyakan ulama, karena andaikata ijtihad itu tidak terbagi-bagi, hal itu mengharuskan seorang mujtahid itu mengetahui seluruh perkara cabang-cabang, dan ini adalah mustahil karena semuanya itu tidak mampu diketahui secara menyeluruh oleh manusia. Dan tidak diharuskan mengetahui seluruh dalil itu berarti mengetahui seluruh hukum-hukum, karena sebagian hukum itu terkadang tidak diketahui karena dalil-dalilnya (nampak) bertentangan, atau dia tidak mampu meneliti lebih mendalam lagi, mungkin karena pemikirannya sedang tersibukkan.” (“Al Kaukabul Munir”/3/hal. 26).
Maka penukilan-penukilan ini dan yang semisalnya membantah orang yang mengingkari pelajar yang ilmunya mantap untuk berbicara dalam suatu masalah yang dia mampui dengan baik dengan alasan para ulama besar itu diam, padahal pelajar tadi telah mencapai derajat ijtihad di dalamnya. Dan dalam pembahasan tadi juga ada bantahan pada orang yang menjadikan tuanya umur itulah yang terpandang, bukannya kedalaman ilmu dalam masalah tadi.
       Jawaban ketiga: Mungkin saja yang dikehendaki di sini adalah tuanya usia, dan mungkin saja yang dimaukan adalah besarnya ilmu. Dan berdasarkan dua kemungkinan ini, maka hadits tadi tidak berbicara tentang syarat-syarat fatwa.
       Al Hafizh Muhammad bin Ishaq Al Kalabadziy رحمه الله dalam syarh hadits ini –dan yang semakna dengannya- menyebutkan bahwasanya bisa jadi yang diinginkan dengannya adalah: orang yang sudah berumur dan orang-orang tua yang telah berpengalaman, akal mereka telah sempurna, kekerasan mereka telah tenang, adab mereka telah sempurna, telah hilang dari mereka kenakalan anak-anak dan kekerasan anak muda, dan mereka telah memantapkan pengalaman. Maka barangsiapa duduk-duduk bersama mereka, dia akan beradab dengan adab-adab mereka, dan mengambil manfaat dari pengalaman mereka. Maka ketenangan dan kewibawaan mereka menjadi penghalang bagi orang yang duduk-duduk dengan mereka, dan pencegah untuk mereka dari apa yang dilahirkan dari tabiat mereka, dan mencari barokah dari mereka([21]). Dan bisa jadi yang diinginkan dengan hadits ini adalah: orang-orang besar keadaannya, dan orang yang punya derajat dalam agama dan kedudukan tinggi di sisi Alloh, sekalipun tidak tua umurnya.” (“Ma’anil Akhbar”/ karya Al Kalabadziy/hal. 100).
Al Munawiy رحمه الله berkata: “Keberkahan itu bersama orang-orang besar kalian” orang-orang yang berpengalaman dalam berbagai perkara, yang terus-menerus memperbanyak pahala, maka mereka duduk-duduk dengan mereka untuk meneladani pendapat mereka, mengikuti petunjuk mereka. Atau yang dikehendaki adalah orang yang punya kedudukan ilmu sekalipun berusia muda, wajib untuk mengagungkan mereka untuk menjaga kehormatan yang dikaruniakan oleh Al Haq Yang Mahasuci dan Mahatinggi.” (“Faidhul Qodir Syarhul Jami’ish Shoghir”/no. (3205)).
       Seandainya kemungkinan yang benar adalah adalah kemungkinan kedua: bahwasanya barokah itu bersama para ulama, bukan sekedar orang-orang yang tua umurnya, maka jadilah hadits tadi argumentasi untuk membantah para ahlul batil tadi. Dan sebagian imam telah menguatkan bahwasanya yang terpandang dalam hadits ini adalah kebesaran dalam ilmu, bukan kebesaran dalam usia. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Sebagian ulama berkata: sesungguhnya orang kecil yang tersebut dalam atsar Umar dan atsar-atsar yang semisalnya, yang dimaksudkan hanyalah: orang yang dimintai fatwa padahal dia tak punya ilmu, karena sesungguhnya orang yang besar itu adalah orang alim, dalam usia berapapun dia. Mereka berkata: orang bodoh itu kecil, sekalipun sudah tua umurnya. Dan orang alim itu besar sekalipun masih muda usia.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 499-500/Dar Ibnil Jauziy).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله juga berkata: “Dan termasuk yang menunjukkan bahwasanya ashoghir (orang-orang kecil) itu adalah orang yang tak punya ilmu: apa yang disebutkan oleh Abdurrozzaq dan yang lainnya, dari Ma’mar, dari Az Zuhriy yang berkata: “Dulu majelis Umar penuh dengan para ahli Qur’an, yang muda dan yang tua. Terkadang beliau mengajak mereka bermusyawarah dan berkata: janganlah menghalangi satu orang kalian kemudaan usianya untuk menyampaikan pendapatnya, karena sesungguhnya ilmu itu bukan berdasarkan kemudaan usia atau ketuaannya, akan tetapi Alloh meletakkan ilmu di manapun yang diinginkan-Nya.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 501/Dar Ibnil Jauziy).
Ibnu 'Abbas rodhiyallohu 'anhuma berkata: "Dulu aku membacakan Al Qur'an kepada para tokoh dari Muhajirin, di antara mereka adalah Abdurrohman bin 'Auf" (HSR Al Bukhory (6830))
Ibnul Jauzy -rahimahulloh- berkata: "Maka di dalam atsar tadi ada peringatan untuk mau mengambil ilmu dari ahlinya meskipun umur mereka masih muda, atau derajat mereka rebih rendah. Dulu Hakim bin Hizam -rodhiyallohu 'anhu- belajar Al Qur'an pada Mu'adz bin Jabal -rodhiyallohu 'anhu-. Maka dikatakan pada beliau,"Anda belajar Al Qur'an pada bocah Khozrojy itu?" Maka beliau berkata,"Hanyalah yang membinasakan kita itu kesombongan." ("Kasyful Musykil" 1/hal. 41)
Ibnul Madiny -rahimahulloh- berkata: "Sesungguhnya ilmu itu bukan berdasarkan umur." ("Al Adabusy Syar'iyyah"/Imam Ibnu Muflih -rahimahulloh-/2/192)
Sufyan bin 'Uyainah -rahimahulloh- berkata: "Anak kecil adalah ustadz jika dia tsiqoh" ("Al Adabusy Syar'iyyah"/Imam Ibnu Muflih -rahimahulloh-/2/192)
Jawaban keempat: seandainya ditetapkan bahwasanya yang dimaukan adalah tuanya usia, maka tidak ada dalam hadits tadi yang menunjukkan bahwasanya itu adalah termasuk syarat sahnya fatwa. Hanyanya hadits ini masuk dalam bab dorongan untuk duduk-duduk dengan orang tua, memuliakan mereka, dan keutamaan perbuatan tersebut. Ibnu Hibban رحمه الله meriwayatkannya dalam shohihnya (559) dalam bab: Penyebutan disukainya seseorang mencari berkah dengan bergaul dengan masyayikh pemilik agama dan akal.
Dan hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqiy رحمه الله dalam “Syu’abul Iman” (10493) dalam bab: Merohmati anak kecil dan menghormati orang besar.
Al Khoroithiy رحمه الله juga meriwayatkannya dalam “Makarimul Akhlaq” (355) dalam bab: Pemuliaan dan pengagungan pada orang-orang tua.
Al Hafizh Muhammad bin Ishaq Al Kalabadziy رحمه الله setelah menyebutkan hadits ini berkata: Beliau telah memerintahkan untuk memuliakan mereka dengan sabda beliau صلى الله عليه وسلم : “Barangsiapa tidak memuliakan orang besar di antara kita, maka dia bukanlah dari golongan kita.” (“Ma’anil Akhbar”/ karya Al Kalabadziy/hal. 100).
            Jawaban kelima: bisa jadi yang dimaksudkan dengan orang-orang besar adalah para shohabat رضي الله عنهم , para sholihin, dan orang-orang mulia, bukan sekedar tuanya usia. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih” no. (1053) di bawah bab: Keadaan ilmu jika ada di sisi orang-orang fasiq dan orang-orang yang hina.
            Beliau رحمه الله berkata: “Abu Ubaid menyebutkan dalam ta’wil berita ini dari Ibnul Mubarok bahwasanya beliau berpendapat bahwasanya ashoghir adalah ahlil bida’, dan tidak berpendapat tuanya usia. Abu Ubaid berkata: Ini adalah satu sisi. Beliau juga berkata: saya berpendapat bahwasanya ashoghir adalah manakala ilmu itu diambil dari orang yang datang setelah para shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan lebih diutamakan daripada pendapat para shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan ilmu mereka. Maka itulah yang dinamakan sebagai: mengambil ilmu dari ashoghir.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 496/Dar Ibnil Jauziy).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan mungkin saja hadits ini bermakna bahwasanya orang yang paling berhak dengan ilmu dan belajar fiqh adalah orang-orang mulia, ahli agama dan pemilik kebesaran, karena ilmu itu jika ada di sisi mereka, maka jiwa-jiwa tidak merasa angkuh untuk duduk-duduk di majelis mereka. Tapi jika ilmu itu dimiliki oleh selain mereka, maka setan mendapatkan jalan untuk menghinakan mereka, dan mencampakkan ke dalam jiwa-jiwa sikap lebih mengutamakan keridhoan dengan kebodohan karena merasa angkuh untuk bolak-balik pergi ke orang yang tak punya martabat tinggi dan agama. Dan hal itu dijadikan sebagai alamat dan tanda hari Kiamat, dan sebagai sebab dihilangkannya ilmu.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 500-501/Dar Ibnil Jauziy).
Jawaban keenam: Tidak ada pada susunan kalimat dalam hadits tadi yang menunjukkan pembatasan berkah pada orang yang tua usianya saja. Ini berbeda jika khobar kalam didahulukan sebelum mubtada’nya, atau yang terkait dengan khobar yang terhapus didahulukan sebelum mubtada’nya. Maka pola mendahulukan kata yang harusnya diakhirkan itu memang memberikan faidah pembatasan dan pengkhususan. Dan tidak ada dalam hadits ini apa yang menunjukkan ada yang demikian itu.
Jawaban ketujuh: Sesungguhnya Alloh ta’ala telah mengisyaratkan dalam Al Qur’an kepada keutamaan para pemuda yang menegakkan agama Alloh. Alloh ta’ala berfirman:
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى * وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾ [الكهف/13، 14].
“Kami akan menceritakan padamu berita mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman pada Robb mereka dan Kami tambahkan pada mereka hidayah dan Kami kokohkan tekad dan kesabaran hati mereka ketika mereka bangkit lalu mereka berkata: Robb Kami adalah Robb langit dan bumi, kami tak akan berdoa pada sesembahan selain-Nya. Sungguh jika demikian tadi kami telah mengatakan suatu kecurangan dan kemustahilan.”
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Maka Alloh ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah para pemuda –yaitu syabab (anak-anak muda)- dan mereka itu lebih menghadapkan diri kepada kebenaran, dan lebih mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus daripada orang-orang tua yang telah berlarut-larut hidup dalam agama yang batil. Oleh karena itulah maka kebanyakan orang-orang yang menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quroisy maka kebanyakan dari mereka telah lama tinggal di atas agama mereka, dan tidak masuk Islam dari mereka kecuali sedikit. Dan demikianlah Alloh ta’ala mengabarkan tentang ashhabul Kahf bahwasanya mereka itu adalah anak-anak muda.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/5/hal. 140).
Maka barokah dari Alloh tabaroka wata’ala itu bersama orang-orang yang Alloh kehendaki, yang tua ataupun yang muda.
Jawaban kedelapan: kenyataan para salaf رضي الله عنهم menunjukkan bahwasanya fatwa itu tidak tergantung pada tuanya usia, tapi tergantung pada kemampuan. Berapa banyaknyakah ahli fatwa pada masa salaf dalam keadaan mereka belum mencapai usia tua. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Para ulama berdalilkan dengan keadaan Abdulloh bin Abbas yang dulu berfatwa dalam keadaan beliau itu masih muda, dan bahwasanya Mu’adz bin Jabal dan ‘Attab bin Usaid dulu berfatwa untuk manusia dalam keadaan keduanya masih usia muda, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengutus keduanya untuk memimpin di beberapa wilayah bersamaan dengan usia keduanya yang masih muda. Dan yang seperti ini di kalangan ulama banyak.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 500/Dar Ibnil Jauziy).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Pada masa lalu telah ada orang tua dan muda yang memimpin dengan ilmunya. Dan Alloh itu mengangkat derajat-derajat orang yang disukai-Nya.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 501/Dar Ibnil Jauziy).
Jawaban kesembilan: sesungguhnya kenyataan pada zaman ini menunjukkan bahwasanya kebanyakan orang-orang yang mendengung-dengungkan seputar hadits ini untuk menghalangi manusia dari ulama sunnah adalah para pengekor hawa nafsu yang ingin menghalangi manusia dari menerima kebenaran di balik tabir: “Mereka itu masih usia muda!” para pengekor hawa nafsu itu telah tertimpa oleh penyakit jahiliyyah. Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan termasuk penyakit-penyakit yang menghalangi untuk kembali kepada kebenaran adalah: bahwasanya orang yang berbicara dengan kebenaran itu masih muda usia –ditinjau dari orang yang mendebatnya- atau lebih rendah ilmunya atau kurang terkenal di mata manusia, sementara lawan bicaranya adalah sebaliknya. Maka sungguh orang yang kena penyakit ini telah dibawa oleh kemarahan jahiliyyah dan fanatisme syaithoniyyah untuk tetap berpegang dengan kebatilan Karena keangkuhan darinya untuk rujuk kepada ucapan orang yang lebih muda usia darinya atau lebih rendah ilmunya, atau lebih kurang terkenal, karena dia mengira bahwasanya sikap rujuk tadi bisa menjatuhkan derajatnya atau mengurangi apa yang telah ada padanya. Dan ini adalah dugaan yang rusak karena sesungguhnya kejatuhan dan kekurangan itu hanyalah ada pada sikap bersikukuh di atas kebatilan, sementara ketinggian dan kemuliaan itu ada pada sikap rujuk kepada kebenaran, di tangan siapapun dia, dan dari sisi manapun dihasilkan.” (“Adabuth Tholib”/hal. 57/cet. Darul Kutubil Ilmiyyah).
Dan mereka itu dengan perbuatan ini menjadi termasuk bagian dari tentara iblis. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tidak ada yang melarang dari ilmu kecuali para perampok dari mereka, para wakil iblis dan polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 434).
Jawaban kesepuluh: sesungguhnya Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله telah mencapai lebih dari empat  puluh lima tahun, dan ini tidaklah dikatakan muda usia. Alloh ta’ala berfirman:
﴿حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ﴾ الآية. [الأحقاف/15].
“Sampai apabila dia telah mencapai puncak kekuatan dan pengetahuan dan mencapai empat puluh tahun, dia berkata: Wahai Robbku, karuniailah aku taufiq untuk mensyukuri nikmat-Ku yang Engkau berikan padaku, dan kepada kedua orang tuaku, dan agar saya beramal sholih yang Engkau ridhoi…”
            Al Imam Ibnu Katsir  berkata dalam tafsir: “dan mencapai empat puluh tahun”: yaitu: mencapai puncak akalnya dan sempurnalah pemahamannya dan kesabarannya. Dikatakan: Sesungguhnya orang berusia empat puluh tahun itu biasanya tidak berubah dari apa yang dia ada di atasnya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 280).
            Jawaban kesebelas: termasuk yang memperkuat pendapat bahwasanya akabir di sini adalah para ulama adalah: bahwasanya berkah itu adalah tetapnya kebaikan, pertumbuhan dan pertambahannya. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun keberkahan maka sesungguhnya dia itu manakala yang dinamai dengannya adalah banyaknya kebaikan dan terus-menerusnya dia sedikit demi sedikit, setiap kali ada bagian yang habis digantikan oleh bagian yang lain, maka dia itu adalah kebaikan yang lestari, yang individu-individunya itu susul-menyusul secara lestari sedikit demi sedikit.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 675/cet. Dar ‘Alamil Fawaid).
            Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah menetapkan bahwasanya kebaikan itu bersama ilmu yang bermanfaat. Dari Mu’awiyah رضي الله عنه yang berkata: Saya mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين ».
“Barangsiapa diinginkan oleh Alloh kebaikan maka Alloh akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Al Bukhoriy (71) dan Muslim (1037)).
Dan dari Utsman رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«خيركم من تعلم القرآن وعلمه ».
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al Bukhoriy (5027)).
Dan orang yang paling besar berkahnya adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk masyarakat, bukan sekedar tuanya umur. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya orang yang bermanfaat adalah orang yang diberkahi. Dan perkara yang paling bermanfaat adalah perkara yang paling berbarokah. Dan orang yang diberkahi di manapun dia berada adalah orang yang bisa diambil manfaatnya di manapun dia turun.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 141).
Ucapan ini cukup dalam menjelaskan lebih beratnya timbangan ilmu daripada sekedar timbangan tuanya usia, dan bahwasanya orang yang besar ilmunya itu lebih banyak berkahnya dan lebih banyak manfaat daripada sekedar orang yang lebih tua umurnya. Dan ini juga cukup untuk menyirnakan syubhat orang yang menolak kebenaran dengan sekedar mudanya umur para pembawanya. Dan hanya milik Alloh saja segala pujian.

Bab Sembilan: Peringatan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله Dari Pemberontakan Terhadap Pemerintah Muslimin

            Tidak boleh memberontak kepada pemerintah muslimin selama mereka masih muslimin. Jika mereka adalah kafirin dengan kekufuran yang jelas, sementara Muslimin tidak memiliki kemampuan untuk mengganti mereka tanpa bahaya yang lebih besar, maka tidaklah disyariatkan untuk menggulingkan mereka, demi menjaga darah-darah muslimin. Dari ‘Auf bin Malik رضي الله عنه:
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «خيار أئمتكم الذين تحبونهم، ويحبونكم، ويصلون عليكم، وتصلون عليهم. وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم، ويبغضونكم، وتلعنونهم، ويلعنونكم» قيل: يا رسول الله أفلا ننابذهم بالسيف؟ فقال: «لا ما أقاموا فيكم الصلاة. وإذا رأيتم مِن وُلاتكم شيئاً تكرهونه، فاكرهوا عمله ولا تنزعوا يدا من طاعة». (أخرجه مسلم (1855)).
Dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian sukai, dan mereka menyukai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian mendoakan untuk mereka. Dan Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci, dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka melaknat kalian.” Dikatakan: “Wahai Rosululloh, tidakkah sebaiknya kami memerangi mereka dengan pedang?” maka beliau menjawab: “Jangan, selama mereka menegakkan sholat di antara kalian. Jika kalian melihat suatu perkara yang tidak kalian sukai dari pemimpin kalian, maka bencilah amalannya, dan janganlah kalian mencabut tangan dari ketaatan padanya.” (HR. Muslim (1855)).
            Dan jadilah ini termasuk dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy رحمه الله berkata: “Dan mereka (ahlussunnah) bersepakat bahwasanya mendengar dan taat itu wajib diberikan pada pemimpin muslimin.” (“Al Iqna’”/1/no. (27/3)/Darul Kutubil Ilmiyyah).
            Telah banyak peringatan Syaikhuna Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dari seluruh khowarij dan pemikiran pemberontakan terhadap pemerintah muslimin. Di antaranya adalah beliau berkata tentang Juhaiman: “Orang ini adalah pemberontak, revolusioner, membuat fitnah di Saudi yang tidak diridhoi oleh para penasihat.” Beliau juga berkata tentang Juhaiman: “Pemberontak yang sesat.” (Ditulis oleh Abur Robi’ Sa’id bin Kholifah Wahhabiy di selebarannya “I’lamul Insi Wal Jann”).
Beliau حفظه الله juga berkata dalam bantahannya pada Abdul Karim Al Iryaniy: “Tunjukkan kemari satu fitnah yang timbul dari sisiku, dan dari sisi syaikh kami رحمه الله sebelum ini. Dan dengan seizin Alloh, dan Alloh menjadi saksi atas apa yang aku ucapkan: Insya Alloh tak akan timbul fitnah dari sisi kami sampai kami berjumpa dengan Alloh عز وجل. Kecuali jika ada orang yang berontak dalam keadaan didorong dan dia itu disusupkan kepada kami, atau dirusak oleh setan, maka aku akan menjelaskan keadaannya dan bersihlah tanggunganku karena Alloh عز وجل berfirman:
﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴾ [الأنعام/164].
“Dan tidaklah setiap jiwa berbuat kecuali terhadap dirinya sendiri, dan tidaklah orang yang berbuat dosa itu memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Robb kalian kembalinya kalian, lalu Dia akan mengabarkan pada kalian dengan apa yang dulu kalian perselisihkan.”
(“Al Hijaj Li Abdil Karim Al Iryaniy”/karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله/hal. 28/cet. Maktabatul Falah).
            Syaikhuna حفظه الله juga punya kitab “I’lanun Nakir ‘Ala Ashhabil Inqilab Wat Tafjir” (pengumuman pengingkaran terhadap para pelaku penggulingan dan pengeboman).
Manakala banyak gerakan para hizbiyyun yang menentang presiden Yaman, bangkitlah syaikh kami dan para muridnya حفظهم الله untuk memperingatkan dari penggulingan kekuasaan dan pemberontakan terhadap pemerintah muslimin, dalam khuthbah-khuthbah dan karya tulis.

Bab Sepuluh: Peringatan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله Terhadap Taqlid

            Kaum muslimin telah mengetahui bahwasanya manusia selain para Nabi itu akan tertimpa kesalahan. Dari Abu Dzarr رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم di dalam apa yang beliau riwayatkan dari Alloh Yang Maha penuh berkah dan Mahatinggi bahwasanya Dia berfirman –dan menyebutkan hadits-:
«يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم». الحديث (أخرجه مسلم (2577)).
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian itu melakukan kesalahan di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka mohonlah ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuni untuk kalian.” (HR. Muslim (2577)).
            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Akan tetapi para Nabi –semoga ridho Alloh ta’ala tercurah untuk mereka- itu, mereka itulah yang para ulama berkata: sesungguhnya mereka itu terjaga dari terus-menerus dalam dosa. Adapun para shiddiqun, syuhada dan sholihun, maka mereka itu tidak dijaga dari dosa. Ini tentang dosa-dosa yang pasti. Adapun dalam perkara yang mereka berijtihad di situ: maka terkadang benar, dan terkadang keliru. Maka jika mereka berijtihad dan tepat ijtihadnya, maka mereka mendapatkan pahala. Dan jika mereka berijtihad dan keliru, maka mereka akan mendapatkan pahala atas ijtihad mereka, sementara kekeliruan mereka akan diampuni.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 69).
            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Para penulis tentang sunnah telah mengumpulkan antara rusaknya taqlid dan pembatalannya, serta menjelaskan ketergelinciran seorang alim, yang dengannya mereka menjelaskan rusaknya taqlid, dan bahwasanya seorang alim itu terkadang bisa tergelincir, dan itu pasti, karena dia bukanlah orang yang ma’shum. Maka tidak boleh menerima seluruh apa yang diucapkannya dan memposisikan ucapannya tadi pada posisi perkataan seorang yang ma’shum. Maka inilah yang dicela dan diharomkan oleh seluruh ulama di muka bumi, dan mereka mencela para ahli taqlid. Dan ini adalah asal bencana ahli taqlid dan fitnah mereka, karena mereka itu membebek orang alim terhadap perkara yang si alim ini tergelincir di situ dan pada perkara yang dirinya tidak tercela di situ, sementara mereka tak punya timbangan pembeda antara perkara-perkara tersebut, sehingga mereka mengambil agama dengan kesalahan, dan itu pasti. Lalu mereka menghalalkan apa yang Alloh haromkan, dan mengharomkan apa yang Alloh halalkan, serta mensyariatkan perkara yang tidak disyariatkan. Dan pasti mereka akan berbuat itu, karena ‘ishmah (keterjagaan dari kesalahan) itu tidak ada pada orang yang mereka taqlidi. Maka kesalahan itu pasti terjadi pada si alim tadi.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 441/cet. Darul Hadits).
Oleh karena itulah maka Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله memperingatkan dari taqlid dalam agama, dan mendorong orang-orang untuk mengambil agama dengan dalil.
Di antara ucapan beliau حفظه الله adalah: “Tidaklah setiap ucapan itu bisa diambil, karena tiada jalan untuk yang demikian itu. Maka harus melihat kepada dalil-dalil.” (dicatat pada tanggal 16 Rojab 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Di antara kami dan kalian ada Al Kitab dan As Sunnah. Maka barangsiapa mencocoki kebenaran, ucapannya diambil dan tidak ditinggalkan. Maka kebenaran itu yang diagungkan. Maka yang wajib adalah mengambil kebenaran.” (dicatat tanggal 16 Rojab 1430 H).
Ucapan beliau حفظه الله juga adalah: “Barangsiapa menyelisihi kebenaran, aku akan membantahnya. Dan jika aku menyelisihi kebenaran, maka bantahlah diriku. Inilah yang kami dididik di atasnya.” (dicatat tanggal 16 Rojab 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Yang menjadi timbangan adalah kebenaran, bukan manusia. Diterima oleh orang yang menerima, ataupun ditolak oleh orang yang menolak, kebenaran tetap berjalan.” (dicatat tanggal 17 Sya’ban 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Tidaklah manusia itu meliputi segala sesuatu dengan dengan ilmunya. Setinggi apapun ilmu yang dicapainya, luput darinya sebagian ilmu. Maka hujjah itu didahulukan di atas individu.” (dicatat tanggal 1 Romadhon 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Hindarilah taqlid, hindarilah taqlid, karena sesungguhnya taqlid itu buta mata hatinya.” (dicatat tanggal 17 Dzul Hijjah 1430 H).
Beliau رعاه الله juga berkata: “Orang yang membebek para tokoh dan mengikuti jumlah yang banyak semata-mata, maka sesungguhnya dia itu akan menjadi mangsa bagi kesesatan.” (dicatat tanggal 20 Jumadats Tsaniyah 1430 H).


            Jika kalian telah mengetahui bahwasanya kedua imam ini –Al Wadi’iy رحمه الله dan Al Hajuriy حفظه الله – adalah termasuk fuqoha Islam, mujtahidi sunnah dan mufti umat, maka keduanya adalah termasuk orang-orang yang nilainya diagungkan oleh Alloh dengan dalil-dalil yang telah dikenal, karena besarnya keperluan umat kepada mereka.
            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Fuqoha Islam, dan orang yang fatwa itu beredar pada perkataan mereka di tengah-tengah manusia, adalah orang-orang yang dikhususkan oleh Alloh dengan pengambilan hukum, dan ditunjuk untuk menentukan qoidah-qoidah halal dan harom. Maka mereka di bumi adalah bagaikan bintang-bintang dilangit. Dengan mereka orang yang kebingungan dalam kegelapan itu mengambil petunjuk. Dan keperluan manusia kepada mereka lebih besar daripada keperluan mereka pada makan dan minum. Ketaatan pada mereka itu lebih wajib daripada ketaatan pada bapak dan ibu, dengan ketetapan Al Qur’an. Alloh ta’ala berfirman:
﴿يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا﴾ [النساء: 59]
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rosul dan para pemegang urusan di antara kalian. Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah pada Alloh dan Rosul jika kalian memang beriman pada Alloh dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.”
(Kemudian beliau menyebutkan tafsir-tafsir tentang ulil amri, lalu berkata:) yang benar adalah bahwasanya umaro itu hanyalah ditaati jika memerintahkan dengan tuntutan ilmu. Maka ketaatan pada mereka itu mengikuti ketaatan pada ulama, karena ketaatan itu hanyalah pada perkara yang ma’ruf dan apa yang diharuskan oleh ilmu. Maka sebagaimana ketaatan pada ulama itu mengikuti ketaatan pada Rosul, maka ketaatan pada para umaro itu mengikuti ketaatan pada ulama. Dan manakala tegaknya Islam itu adalah dengandua kelompok: ulama dan umaro, dan manusia itu mengikuti keduanya, maka jadilah kebaikan alam itu dengan kebaikan kedua kelompok ini. Dan kerusakan alam adalah dengan kerusakan keduanya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 16/Darul hadits).
            Maka jika berbicara tentang seorang mukmin tanpa kebenaran itu adalah berbahaya, sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ الله وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ﴾ [النحل: 105]
“Hanyalah yang membuat kedustaan itu adalah orang-orang yang tidak beriman dengan ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”
Dan sebagaimana dalam hadits Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:
« ... وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».
"… dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya." (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi'y -semoga Alloh merohmatinya- dalam "Ash Shohihul Musnad" (755)).
Maka perkataan tanpa kebenaran terhadap para bintang petunjuk itu lebih besar bahayanya. Al Hafizh Ibnu 'Asakir رحمه الله berkata: "Dan ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh memberi kami dan engkau taufiq kepada perkara yang diridhai-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang yang takut kepada-Nya dan bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benar taqwa- bahwasanya daging ulama itu beracun. Dan sudah diketahui bersama tentang kebiasaan Alloh untuk merobek tabir penutup orang-orang yang merendahkan mereka. Hal itu dikarenakan celaan terhadap para ulama dengan suatu hal yang mereka itu berlepas diri darinya itu perkaranya besar sekali. Dan mengusik kehormatan mereka dengan kedustaan dan berita bohong itu adalah padang yang membahayakan. Dan menyelisihi orang yang telah dipilih oleh Alloh untuk mengangkat ilmu adalah merupakan akhlaq yang tercela…dst ("Tabyiin Kadzibil Muftari"/ Ibnu 'Asakir /hal. 29).


            Sebagian ahli batil menyatakan bahwasanya menolong ahli haq, membela kehormatannya dan menjelaskan kebenaran berarti dia itu ahli taqlid (pembebek) dan muta’ashshib (fanatik), padahal hal itu tidak benar. Karena sesungguhnya taqlid itu adalah: mengikuti orang yang bukan hujjah tanpa hujjah. Al-Imam Ibnun Najjar Al Hanbaliy رحمه الله berkata: “Dan Taqlid itu secara kebiasaan –yaitu kebiasaan para ahli Ushul- adalah mengambil madzhab orang lain –yaitu: meyakini kebenarannya dan mengikutinya atas keyakinan tadi- tanpa –yaitu: tanpa disertai- pengetahuan tentang dalilnya –yaitu: dalil madzhab orang lain tadi yang menuntutnya dan mengharuskan untuk berpendapat dengan itu-.” (“Syarhul Kaukabil Munir”/4/hal. 459-460/cet. Maktabatul ‘Ubaikan).
Kami telah menyodorkan hujjah-hujjah tentang benarnya apa yang kami katakan, maka usaha kami ini bukanlah taqlid.
Adapun ashobiyyah adalah menolong kerabat dekat –atau orang yang ada di barisannya- secara buta, sama saja apakah dirinya di atas kebenaran ataukah kebatilan. ‘Ashobiy adalah orang yang marah demi kerabatnya dan melindungi mereka. Dan 'Ashobiyyah adalah: menyeru seseorang untuk menolong kerabatnya, dan berhimpun bersama mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, baik mereka itu yang zholim atau yang terzholimi." (lihat “Lisanul Arob”/6/hal. 275 dan hal. 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 204).
Maka barangsiapa bangkit untuk membela ahlul haq dengan jujur, adil dan berdasarkan ilmu, serta meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: "Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti kebenaran serta menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 16).
Dengan penjelasan ini tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya kami ada di atas bayyinah dari Robb kami, bukan di atas taqlid ataupun fanatisme dan yang demikian itu termasuk karunia Alloh pada kami dan pada orang-orang yang berakal, akan tetapi kebanyakan ahli batil tidak mengetahui.
والحمد لله رب العالمين.
Darul Hadits di Dammaj
10 Rojab 1433 H

Table of Contents









([1]) Semula judulnya adalah: "Tadzkirul ‘Ibad ‘Ala Ahliyatil Imamain..." lalu diganti oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan " Tadzkirul ‘Ibad Bi Ahliyatil ‘AIamain..." dengan lafazh (‘Alamain) sebagai ganti dari (Imamain) dalam rangka ketawadhu’an beliau pada Alloh.
([2]) Juhaiman bin Saif Al ‘Utaibiy adalah pemberontak penumpah darah umat Islam di tanah suci Makkah di Masjidil Harom di awal bulan suci Muharrom tahun 1400 H.
([3]) Al Khothib رحمه الله telah meriwayatkan atsar yang indah dari Abdulloh ibnul Mu’taz: “Orang alim itu tahu orang jahil, karena dirinya dulu pernah menjadi orang jahil. Sementara orang jahil itu tidak tahu orang alim karena dirinya belum pernah menjadi orang alim.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/2/hal. 365).
Namun sanadnya lemah, karena Ali bin Abdillah ibnul Mughiroh majhul hal.
([4]) Al Munawiy رحمه الله berkata: “dan setiap jual beli yang mabrur” yaitu: jual beli yang diterima oleh Alloh dengan diberi pahala dengan sebab itu, atau secara syari’ah, jual beli tadi tidak rusak, tiada penipuan ataupun pengkhianatan di dalamnya, karena di situ ada upaya penyampaian manfaat kepada manusia dengan mempersiapkan apa yang mereka perlukan. (“Faidhul Qodir”/no. (1122)).
Namun sanadnya lemah, karena Ali bin Abdillah ibnul Mughiroh majhul hal.
([5]) Syaikhul Islam رحمه الله berkata: "Zuhud yang disyariatkan adalah: meninggalkan rasa minat pada perkara yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya, yang berupa perkara-perkara yang dibolehkan tapi berlebihan, yang tidak dipakai untuk berbuat ketaatan pada Alloh." ("Majmu’ul Fatawa"/10/hal. 21).
([6]) Syaikhul Islam رحمه الله berkata: "Waro’ yang disyariatkan adalah: meninggalkan perkara yang bisa jadi membahayakan akhiratnya, yang berupa perkara-perkara yang diharomkan dan kesamaran-kesamaran, yang mana jika hal itu ditinggalkan tidak mengharuskan ditinggalkannya perkara yang lebih penting untuk dikerjakan, seperti kewajiban-kewajiban. Adapun perkara yang bermanfaat bagi negri akhirat, atau bisa membantu mendatangkan manfaat bagi akhiratnya, maka sikap meninggalkannya itu bukanlah bagian dari agama ini." ("Majmu’ul Fatawa"/10/hal. 21).
([7]) Shohih. Abu Dawud رحمه الله berkata: Haddatsana Sulaiman bin Dawud Al Mahriy, akhbarona Ibnu Wahb, akhbaroni Sa’id bin Abi Ayyub, ‘an Syarohil bin Yazid Al Mu’afiriy, ‘an Abi ‘Alqomah ‘an Abi Huroiroh, fima a’lam.
Sulaiman bin Dawud Al Mahriy adalah Sulaiman bin Dawud bin Hammad, tsiqoh, faqih, sebagaimana di "Tahdzibut Tahdzib"
Ibnu Wahb, tsiqoh, imam.
Sa’id bin Abi Ayyub tsiqoh faqih sebagaimana di "Tahdzibut Tahdzib"
Syarohil bin Yazid Al Mu’afiriy ditsiqohkan oleh Adz Dzahabiy dalam "Al Kasyif"
Abu ‘Alqomah adalah Mishriy, tsiqoh faqih sebagaimana di "Tahdzibut Tahdzib"
([8]) Bukanlah maknanya bahwasanya agama ini tidak sempurna. Bahkan agama ini telah sempurna, hanya saja nash-nash tadi terkadang menunjukkan kepada makna dengan penunjukan yang jelas, dan terkadang menunjukkan dengan penunjukan yang samar, maka manusia memperlukan para ulama yang bisa mengambilkan faidah hukum-hukum untuk mereka dari nash-nash ini. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾ [العنكبوت: 43].
"Dan permisalan itu Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang alim."
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Alloh Yang Mahasuci telah menjelaskan melalui lisan Rosul-Nya, dengan perkataan-Nya dan perkataan Rosul-Nya, segala perkara yang diperintahkan-Nya, segala perkara yang dilarang-Nya, segala perkara yang dihalalkan-Nya, segala perkara yang diharomkan-Nya, segala perkara yang dimaafkan-Nya. Dan dengan ini jadi sempurnalah agama-Nya, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي﴾ [المائدة: 3]
"Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Kucukupkan untuk kalian nikmat-Ku."
Akan tetapi terkadang pemahaman mayoritas manusia kurang dalam memahami apa yang ditunjukkan oleh nash-nash, dan kurang memahami segi penunjukan dan posisinya." ("I’lamul Muwaqqi’in"/1/hal. 332).
([9]) catatan penerjemah: Ini pepatah yang bermakna: penduduk suatu wilayah itu lebih tahu tentang keadaan masyarakat situ daripada orang luar. Maka penduduk Yaman itulah yang lebih tahu tentang keadaan Asy Syaikh Muqbil daripada orang Syam. Al Imam Al Albaniy adalah orang Yordan (Syam).
([10]) Beliau رحمه الله membedakan antara shobr dan mushobaroh, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون﴾ [آل عمران: 200].
“Wahai orang-orang yang beriman, lakukanlah shobr dan mushobaroh, dan berjagalah ditapal batas, dan bertaqwalah kalian pada Alloh agar kalian beruntung.”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka Alloh memerintahkan mereka itu shobr, yaitu keadaan orang yang bersabar bersama dirinya sendiri, dan mushobaroh, yaitu keadaan dia bersama lawannya.” (“’Idatush Shobirin”/hal. 21).
([11]) Pembagian kalam kepada hakikat dan majaz merupakan kebid’ahan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang pembagian itu: “… ini adalah pembagian yang baru yang bid’ah dan bertolak-belakang, karena sesungguhnya dia itu batil lebih dari empat puluh sisi.” (“I’lamil Muwaqqi’in”/3/hal. 186).
([12]) Akan datang definisi yang lain untuk makna fiqh menurut sebagian imam رحمهم الله dengan kehendak Alloh ta’ala.
([13]) Dan akan datang tambahan pembicaraan tentang hal ini di bab lain insya Alloh.
([14]) Al Imam Asy Syaukaniy –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Dan Ibnul Hammam berkata dalam “At Tahrir”: “Taqlid adalah beramal dengan ucapan orang yang perkataannya itu bukanlah salah satu dari jenis-jenis hujjah, tanpa memakai hujjah.” Dan definisi ini lebih baik daripada definisi-definisi yang sebelumnya.” (“Irsyadul Fuhul”/2/hal. 1082/cet. Darul Fadhilah).
([15]) Ibnul Atsir رحمه الله berkata: “Engkau harus setia dengan as sawadul a’zhom” yaitu: keseluruhan manusia dan mayoritas mereka yang bersatu untuk taat pada penguasa dan menempuh jalan yang lurus.” (“An Nihayah Fi Ghoribil Hadits Wal Atsar”/hal. 419).
([16]) Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata tentang tafsir: “Dan barangsiapa ingin ilhad di situ”: “Yaitu: Dia berkeinginan untuk melakukan perkara yang menjijikkan dari kemaksiatan yang besar.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/5/hal. 441).
([17]) Beliau dibunuh oleh Rofidhoh –semoga Alloh melaknat mereka- dalam pemberontakan keenam.
([18]) Dan dengan latihan ini, jadilah fiqh itu sebagai karakter dirinya, dan dengannya dia berhak untuk dinamakan sebagai faqih. Al Imam Abu Zur’ah Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata: “… Dikarenakan faqih adalah isim fa’il dari fiqh, yaitu: jadilah fiqh itu karakter bagi dirinya, dan sifat ini tidak dihasilkan bagi orang yang hanya memiliki sedikit fiqh.” (“Al Ghoitsul Hami’”/3/hal. 870/cet. Al Faruq).
([19]) Saya berkata –dengan taufiq dari Alloh-: yaitu: pemilik keyakinan tadi telah memastikan bahwasanya perkara yang diyakininya tadi itulah yang mencocoki kenyataan, sehingga tak mungkin hilang dari hatinya. Adapun jika dia mendapati setelah itu bahwasanya kenyataannya berbeda dengan itu, maka hilang dan berubahlah apa yang diyakininya tadi. Wallohu a’lam.
([20]) Sanad ini tidak shohih dari Nabi صلى الله عليه وسلم . Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (559), Al Khoroithiy dalam “Makarimul Akhlaq” (355), dan Ath Thobroniy dalam “Al Ausath” (8991), semuanya dari jalur Abdulloh ibnul Mubarok, dari Kholid Al Hadzdza, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما .
Zhohir sanadnya shohih, akan tetapi para huffazh mengkritiknya.
Ibnu hibban رحمه الله berkata: “Ibnul Mubarok tidak meriwayatkan hadits ini di Khurosan. Beliau hanya meriwayatkannya di Darbirrum, maka penduduk Syam mendengar hadits tadi dari beliau. Dan tidaklah hadits ini di dalam kitab-kitab Ibnul Mubarok itu marfu’ (sampai ke Nabi صلى الله عليه وسلم ).” (“Shohih Ibni Hibban”/2/hal. 320).
Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dan Al Hakim dan beliau menshohihkannya dari hadits Ibnu Abbas secara marfu’. Al Hakim berkata: “Ini sesuai syarat Al Bukhoriy.” Tetang keshohihannya perlu diteliti lagi, dan dia itu punya ‘illah (penyakit tersembunyi) yaitu: Bahwasanya Al Walid bin Muslim meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas dan Anas.
Adapun hadits Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Ibnul Mubarok dari Kholid al Hadzdza dan Ikrimah dari Ibnu Abbas. Dalam keadaan Ibnul Mubarok menceritakan hadits ini pada Al Walid di Darbirrum, dan kitab-kitab beliau saat itu tidak bersama beliau, sementara hadits tadi di dalam kitab-kitab Ibnul Mubarok tidaklah marfu’, dan beliau tidak menceritakan hadits (marfu’) ini di Khurosan.
Ash Shoirofiy berkata: Sekelompok ahli hadits meriwayatkan dari Al Walid, dan dari Nu’aim juga, dari Al Walid. Dikatakan: dari Nu’aim dari Ibnul Mubarok. Dan mereka mentaswiyyahnya (menghapus Al Walid) karena Nu’aim telah mendengar hadits dari Ibnul Mubarok juga. Hanya saja hadits ini didengar Nu’aim dari Al Walid dari Ibnul Mubarok. Ini dikatakan oleh Al Hafizh Abu Musa Al Madiniy.
Ibnu Abis Sari berkata: dari Al Walid yang berkata: “Kami pernah bersama Ibnul Mubarok di negri Rum, lalu kami saling mengingatkan dengan Ummul Kitab. Lalu Ibnul Mubarok menceritakan pada kami hadits tadi.” Dan tidak ada yang meriwayatkan dari Kholid Al Hadzdza selain Ibnul Mubarok. Ibnu Hisyam ibnu ‘Imad telah meriwayatkan dari Al Walid dari Nabi صلى الله عليه وسلم secara mursal. Dan dikatakan: sesungguhnya riwayat (mursalah) inilah yang benar.” (selesai dari “Al Laalil Mantsuroh Fil Ahaditsil Masyhuroh”/karya Az Zarkasyiy/hal. 80).
Muhammad bin Thohir Al Maqdasiy رحمه الله berkata: “Pada asalnya hadits ini mursal.” (“Dzakhirotul Huffazh”/2/hal. 1126).
adapun jika digabungkan dengan beberapa hadits lain, maka makna hadits ini terangkat menjadi hasan lighoirih.
([21]) Saya katakan –dengan taufiq dari Alloh- : adapun tabarruk dengan mereka, maka perlu diperiksa lagi. Terkadang Alloh menjadikan keberkahan pada seorang mukmin. Akan tetapi tidak disyariatkan untuk mencari berkah dari jasad seseorang, kecuali jasad para Nabi عليهم السلام

Tidak ada komentar:

Posting Komentar